Tuesday, October 10, 2017

Mendaki Gunung Agung Bersama Para Legenda

gunung agung bali


Assalamu'alaikum wr. wb. semuanyaaaaa!!

Sebelumnya saya mohon maaf karena nggak pernah update lagi. Tahun 2017 blog ini benar-benar kek kuburan. Sampai bulan April saja saya cuma posting 4 tulisan. Eh setelah itu lebih parah lagi. Sejak April sampai Oktober ini saya nggak pernah posting apapun. 5 bulan berarti yah? Parah banget! Sampai-sampai ada komentar disalah satu tulisan yang bertanya sesuatu, saya baru jawab beberapa bulan setelahnya :( InshaAllah mulai saat ini saya tidak akan membiarkan blog ini terbengkalai lagi. Huhuhu.

Oke langsung saja saya mau bercerita pengalaman naik gunung lagi..

Berawal dari ajakan seorang teman, Hana, untuk ikut pendakian gunung bersama Kang Bongkeng yang diselenggarakan oleh Eiger. Mendengar ajakan itu saya langsung menyerbu teman saya dengan pertanyaan. Kapan eventnya? Mendaki di gunung mana? Biaya registrasinya berapa? Saya sangat antusias. Bagaimana tidak? Kang Bongkeng adalah seorang legenda hidup yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia pendakian gunung. Beliau merupakan anggota WANADRI dan sekarang berada dalam team EAST EIGER. Kesempatan untuk mendaki bersama beliau adalah hal yang langka, maka saat mendengar kabar tersebut seketika saya jungkir balik.

Kabar yang diperoleh teman saya ini ternyata dari adminnya EIGER, mbak Didy, namun baru sekedar bilang “eventnya nanti pertengahan bulan Mei di Gunung Agung”. Pas banget! Saya belum pernah ke Gunung Agung. Untuk tanggalnya menunggu publikasi resmi di social media EIGER. Selang seminggu teman saya kembali memberi kabar bahwa poster event mendaki Bersama kang bongkeng sudah muncul. Seketika saya langsung mencari informasinya di OA Instagram EIGER.

Gak pake lama, saya langsung registrasi. Eventnya sendiri pada tanggal 19 – 21 Mei 2017 lalu, hari Jum’at sampai Minggu. Saya dan Hana janjian berangkat bareng di hari kamisnya naik kereta ke Banyuwangi, terus estafet nyebrang ke Bali naik kapal pelni dan lanjut ngebus ke Denpasar. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Saya terancam batal ikut event akibat ada urusan kampus yang belum terselesaikan. Nggak mau rugi karena udah bayar biaya regist, saya tanya mbak Didy perihal ini. Dan untungnya mendaki Gunung Agung dilakukan di Sabtu pagi dan Jum’atnya itu camp di Embung Besakih dengan diisi materi tentang pendakian gunung. Hana tetap berangkat hari kamis sore dan dapat barengan dari Bangil, Om Juned. Sedangkan saya Jum’at sore baru berangkat dari Malang.

gunung agung bali
Eiger Sunset Road – Embung Besakih. Saya ditinggal :(

Singkat cerita dengan melewati segala rintangan, akhirnya saya sampai di Embung Besakih Sabtu jam 9 pagi. Saat itu masih dalam materi navigasi darat. Telat 1 jam saja saya bakal ketinggalan rombongan, karena jam 10 mulai berangkat mendaki Gunung Agung. Jujur saat itu saya masih capek. Setelah perjalanan panjang Malang – Besakih selama 18 jam non-stop, tubuh rasanya seolah mengajak istirahat untuk beberapa jam. Tapi saya harus mengikuti rangkaian acara yang telah terjadwal. Jeda 1 jam tersisa pun saya gunakan untuk packing ulang. Pupus sudah harapan untuk gogoleran sejenak. Heuheu. Saya hanya bisa berdoa semoga tubuh ini mampu untuk mendaki.

Ternyata bukan hanya Wa Bongkeng legenda pergunungan yang hadir disana. Hadir juga Kang Galih, Paimo, Kang Mamay dan Kang Kwecheng yang merupakan bagian dari team EAST EIGER. Yang tak diduga ternyata ada Ramon Y. Tungka! Luar biasa! Tema eventnya memang “mendaki bareng Kang Bongkeng”, tapi tak disangka banyak legenda lainnya. Bener-bener nggak rugi deh ikut event ini. Tapi yang bikin lebih kaget lagi adalah ketemu teman SMP yang semenjak lulus tak pernah berjumpa! Si Dik-dik urang Cikijing. Kenapa juga bisa ketemu di eventnya Eiger, di Bali pula. Ngakak! Haha!

gunung agung bali
Noh Bang Ramon

Sebelum mendaki, kami mendapat briefing dari panitia. Dari sekian banyaknya peserta (sekitar 50 orang), dibagi beberapa regu saat mendaki. Tiap regu berisi 8 – 12 orang, plus 1 orang guide. Jalur Embung Besakih ini jalur alternatif dari 2 jalur lainnya yaitu Pura Besakih dan Pura Pasar Agung. Menurut penuturan Bli Komang, guide kami, jalur Embung Besakih ini lebih singkat waktu perjalanannya. Saya pun terlarut dalam kata-katanya, lebih singkat waktu perjalanan = cepat sampai lalu tidur :D

gunung agung bali
Regu 3!
(dari kiri: Sherly, pacarnya sherly, Hana, Angie, Anin, Aing :D, Oma, Kang Galih & Bli Komang

Namun waktu perjalanan yang singkat pun ada konsekuensinya, jalurnya nanjak terus tanpa ampun! MasyaAllah! Mana badan belum sempat diistirahatkan. Langsung dibawa mendaki rasanya lebih baik turun lagi dan mending ngecamp di pantai. Heuheu. Awalnya sih semangat. Pake nyanyi-nyanyi lah. Nyemangatin teman satu regu yang diawal perjalanan sering minta break. Padahal mah saya juga butuh disemangatin. Hikz.

Regu saya berangkat ke – 3, selang 10 – 15 menit tiap regu. Pada 1 – 2 jam awal kami masih bareng terus. Tapi lama-kelamaan udah mulai kepencar-pencar. Yang jalannya cepet udah di depan nggak kelihatan. Saya paling belakang sendiri, nimbrung sama regu lain. Malah disalip sama Wa Bongkeng yang berangkatnya belakangan. Meski umur udah nggak muda lagi, jiwa dan semangatnya masih muda. Luar biasa uwa! Saya jadi isin euy. Pada suatu ketika, tahu-tahu saya sudah berada di rombongan terakhir bareng beberapa panitia yang jadi sweeper. Hahaha. Menyedihkan T_T

gunung agung bali
Break! Saya curi-curi kesempatan buat tidur :p

Medan yang dilalui dari Embung Besakih ini diawal vegetasinya cukup rapat. Jadi nggak langsung terpapar sinar matahari. Meski sebenarnya cuaca juga nggak panas-panas banget. Bahkan sesekali turun kabut. Adem. Bikin Ngantuk. Bawaannya pengen tidur :O

gunung agung bali
Hutan yang diselimuti kabut

Kecepatan mendaki saya benar-benar berada pada tempo yang sangat lambat. Nafas nggak beraturan. Irama langkah kaki ngaco. Banyak break. Banyak ngeluh pula. Parah pokoknya kala itu. Ketika yang lain sudah sampai area camp sekitar jam 3 – 5 sore. Sementara saya menikmati sunset di perjalanan bersama beberapa peserta lain yang jalannya kek keong juga. Untungnya medan sudah mulai terbuka, sehingga saya dapat menyaksikan sunset yang cantik.

gunung agung bali
Matahari mulai terbenam

Jam 18.30 saat hari sudah gelap, saya baru sampai di area camp. Ekspektasi memang kadang tak sesuai dengan realita. Awalnya saya berharap langsung geletak tiduran begitu sampai camp area. Tapi ternyata saya masih harus mencari lapak untuk mendirikan tenda. Hana dan beberapa teman satu regu yang lain sudah jaketan kedinginan menunggu saya karena tenda ada di carier saya. Hehehe. Maapkeun.

gunung agung bali
Semburat jingga penanda waktu senja

Setelah puter-puter cari lapak, ternyata tanah datar untuk mendirikan tenda sudah tak tersisa. Walhasil saya ingin turun lagi aja dan ngecamp di pantai! Heuheu! Daripada terlantar nggak jelas. Lalu kami memutuskan untuk berpencar dan nimbrung di tenda peserta lain. Dan alhamdulillah saya bersyukur banget salah satu peserta, Tony, mempersilahkan kami tidur di tendanya. Sedangkan dia sendiri join dengan teman 1 regunya. Aktivitas dilanjut makan bareng temen regu. Nikmatnya saya tinggal sedia piring saja, karena ada Oma, Hana, Sherly dan Anin yang punya kendali urusan dapur. Enaknya kalau naik gunung bareng cewek itu ada yang masakin. Seringnya saya naik gunung batangan semua, boro-boro ada yang masakin. Ujung-ujungnya masak sendiri, mana nggak ada bisa masak. Tapi kalau di gunung mah makanan kek gimana pun terasa enak kok. Betul betul? Setelah berjam-jam tertunda, akhirnya saya bisa meluruskan seluruh badan. Waktunya molooooor!

Keesokan paginya saya terbangun oleh teriakan Paimo, yang memang dari hari sebelumnya juga begitu katanya. Tukang bangunin peserta. Yang bikin ngakak, dia bangunin sambal teriak “TARAHU TARAHU TARAHUUU!”. Udah kek mamang-mamang yang lagi jualan tahu. Ngakak lah pokoknya kalau inget moment ini.

30 menit setelah dibangunin Paimo, tepatnya jam 4.30 kami sudah siap untuk melakukan summit attack! Nggak seperti saat awal keberangkatan yang loyo banget, kala itu saya lumayan fresh karena sudah melampiaskan rasa lelah dengan molor beberapa jam. Ditengah gelap dan dinginnya malam, kami seluruh peserta dan panitia mendaki menuju Puncak Gunung Agung. Bismillahirrohmanirrohim!

Perjalanan menuju puncak cukup singkat namun sangat menguras tenaga karena medannya yang nanjak terus! Ya sama seperti gunung lainnya, kalau udah deket puncak nanjaknya kek gimana. 1,5 jam yang saya butuhkan untuk sampai di puncak dan disambut oleh golden sunrise yang sungguh-sungguh EPIC! Warna kuning kemerah-merahan serta paparan hangat sinarnya selalu saya rindukan tiap kali mendaki gunung.

gunung agung bali
EPIC!

Puncak sudah dipenuhi oleh antrian peserta yang ingin foto bareng Wa Bongkeng, sang legenda pergunungan Indonesia. Ini kesekian kalinya saya bertemu Wa Bongkeng, tapi untuk pertama kalinya dapat mendaki bersama beliau. Saya sungguh kagum pada beliau. Di umur yang sudah tidak muda lagi, dia tetap menggeluti hobinya dikegiatan outdoor. Meski tidak berkata secara langsung, beliau membuktikan dan seolah berujar bahwa kalau ada kemauan, umur bukanlah batasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Apalagi hobi. Asal semangat tetap terjaga, mimpi itu dapat diraih. Tentu dengan disertai usaha dan do’a. Push your limit!

gunung agung bali
Di puncak bareng Wa Bongkeng

Wa Bongkeng memang luar biasa. Sehat selalu uwa, tetap menginspirasi!

Dokumentasi lainnya:

gunung agung bali
Memandang Gunung Batur

gunung agung bali
Banyak banget kan yang ikut

gunung agung bali
Kalau ini pas lagi turun

gunung agung bali
Indonesia si Negeri Dongeng :D


gunung agung bali
Makbar penutup acara

Dokumentasi dari Bang Wildan, Jurnalis Metro TV yang ikut event 

Saturday, April 15, 2017

Menikmati Bromo Dengan Cara Berbeda

gunung bromo

Siapa sih yang nggak tahu Bromo? Banyak deng. Tapi sebagian orang pasti hapal gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tersebut. Gunung Bromo adalah salah satu destinasi wisata di Jawa Timur yang paling populer, bahkan ketenarannya sudah menyebar ke mancanegara. Hal itu terlihat dari wisatawan asing yang banyak berseliweran di taman nasional tersebut.

Hingga saat ini sudah 3 kali saya traveling ke Gunung Bromo. Dua kesempatan sebelumnya pernah saya ceritakan disini. Nah pada kesempatan ketiga ini saya traveling ke Gunung Bromo dengan cara yang berbeda. Sebelumnya saya selalu berangkat pada malam hari untuk mengejar sunrise di Pananjakan 1, lalu turun ke lautan pasir saat matahari sudah naik. Kalau kali ini saya berangkat sore hari dan bermalam disana. Yes, camping! Di Bromo! :D

gunung bromo
Selfie dulu di Jemplang

Bersama 2 orang teman, Deni dan Ina, kami berangkat lewat jalur Tumpang – Jemplang – Bromo. Jalur yang sama kalau mau ke Ranu Pani, tapi terpisah saat memasuki Jemplang. Dengan memacu kuda besi, kami sampai di lautan pasir ketika matahari mulai tenggelam.

gunung bromo
Senja

Saat di lautan pasir kami diberhentikan oleh seorang bapak yang mengendarai motor. Lalu terjadilah perbincangan antara Deni dan bapak tersebut seperti ini:

Bapak : “Mau kemana mas?”
Deni : “Mau camping pak.”
Bapak : “Kalau camping di atas mas, di camping ground. Nggak boleh kalau di sini.”

Camping ground yang dimaksud yaitu di sekitar Pananjakan 2, Probolinggo. Yap, saat itu kami berada di dekat jalur Probolinggo.

Deni : “Emang kenapa pak?”
Bapak : “Ya emang nggak boleh, nanti jam 7 malam biasanya ada petugas yang sweeping buat ngecek.”

Saya mikir, masa iya ada yang mau ngecek malam-malam di Bromo yang luasnya sebesar itu. Lalu belum sempat kami menjawab, dia lanjut lagi.

Bapak : “Nanti saya guide-in lewat jalur tikus buat ke atas, 100 ribu aja. Soalnya kalau lewat jalur biasa nanti kena tiket lagi. Mbaknya pindah motor saya, soalnya motor bebek nggak bakal kuat kalau boncengan.”

Buset ini orang ngomong apaan, tambah mencurigakan aja. Merasakan banyak keanehan dari yang dicuapkan bapak tersebut, kami menolaknya dan langsung pergi.

Deni : “Maaf nggak deh pak, kita mau camping disini aja.” Sambil gasss pergi.
Paham apa maksud dan tujuan si bapak dari perbincangan tersebut? Okeh, simpulkan aja sendiri ya! Perbincangan tersebut intinya seperti itu, saya tidak mengada-ngada. Serius!

gunung bromo
Pindah tidur ke sini

Setelah bertemu dengan bapak itu kami lanjut lagi mencari lapak untuk mendirikan tenda. Kami menyusuri jalan di lautan pasir diantara Pananjakan 1 dan Pananjakan 2 seperti yang saya baca di salah satu blog orang. Karena disekitar situ memang tempat yang cocok, banyak rumput, banyak pohon dan berdiri Bukit Pananjakan yang tinggi menjulang yang menahan kami dari terpaan angin malam. Selain itu, tepat dihadapan kami langsung berupa panorama Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Ketika sedang mendirikan tenda, seseorang datang menghampiri kami. Dia adalah seorang bapak-bapak yang berasal dari Wonokitri. Dari beliau kami mendapatkan jawaban yang berbanding 180 derajat dari bapak yang sebelumnya menawarkan diri sebagai guide. Bapak tersebut mengatakan bahwa tidak masalah kalau mau camp di Bromo karena dari pihak pengelola sendiri tidak ada aturan tentang larangan seperti itu. Nah loh?

Namun bapak itu menambahkan, sebaiknya camping di area camp ground yang sudah disediakan. Di Bromo memang aman, tidak ada apa-apa, tapi takutnya ada mobil hardtop yang nyasar. Loh kok bisa? Jadi gini, tahu kan kalau di Bromo itu sering turun kabut? Nah saat kabut turun apalagi malam hari, jarak pandang otomatis pendek, takutnya mobil-mobil tersebut nyasar ke arah kami. Apalagi posisi kami memang dekat dengan jalur dari Probolinggo. Tapi tenang pak, kami mendirikan tenda di pojokan dekat pohon-pohon. Jadi kalau ada hardtop nyasar ya bakal nabrak pohon dulu. :))

gunung bromo
Hati-hati hardtop nyasar :D

Setelah berbincang beberapa saat, bapak itu pamit untuk pulang. Kami berterima kasih karena sudah diberi saran olehnya. Beliau nggak maksa atau nyuruh kami untuk camp di Pananjakan 2. Dan kami pun tetep kekeuh pengen camp di Bromo saja.

Malam di Bromo yang saya ekspektasikan adalah sunyi, tentram dan damai. Karena jarang ada camp di sana pikir saya. Eh, namun realitanya nggak seperti itu. Sebab sepanjang malam banyak orang berseliweran mengendarai motor/mobil dari jalur Pasuruan ke arah jalur Probolinggo. Entah ada apa. Mungkin habis menonton Ogoh-ogoh di Wonokitri seperti yang sempat dibilang oleh bapak yang menghampiri kami. Karena saat itu kami camp satu hari sebelum hari raya Nyepi. Yah meski banyak yang begitu, tapi tidak terlalu mengganggu karena jaraknya yang lumayan jauh dari tenda kami. Sehingga suaranya tidak terlalu bising.

gunung bromo
Langit malam Bromo

Semakin malam, satu per satu bintang pun mulai bermunculan. Jauh dari kota, polusi cahaya yang minim, langit yang cerah dan dengan bantuan aplikasi stellarium merupakan rumus utama untuk mendapatkan milky way! Yup, malam itu kami melihat milky way! Tanpa babibu, saya dan Ina langsung menyetting kamera untuk hunting. Sementara Deni lagi pewe ngopi di depan tenda sambil nyemil dan main hp. Btw jaringan internet disana H+. Syahdu lop pokoknya mah malam itu meski rada tiris. Sisa malam kami habiskan dengan berbincang sambil nyemil hingga rasa kantuk merasuki.

gunung bromo
Hotel Bintang 1000

Keesokan paginya saya terbangun oleh suara hardtop lewat. Sejak semalam kendaraan yang lewat tak ada hentinya, suaranya cukup mengganggu. Namun, untungnya rasa kantuk sangat kuat sehingga saya bisa terlelap. Ketika saya keluar tenda, hawa masih terasa dingin. Matahari baru saja terbit, akan tetapi posisi kami tidak kena cahaya matahari karena terhalangi Bukit Pananjakan.

gunung bromo
Masih pagi

gunung bromo
Foto-foto terusss

gunung bromo
Balapan Kuda

Niat hati mau mendaki Gunung Batok, gunung yang berada tepat di samping Bromo, menguap begitu saja. Rasanya malas sekali kalau harus packing sepagi itu. Sementara kalau mendaki pada siang hari, rasa-rasanya bakal terasa panas banget. Pada akhirnya kami lebih memilih untuk berleyeh-leyeh kembali. Dan memutuskan untuk membuat sebuah video yang ketika malamnya telah kami rencanakan. Berikut videonya.


Videonya ini belum terkonsep, kami hanya mengambil gambar secara random. Jadi yah seperti itulah adanya :))

Demikian cerita perjalanan saya ke Bromo yang ketiga kalinya. Dibanding perjalanan sebelumnya yang selalu explore berbagai sudut keindahan Bromo, kali ini saya menikmati Bromo dengan cara yang berbeda. Yaitu kemah dan leyeh-leyeh. Sekian :v

Sunday, April 9, 2017

Bikin Paspor Mudah dan Cepat? Online Saja!


Selepas tahun 2017 ini kalau dilihat secara statistik jumlah tulisan saya menurun drastis. Hingga April (empat bulan jalan) saya baru meluncurkan 2 tulisan saja. Bukannya saya udah jarang traveling sehingga nggak ada yang bisa diceritain. Traveling tetep jalan, tapi faktor malas nulis dan ada kesibukkan lain yang membuat blog ini terbengkalai. Maka dari itu saya mohon maaf karena jarang update blog belakangan ini ☹ heuheuheu..

Oke.. kali ini saya bukan mau posting tentang cerita perjalanan saya, tapi saya mau berbagi sedikit pengalaman. Jadi awal bulan Maret ini saya sempat traveling ke luar negeri, tepatnya ke negara tetangga yang masih satu rumpun melayu dengan Indonesia. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu nih, hal yang paling diperlukan untuk jalan-jalan ke luar negeri itu apa sih? Kalau duit mah udah pasti kan ya. Paspor! Yap, paspor diperlukan sebagai identitas diri saat berpergian ke luar negeri. Nah kali ini saya mau membahas pengalaman saya saat membuat paspor secara online.

Seperti kita tahu, untuk membuat paspor harus mengurusnya ke kantor imigrasi. Satu yang perlu diingat, kantor imigrasi di daerah mana pun akan selalu ramai! Ya saya bold, selalu ramai! Buat yang nggak suka ngantri dan lama menunggu (itu saya :v), hal ini adalah sebuah mimpi buruk. Bayangkan saja, kalau kita daftar secara offline dengan datang langsung ke kantor, antriannya bakal mengular. Apalagi kalau datangnya siang, jangan harap dapat giliran. Wong yang datang dari jam 4 pagi aja (kantornya aja belum buka cuy) kebagiannya lama. Tapi setahu saya ada kuotanya, sehingga per harinya terbatas.

Tuh kan rame (sumber foto disini)

Nah saya mau cerita aja nih waktu saya bikin paspor. Kalau mau tahu langkah-langkah gimana cara bikinnya tanya aja ke mang google, ketik dengan kata kunci “cara membuat paspor online” atau sejenisnya lah. Nanti banyak tuh website yang kasih tahu caranya. Cari yang paling lengkap informasinya, jelas dan enak dibaca!

Jadi saya bikin paspor itu bulan Januari 2017 lalu. Caranya daftar dulu secara online di website imigrasi.go.id, ngisi formulir yang berhubungan dengan identitas diri gitu. Setelah selesai ngisi formulir saya dapat email berupa surat pengantar ke bank. Itu kalau mau bayar lewat bank. Karena saya bayar lewat ATM, jadi nggak pakai begituan. Harga untuk paspor 48H dipatok Rp. 355.000 yang berlaku selama 5 tahun.

Halaman ke-48

Setelah melakukan pembayaran, saya buka lagi websitenya imigrasi untuk verifikasi pembayaran. Kemudian tinggal pilih jadwal untuk proses foto dan wawancara dari daftar yang tersedia. Kantor kanimnya sendiri sesuai yang dipilih saat proses mengisi formulir. Kalau saya sendiri karena di Kuningan Jawa Barat nggak ada kantor imigrasi, saya harus pergi ke Cirebon sebagai kantor kanim terdekat.

Pada hari H jadwal foto + wawancara saya nggak buru-buru berangkat ke kantor imigrasi. Pada jadwal yang saya dapat di email, waktu yang tercantum mulai dari jam 9 pagi. Seingat saya sih, lupa euy. Jadilah saya berangkat jam 8 dan sampai kantor jam 9 lebih lah. Setibanya disana, wuihhh seperti yang saya dengar dari orang-orang, kantornya rameee banget!

Saya bertanya-tanya untuk pemohon yang mendaftar secara online. Lalu saya dihadapkan pada seorang pegawai yang jutek abis. Saya diminta untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, tapi caranya dia minta dan ngomong itu jutek, buaaanget. Nggak cuma ke saya, tapi ke pemohon yang lain juga. Kzl! Setelah menyerahkan berkas ke mbak yang jutek itu, saya dapat nomor antrian. Perlu diingat, antrian yang saya dapat ini untuk pemohon yang daftar secara online. Jadi beda sama antrian pemohon yang langsung datang ke kantor.

Ketika melihat nomor antrian, selisih nomor saya dengan nomor antrian yang sedang diproses hanya selisih belasan angka. Nggak sampai dua puluh. Awalnya saya pikir selisih segitu cuma nunggu sebentar, paling lama 1 jam lah. Eh ternyata nggak, 1 orang aja bisa sampai 20 menit. Alhasil saya yang nunggu dari jam 9, baru dapat giliran jam 1 siang. Dengan catatan jam 12 sampai jam 1 break dulu pelayanannya.

Perihal proses wawancaranya hanya sebentar, nggak sampai 5 menit. Pertanyaan yang diajukan seputar tujuan untuk bikin paspor itu apa, kalau saya jawabnya untuk traveling. Lalu ditanya sama siapa dan berapa lama. Saya juga sempat diminta kartu tanda mahasiswa ketika saya menjawab status saat ini adalah mahasiswa. Gitu doang sih, nggak ada pertanyaan-pertanyaan yang aneh dan spesifik. Setelah wawancara, proses selanjutnya adalah foto dan scan sidik jari. Proses selesai dan tinggal ambil paspor dalam waktu 3 hari ke depan! :D

Untuk pengambilan paspor nggak pakai lama, tinggal menyerahkan lembaran yang diberikan saat proses wawancara pada loket khusus untuk ambil paspor. Setelah itu nunggu sekitar 10 menit dan paspor pun bisa dibawa pulang :))

Ada loketnya sendiri (sumber foto disini)

Yah, seperti itu kiranya ketika saya bikin paspor secara online. Emang sih agak ribet harus buka website dan isi form ini itu. Tapi kalau menurut saya itu lebih baik dari pada langsung datang ke kantor imigrasi dan menungggu selama berabad-abad. So, mau bikin paspor? Online aja! Tapi kalau mau secara offline juga nggak apa-apa sih, asal jangan ke calo!

Okeh gitu aja, thanks guys :D

Monday, February 20, 2017

Mendaki Gunung Buthak #2: Bertemu Penunggu Savanna Buthak!

savanna buthak

Hari kedua Pendakian Gunung Buthak diawali dengan cuaca yang cukup bersahabat. Setelah semalaman diterjang hujan dan angin gelebug, kini cuaca begitu mestakung. Semesta Mendukung!
Di hari sebelumnya kami telah mendaki sekitar 5 jam perjalanan. Sehingga estimasi waktu perjalanan ke Savanna Buthak yang membutuhkan waktu 8 jam kira-kira dapat ditempuh sekitar 3 jam lagi. Oleh karena itu, kami tidak terburu-buru melanjutkan perjalanan. Yang artinya, kami leyeh-leyeh dulu di camp. Hehehe!

Pagi itu kami hanya mengisi tenaga dengan sarapan beberapa potong biskuit dan roti saja. Faktor air menjadi pertimbangan. Persediaan air yang kami bawa tinggal sedikit. Kalau kami gunakan untuk masak, kami bakal kekurangan air saat di perjalanan ke savanna. Mana masih 3 jam perjalanan lagi, cukup berat dengan medan yang menanjak seperti ini.

Ketika waktu menunjukkan jam 10 lebih 30 menit, kami baru memulai pendakian. Seperti hari sebelumnya, sepanjang pendakian kami hanya ditemani oleh orkestra musik yang berasal dari alam. Suara hembusan angin (bukan angin gelebug), suara burung yang saling bersautan hingga suara sejenis kera yang terdengar dari kejauhan. Tak ada pendaki lain yang kami temui.

Perjalanan semakin berat ketika medan terus menanjak dan persediaan air kami mulai menipis. Sungguh, medan yang berat ditambah cuaca yang cukup panas membuat saya begitu dehidrasi. Ingin sekali rasanya meminum habis 1 botol minum pada satu tegukan. Namun saya harus berhemat air, karena perjalanan masih panjang.

savanna buthak
Mulai lelah

Bu Risma alias Mbak Rara memanjatkan do’a ketika kami sedang berada di kondisi haus dan lapar namun serba salah kalau mau makan atau pun minum. Mau minum tapi lagi berhemat. Mau makan nantinya malah seret dan ujung-ujungnya harus minum juga. Tak lama setelah Bu Risma berdo’a, kami menemukan harta karun! Dan ini bukan harta karun sembarangan, karena ini mempengaruhi keberlangsungan pendakian kami.

Setelah berjalan cukup lama, kami menemukan ciplukan. Itu lah yang menjadi harta karun bagi kami. Kami menemukan pengganti makan dan minum dalam satu paket. Namanya juga buah, kan berair tuh. Sehingga rasa lapar dan haus sekaligus bisa terkendali. Mulai dari situ hingga sepanjang perjalanan ke savanna, kami menemukan banyak pohon ciplukan meskipun kebanyakan buahnya belum matang. Tapi yang masih mentah pun tetap saya lahap saking ketagihannya. Meski rasanya asem-asem seger gimana gitu. Hahaha! Kalau yang matang rasanya manis kok.

savanna buthak
Penampakan ciplukan, buahnya ada di dalam

Sesaat sebelum mendaki tanjakan terakhir, kami akhirnya bertemu sekelompok pendaki yang turun. Mereka memberitahu kami bahwa savanna sudah dekat. Hanya tinggal melewati satu tanjakan terakhir, dan disitulah savanna Buthak berada. Btw, ternyata mereka mendaki di hari yang sama dengan kami. Mereka berkata melewati camp kami saat malam hari. Tapi saya, Bu Risma maupun Bang Gethuk tak menyadarinya. Yah, mungkin mereka lewat saat kami sudah tidur. Mungkin.

Tak lama setelah mendaki tanjakan pamungkas, kami melewati jalan setepak yang kanan kirinya adalah pohon edelweiss. Namun pohon edelweiss tersebut tidak berbunga, mungkin karena belum musimnya. Dan ketika keluar dari kawasan edelweiss, sampailah kami di savanna! Saya senang bukan kepalang! Selain karena itu adalah target kami yang gagal di hari sebelumnya, pemandangannya sungguh mengagumkan. Sebuah savanna di dekat puncak yang dikelilingi oleh hutan. What a wonderful savanna!

savanna buthak
That’s so awesome, huh?

Namun dibandingkan target yang tercapai atau panorama savanna, yang paling saya syukuri adalah keberadaan sumber air! Sumber air yang melimpah menjadi berkah tersendiri bagi kami yang sepanjang perjalanan dilanda penyakit lapar dan haus. Begitu sumber air su dekat, saya langsung mengisi botol dan minum air sampai kembung. Huahahaaa… balas dendam.

savanna buthak
Airnya melimpah, katanya sih nggak bakal habis

Rencana awal kami mendaki 2 hari 1 malam bertambah menjadi 3 hari 2 malam akibat di hari sebelumnya kami bermalam di tengah perjalanan. Untungnya logistik yang kami bawa cukup banyak. Malah kami inginnya nambah lagi menjadi 4 hari 3 malam kalau logistiknya memenuhi. Selain itu suasana yang sepi pendaki menjadikan savanna itu sungguh nyaman.

savanna buthak
Ipok dulu sam!

Kami mendirikan tenda di dekat sumber air. Selagi saya dan Bang Gethuk membangun camp serta Bu Risma bagian memasak, saya baru menyadari kalau bukan hanya ada kami bertiga di sana saat itu. Rupanya di dekat situ ada penghuninya yang sudah lama tinggal! Sungguh saya nggak berbohong! Saya tidak menduga bakal bertemu dengan penunggu Savanna Buthak. Mereka ada banyak, mungkin sebuah keluarga. Rumah mereka berada di dekat sumber air, tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Mereka berlarian dengan sangat cepat. Pandangan saya bahkan tak bisa mengikutinya. Perawakan mereka kecil. Memiliki ekor dan tubuhnya berbulu. Ya iya atuh, da mereka teh keluarga tikus euy! Hehehe…

Hari itu kami habiskan dengan bersantai di savanna. Istirahat satu malam untuk esoknya melakukan summit attack ke puncak Buthak yang hanya butuh sekitar 30 menit perjalanan saja dari savanna. Malamnya ketika kami hendak beristirahat, kami kedatangan 2 pendaki lain yang berasal dari Kediri. Akhirnya kami tidak hanya ditemani oleh keluarga tikus :))

savanna buthak
Sisa makanan jadi jatah keluarga tikus

Besoknya, sekitar jam 5 pagi kami mulai mendaki ke puncak Buthak. Hanya kami bertiga yang naik. Sedangkan 2 orang pendaki dari Kediri memilih menunggu cuaca cerah. Ya, pagi itu meski matahari sudah mulai muncul. Namun sinarnya terhalang oleh awan. Cuaca pagi itu berkabut. Namun kami tetap memutuskan untuk muncak, siapa tahu kalau sudah sampai puncak cuaca aka membaik.

puncak buthak
Hutan sebelum puncak

Perjalanan ke puncak cukup cepat. Seperti yang dikatakan orang-orang. Setelah 30 menit mendaki, kami sampai di Puncak Buthak! Di puncak kami hanya bisa melihat layar putih berukuran raksasa di sekeliling kami. Ya, kabut! Meski begitu kami tetap bersyukur karena berhasil sampai ke salah satu puncak dari Pegunungan Putri Tidur ini. Berfoto dititik triangulasi dengan papan yang bertuliskan G. Buthak 2868 mdpl merupakan selebrasi kecil yang dapat kami lakukan sebagai hasil perjuangan kami sampai ke puncak.

puncak buthak
Puncak Buthak!!!!!

puncak buthak
#supportaksa7

puncak buthak
Big white screen

Berharap cuaca membaik, kami memutuskan menunggu di puncak sambil ngopi dan berkeliling di sekitar puncak. Namun setelah 2 jam menunggu, kabut tetap menyelimuti Buthak. Ditambah air yang jatuh dari kabut tersebut membasahi pakaian kami, lama-kelamaan hawanya menjadi dingin. Karena cuaca yang tak kunjung cerah, kami memutuskan untuk turun kembali ke camp.

Sekitar 2 – 3 rombongan pendaki berdatangan tak lama setelah kami turun dari puncak. Niat hati mau camp semalam lagi, kami urungkan karena suasana pastinya bakal semakin ramai. Sesuai dugaan saya, mau Panderman mau Buthak, saat weekend tiba keduanya sama-sama akan ramai dikunjungi pendaki. Apalagi ketika kami melakukan perjalanan turun, kami bertemu buuaaanyak banget rombongan pendaki yang naik menuju Buthak.

Yah, meski begitu semoga saja para pendaki tersebut sadar akan keberadaanya di gunung. Bahwa gunung bukanlah sekedar tempat bagi mereka untuk menikmati keindahan alamnya saja, lebih dari itu mereka harus menjaga dan melestarikannya juga.

savanna buthak
Banyak sarang spiderman pas ke puncak

savanna buthak
Hayo dari semak-semak abis ritual ya

savanna buthak
Buthak suante sayang


savanna buthak
Kabut tipis turun pelan-pelan

Thursday, February 2, 2017

Mendaki Gunung Buthak #1: Terhindar dari Hujan dan Angin Gelebug

Hai good people!! Selamat tahun 2017!
Sebulan lebih euy saya nggak posting tulisan. Maklum, belakangan ini saya lagi agak sibuk. Sibuk jalan-jalan maksudnya. Hehehe! Biasa nih penyakit malas nulis menghampiri. Jadi cuma jalan-jalannya doang tapi nulis kagak. Yang gini emang yang bahaya. Membahayakan keberlangsungan blog saya. Heuheuheu..

gunung buthak malang

Belakangan ini sebenarnya saya cukup sering jalan. Tapi ya itu tadi, penyakit malas nulis itu yang bikin blog ini belum update tulisan lagi sejak terakhir pertengahan Desember lalu. Nah, kali ini saya mau share cerita pengalaman saya sewaktu naik gunung sebagai pembuka di tahun 2017!

Awal Desember tahun lalu, tepatnya tanggal 8 – 10 Desember, saya mendaki salah satu gunung dari Pegunungan Putri Tidur, yakni Gunung Buthak. Bagi sebagian orang, mungkin gunung ini tidak terlalu dikenal. Tapi bagi yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, gunung ini sedang menjadi primadona.

Ketika gunung lain yang lebih populer di Jawa Timur seperti Semeru, Arjuna – Welirang atau Argopuro sedang ramai-ramainya, Gunung Buthak menjadi pelarian para pendaki yang mencari suasana yang relatif sepi. Meski pada akhirnya Gunung Buthak pun kini mulai banyak dikunjungi.

gunung buthak malang
berangkat!

Pendakian ini sebenarnya rada dadakan dan sebelumnya juga nggak pernah kepikiran untuk mendaki ke Gunung Buthak. Kesempatan itu tiba-tiba saja muncul saat salah satu warriors aksa 7 (buat yang belum tau aksa 7 itu apa bisa lihat tulisan saya sebelumnya atau kepoin ig-nya @aksa7) yang berasal dari Banyuwangi datang ke Malang. Sebut saja dia Mas Gethuk. Dan satu orang lagi juga warriors aksa 7 dari Banyuwangi, yakni Mbak Rara atau biasa dipanggil Bu Risma karena kemiripannya dengan walikota Surabaya tersebut. Baik dari wajah maupun body-nya. Hahaha!

Kami memilih jalur dari Batu yang sekaligus jalur pendakian Gunung Panderman. Selain dari Batu, untuk ke Buthak ada juga jalur Sirah Kencong (Blitar), Desa Wonosari (Kepanjen) dan Desa Gading Kulon (Dau). Kala itu kami mendaki pada hari kerja, yakni hari kamis sehingga tak banyak orang yang mendaki. Hal itu saya simpulkan berdasarkan sepeda motor yang terparkir dapat dihitung oleh jari. Karena kalau saat weekend, biasanya parkiran akan penuh oleh para pendaki. Membludak sampai tumpah-tumpah. Huft.

gunung buthak malang
ipes sam!

Terdapat banyak perubahan dari pos perizinan Panderman saat saya ke sana. Terakhir kali saya mendaki Panderman di bulan Maret 2016, pos perizinan berada di rumah paling ujung dari desa, tepat sebelum jalan paving. Namun sekarang dipindah agak ke atas lagi. Begitu juga dengan parkirannya. Selain itu terdapat beberapa warung berdiri dan Rumah Kayu sebagai pos perizinan.

gunung buthak malang
ada beginian

gunung buthak malang
rumah kayu

gunung buthak malang
check point cenah

Kalau menurut saya medan ke Buthak mirip-mirip seperti ke Panderman. Vegetasinya cukup rapat dan terkadang agak terbuka. Selain itu tanjakannya juga maknyus. Mirip lah pokoknya sama Panderman, wong masih satu pegunungan. Bedanya, kalau ke Panderman bisa ditempuh sekitar 2 jam. Kalau ke Buthak mah empat kali lipatnya. Iya 4 kalinya Panderman alias 8 jam! Heuheuheu…

Rencana awalnya kami akan mendaki hingga savanna dan mendirikan tenda di sana. Namun saat di lapangan realita tak sesuai dengan ekspektasi. Setelah 5 jam perjalanan, kondisi fisik mulai menurun dan hari pun sudah gelap. Kami memutuskan untuk bermalam di area datar yang cukup luas. Saya berpikir kalau itu pos, tapi nggak ada yang menunjukkan bahwa di situ adalah pos. Katanya sih di Buthak ada 5 pos sepanjang perjalanan sampai ke savanna. Namun saya nggak menemukan 1 pun. Sebenarnya ada beberapa tempat yang cukup luas dan saya beranggapan bahwa itu merupakan pos meski nggak melihat ada tandanya.

gunung buthak malang
Tuh tanjakannya

gunung buthak malang
nanjak lagi

gunung buthak malang
jauh euy

Keputusan kami untuk bermalam ketika itu merupakan keputusan terbaik yang kami pilih. Karena sesaat setelah kami mendirikan tenda, air mulai berjatuhan dari langit. Ya, hujan! Setelah seharian cuaca begitu mestakung (semesta mendukung), awan yang melayang di langit bocor dan menumpahkan isinya ke bumi.

Rasa syukur saya panjatkan karena kami telah berada di dalam tenda ketika hujan yang udah mah deras kemudian disusul oleh angin yang berhembus cukup kuat. Untungnya lagi kami sudah keluar dari hutan yang rapat dengan pohon-pohonnya yang tinggi. Bukannya apa-apa, dari dalam tenda saya mendengar suara angin begitu menderu, saya khawatir dengan kencangnya angin mungkin saja mampu merobohkan pohon.

gunung buthak malang
bisi rubuh gini, paur euy

Manusia memang hanya dapat merencanakan, namun Allah lah yang menentukan. Ketika kami berencana untuk mendaki sampai savanna, Allah menunjukkan yang terbaik bagi kami. Dengan kondisi tubuh yang menurun, hari yang sudah gelap hingga hujan badai yang terjadi menjadi pertimbangan kalau mendirikan camp saat itu adalah pilihan terbaik. Entah apa yang terjadi jika kami memutuskan untuk lanjut mendaki. Selain basah, kami juga mungkin akan kedinginan.


Pada pendakian ini posisi juru masak diberikan kepada ibu walikota, Bu Risma. Doi yang menyiapkan setiap kali waktunya makan. Saya sama Mas Gethuk mah modal perut lapar dan tinggal makan saja pokoknya mah. Hehehe! Sementara di luar angin hujan begitu ngagelebug, kami memutuskan tidur lebih cepat. Selain mata yang sudah tunduh banget, kami perlu mengembalikan kondisi tubuh untuk melanjutkan pendakian esok harinya.

gunung buthak malang
ngambil napas dulu

Bersambung...