Friday, February 19, 2016

Terdampar di Kedamaian Telaga Taman Hidup

Danau di atas gunung memang mempunyai keunikannya tersendiri, nggak banyak pula gunung yang punya sebuah danau. Yang paling terkenal apalagi kalau bukan Ranu Kumbolonya Semeru, yang disebut sebagai surganya Gunung Semeru. Atau Danau Segara Anak punya Gunung Rinjani. Mungkin nggak banyak yang tau kalau ada lagi gunung yang punya danau. Ya, Argopuro dengan Telaga Taman Hidupnya. Meskipun namanya telaga, ya sama aja deh intinya. Konon, kalau berteriak di sekitar Telaga Taman Hidup nanti akan ada badai datang!

telaga taman hidup argopuro
Telaga Taman Hidup

Saya merencanakan pendakian ke Gunung Argopuro bersama seorang teman, Yogi. Ya, berdua doang. Segalanya udah disiapkan, termasuk perbekalan selama 5 hari. Kami melalui perjalanan panjang dari Malang menuju Desa Bermi, Probolinggo.

Perjalanan kami ke Bermi nggak mudah. Pertama dapat info yang kurang update, dari internet saya tau ada bus dari terminal Probolinggo yang langsung ke Bermi. Dan itu ada cuma ada 2 kali, pagi dan siang. Saat sampai di terminal Probolinggo, ternyata jadwalnya berubah jadi jam 4 sore. Terpaksa kami naik bus lain dan turun di Pajarakan.

Di Pajarakan kami sempat tanya-tanya, tapi dapat info yang ambigu. Ada yang bilang kalau bus ke Bermi biasa lewat sekitar jam 2, ada juga yang bilang kalau busnya itu sore. Akhirnya kami nunggu dulu. Eh begitu udah jam 2 lebih, busnya nggak lewat-lewat. Dari pada buang waktu kami naik angkutan desa, lalu oper naik ojek ke Bermi. Begitu turun dari angkutan desa, kami langsung di serbu oleh banyak orang. Udah kayak artis. Bedanya ini yang nyerbunya tukang ojek, kami jadi rebutan beberapa tukang ojek. Saya sampai pusing saking banyaknya yang nyerbu. Mungkin gitu ya rasanya jadi artis saat di serbu para fansnya. Mending, lah ini tukang ojek.

Lalu kami memilih satu yang terbaik dari banyak tukang ojek dan berangkatlah kami ke Bermi. Sesampainya disana saya baru tau kalau pendakian ditutup! Karena malamnya terjadi kebakaran di sekitar jalur pendakian. Perasaan saya campur aduk, antara kecewa dan lega. Kecewa karena udah jauh-jauh datang tapi nggak bisa ndaki, dan entah kenapa ada perasaan lega. Mungkin karena saya sendiri merasa nggak siap sama pendakian itu.

Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata masih ada peluang untuk mendaki meski cuma sampai Telaga Taman Hidup, karena lokasi kebakaran cukup jauh dari telaga. Dari pada balik kanan pulang saat itu juga, kami putuskan untuk mendaki sampai telaga dan ngecamp disana. Sebelum kami, paginya ada satu rombongan pendaki yang mendaki juga sampai telaga.

Kami berangkat sekitar jam setengah 4 sore. Perjalanan diawali dengan melewati persawahan milik warga. Kira-kira 30 menit saja kami mulai memasuki hutan. Vegetasinya rapat. Kata pak polisi di Polsek Kurcil, perjalanan ke telaga memakan waktu sekitar 4 jam. Lama juga. Jauh berarti, lumayan.

gapura selamat datang taman hidup
Gapura Selamat Datang

Pendakian kala itu rasanya saya bener-bener nggak siap, sering banget saya istirahat, carier yang saya gendong berat banget. Sampai saya sering bertukar carier sama Yogi. Biasanya saya jarang tuker-tukeran carier kalau lagi ndaki.

Setelah 2 jam berjalan dan hari udah mulai gelap. Kami putuskan untuk mencari lapak untuk mendirikan tenda di sekitar jalur. Perjalanan masih 2 jam lagi, dan kami juga nggak yakin sejauh mana itu. Kondisi kami udah nggak memungkinkan untuk lanjut, capek banget. Untungnya ada sebidang tanah yang cukup untuk mendirikan tenda di samping jalur pendakian.

Saya merebahkan badan dalam tenda, rasanya nikmat sekali! Meski posisi tanah agak miring dan nggak rata alias berbatu, jauh banget dari kata nyaman kalau dibandingkan dengan empuknya kasur di kostan. Padahal mah Kasur di kostan juga udah tipis. Heuheu.

Namun itu sangat nikmat setelah satu hari perjalanan yang sangat melelahkan. Kemudian kami masak-makan dan dilanjut tidur supaya besoknya kondisi bisa fit.

gunung argopuro jalur bermi
Camp mepet jalan pendakian

Esoknya jam setengah 7 pagi kami udah caw meninggalkan lokasi camp. Masih melewati medan yang menanjak di tengah rimba. Baru 2 jam kemudian kami menemukan tanda-tanda telaga, diawali dengan jalur yang tiba-tiba menurun (sebelumnya nggak ada kata turun, nanjak terooos), lalu diikuti dengan petunjuk arah menuju telaga.

Akhirnya kami tiba di telaga! Rasanya bak sebuah oase di padang pasir. Kalau ini sebuah telaga di tengah hutan. Telaganya di kelilingi oleh lebatnya hutan, ada sebuah dermaga yang menjorok masuk beberapa meter ke tengah telaga, airnya tenang meskipun kelihatannya keruh, damai rasanya berada di sana, ini toh yang namanya Telaga Taman Hidup. Menakjubkan! Nggak kalah kok sama Ranukumbolo!

dermaga telaga taman hidup
Dermaga yang menjorok ke tengah telaga

Saat kami tiba, ada satu gerombolan pendaki yang sedang siap-siap untuk pulang, 6 orang laki-laki semua. Mereka menyapa kami.

“Mas, darimana mas?”, tanya salah satu dari mereka.

“Dari Malang mas, kalau masnya?”, jawab saya.

“Wah kami juga dari Malang, dari UB”.

“Lho kami UB juga, PTIIK”.

“Oalah, kalau kami dari FTP”.

Ya, mereka ternyata satu universitas dengan saya dan Yogi. cuma beda fakultas doang. Lalu mereka bercerita kalau mereka awalnya ingin mendaki Gunung Arjuna, tapi saat sampai di pos perizinan, taunya Arjuna tutup. Akibat kebakaran juga, mereka akhirnya berpaling ke Argopuro.

Lalu saat ke Argopuro, kondisinya nggak beda jauh. Pendakian di tutup juga. Tapi untungnya boleh mendaki sampai Taman Hidup. Yah nggak jauh beda kayak saya dan Yogi. Niat awal kami juga sebenernya Arjuna, tapi kami tau Arjuno kebakaran dan jalur pendakian ditutup dari berita. Ya sudah kami beralih ke Argopuro, eh kebakaran juga. Yah nasib kami semua sama, berakhir di kedamaian Telaga Taman Hidup.

Saya dan Yogi menuju dermaga ke tengah telaga untuk minum airnya, air telaganya terlihat nggak terlalu jernih. Yah kalau di gunung mau gimana aja wujudnya tetep diminum. Tapi saat diminum, airnya seger kok, nggak berasa dan berbau juga.

Lelah yang saya rasakan sepanjang perjalanan hilang seketika, sumpah! Yang ada dipikiran saat di perjalanan, kalau sampai akan leyeh-leyeh tiduran. Tapi kenyataannya saya malah asyik menikmati keindahan telaga sambil mengabadikan momen.

telaga taman hidup
Airnya tenang, menentramkan

telaga taman hidup
jalan ke tengah dermaganya harus gitu

Kami rencananya hanya sebentar saja dan pulang saat siang. Kami kemudian masak untuk makan besar kami, karena perbekalan 5 hari tak terealisasi, kami gunakan semampu perut kami menampung.

Selagi masak, rombongan dari FTP berpamitan pulang. Entah disengaja atau nggak tahu, ada beberapa dari mereka berteriak. Udah tau kan mitos telaga taman hidup apa? Dan percaya atau tidak, langit tiba-tiba mendung! Waduh masa ada badai, seketika kami langsung mendirikan tenda untuk jaga-jaga kalau terjadi badai. Namun setelah beberapa lama, hujan nggak turun. Hanya muncul kabut yang cukup tebal.

telaga taman hidup berkabut
Mulai berkabut

Setelah makan, kami berkeliling di sekitar telaga. Kami menemukan ada bekas kebakaran dan terlihat seperti baru. Syukurlah kebakaran tersebut bisa padam dan tidak menyebar ke sekitarnya. Setelah puas berkeliling dan langit juga semakin gelap, kami meninggalkan Telaga Taman Hidup.

bekas kebakaran di sekitar telaga taman hidup
Lokasi bekas kebakaran

Sewaktu perjalanan turun, baru deh hujan turun dengan deras. Untungnya kami udah dekat dengan desa. Nggak tau deh kalau misalnya masih di telaga, beneran badai kayaknya. Saya juga percaya nggak percaya sama mitos begitu. Tapi yang saya alami memang seperti itu kejadiannya. Jadi kembali ke masing-masing aja mau percaya atau nggak.

Btw, ini pertama kali saya gagal mendaki sampai ke puncak, memang lagi kebakaran. Tapi nggak bisa dipungkiri kondisi saya juga nggak cukup mampu untuk mendaki sampai puncak kalau dilanjutkan, saya nggak yakin. Ini mungkin sebuah isyarat bahwa saya harus kembali lagi dengan kondisi siap mental dan fisik supaya bisa menggapai puncak Argopuro. Meski gagal ke puncak, setidaknya saya merasakan kedamaian berada di Telaga Taman Hidup. Terima kasih Argopuro, saya akan kembali!

telaga taman hidup
iseng-iseng

Tuesday, February 16, 2016

Pendakian Semeru #4: Sampai Jumpa, Semeru!

Perjalanan turun dari Kalimati kami balapan sama langit, langit keliatannya mulai nggak bersahabat. Langit menjadi mendung dan kabut turun menyelimuti Kalimati. Namanya juga turun, cepet. Nggak kerasa, mana kadang sambil setengah lari. Baru jalan bentar, tiba-tiba udah sampe lagi di Jambangan. Sampe Jambangan, langit masih bisa diajak kompromi.

Tapi begitu masuk kawasan Cemoro Kandang, tiba-tiba aja air turun. Hujan? Kayaknya bukan, ini cuma sugesti kayak yang di bilang Eko. Soalnya nggak deras, cuma kayak gerimis aja gitu. Tapi kami tetep jaga-jaga dengan mengenakan mantel. Juga menyiapkan flysheet apabila hujan deras dan perlu formasi barongsai.

Benar saja, nggak lama hujan turun dengan deras seketika. Untungnya kami sudah memakai mantel. Formasi barongsai pun langsung dibentuk. Namun hujan derasnya hanya beberapa menit, setelah itu gerimis lagi dan terus begitu sampai kami sampe di Oro-oro Ombo. Ini benar-benar hanya sugesti sepertinya. Dan juga kenapa hal itu terjadi hanya di hutan Cemoro Kandang? Yah entahlah. Mungkin cuma embun yang jatuh dari pohon-pohon sehingga seperti hujan.

cemoro kandang gunung semeru
Abis diguyur hujan sugesti

Setibanya di Oro-oro Ombo memang nggak hujan, tapi langit sudah gelap sekali. Awan hitam ada dimana-mana. Kami harus cepet-cepetan sampai ke Ranu Kumbolo sebelum hujan turun. Dan benar saja, saat kami akan turun di Tanjakan Cinta (eh Turunan Cinta deng soalnya lagi turun) hujan beneran turun dengan deras. Kali ini bukan sekedar sugesti, nyata. Kami berhamburan berlari ke arah salah satu shelter.

Shelternya nggak luas-luas amat, tapi karena ada pendaki yang seenak jidatnya masang tenda di dalam shelter, jadinya sempit. Saya nggak ngerti, ngapain bawa tenda kalau mendirikannya di dalam shelter yang jelas-jelas untuk istirahat pendaki. Kalau bawa tenda ya pasang di luar, toh kena hujan juga ngga masalah, emang kegunaanya kayak gitu.

Awalnya kami ingin langsung gelar tenda. Tapi karena hujan deras, kami terpaksa menunggu dulu sampai hujan benar-benar reda. Hujannya kayaknya bakal lama. Karena nggak bisa ngapa-ngapain dan lelah juga, saya tidur dalam posisi duduk.

Lumayan lama saya tidur sampe akhirnya bangun karena posisinya bikin pegel. Ternyata hujannya masih deras. Karena lapar, saya membeli pisang goreng di bapak penjual gorengan. Gilaaa di Ranu Kumbolo ada tukang gorengan. Ini menjadi pisang goreng termahal yang saya beli. Dengan ukuran yang standar dan juga kondisinya yang dingin, pisang gorengnya dihargai 2000 rupiah per buahnya. Mahal memang. Tapi kita hargai usaha bapak yang menjual gorengan ini, karena sudah jauh-jauh ndaki dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo untuk mencari nafkah.

Akhirnya hujan reda sekitar jam 5 sore. Kami langsung saja mencari lapak untuk mendirikan tenda. Seperti biasa, kami bagi tugas. Saya sendiri setelah mendirikan tenda mengajak Eko mencari kayu untuk membuat perapian untuk malamnya. Tapi nggak banyak yang kami dapat. Sembari menunggu makan malam selesai, saya membuat api. Suhu udah dingin banget. Sebagian dari kami malah udah pada kabur ke dalam tenda.

Setelah makan malam jadi pun nggak semuanya makan, karena udah PW sama posisinya dalam tenda. Memang sih, kondisinya udah dingin banget, jadi males untuk gerak. Pengennya tidur aja sembunyi di balik Sleeping Bag. Karena api yang kami buat kecil dan kehabisan stok kayu bakar, boro-boro nikmati malam berbintang di Ranu Kumbolo. Liat ke langit ada bintang atau nggak juga males. Dengan matinya perapian, kami semua masuk ke tenda masing-masing dan mengambil posisi tidur. Padahal saat itu masih jam 8an.

Saya tidur pulas banget malam itu. Biasanya suka kebangun beberapa kali malemnya. Tapi saat itu saya bangun sekali dan itu pun udah masuk waktu Subuh. Emang sengaja juga sih bangun pagi, mau nyari Sunrise. Pas keluar tenda, saya menggigil, dinginnya bukan main. Bergerak jadi solusi, sekalian nyari persembunyian untuk pipis.

ranu kumbolo gunung semeru
Early Morning

Pas langit udah terang, saatnya kami hunting foto. Maaf untuk yang kebagian piket masak, yaitu Idang dan Nafi, kalian masak aja dulu yaa. Saifud ini kena tremor, pas lagi sesi foto hasilnya pada ngeblur. Yaitu tadi dia tangannya tremor alias bergetar karena kedinginan. Padahal kami udah bergaya.

ranu kumbolo gunung semeru
Ngeblur kan

ranu kumbolo gunung semeru
KASKUB

ranu kumbolo gunung semeru
Ramenya pagi di Ranu Kumbolo

Pagi itu masak mie banyak banget, karena kami nggak pada mau makan nasi. Nggak tau kenapa. Saking banyaknya, kami taruh mienya di jerigen nemu ukuran 5L. Karena nggak bakal muat kalau di piring. Makannya pun digilir satu suap tiap orang. Rio yang awalnya nggak mau makan, nyoba satu suap. Eh dia ketagihan, nambah satu suap lagi. Hhm, boleh juga mienya Idang.

Pas lagi sarapan itu, ada pendaki lewat di dekat tenda kami dan berhenti.

Lalu dia bilang, “Mas, boleh saya foto ya kalian”.

“Oh iya mas silahkan, emang kenapa mas?”, jawab saya.

“Nggak, unik aja soalnya saya baru lihat ada yang makan di taruh jerigen”, kata pendaki itu sambil memotret kami, lalu pergi.

Emang sebegitu konyolkah kami ya makanan di taruh jerigen? Mana jerigen bekas, nemu pula. Siapa tahu jerigennya bekas minyak atau bensin. Mati sudah. Mumpung lagi di gunung nggak apa-apalah, kalau di kota kan nggak mungkin melakukan hal kayak gitu.

ranu kumbolo gunung semeru
Mie dengan toping tempe dan telur

Beres sarapan, kami packing untuk siap-siap pulang. Saat beresin logistik di tenda, saya kaget karena tiba-tiba ada seekor tikus keluar dari dalam tenda. Itu siapa yang bawa tikus? Kemungkinannya cuma ada 2. Pertama, itu emang tikus yang hidup di sekitar Ranu Kumbolo terus masuk ke tenda tanpa sepengatahuan kami. Kedua, tikus itu ikut dari kota. Masuk ke dalam salah satu carier kami dan baru keluar pas di Ranu Kumbolo.

Ternyata itu tikus yang di ributin Rio semalam. Saya tau hal ini dari Saifud. Malam saat saya tidur pulas, dia beberapa kali kebangun gara-gara Rio nyari senter. Dia nyari senter karena ngerasa ada tikus di dalem tenda. Saifud yang mikir mana ada tikus di gunung terus masuk tenda dan mungkin setengah sadar juga, nggak menghiraukan Rio dan kembali tidur. Dan tikus yang dicari Rio semalam memang nyata dan baru keluar pagi hari. Mungkin tikusnya kedinginan.

Dari Ranu Kumbolo kami pulang lewat jalur Ayak-ayak, beda dengan jalur pas berangkat. Jalur ini melewati bukit dengan tanjakan yang nggak ada habisnya, tapi setelah itu turun terus sampe Ranu Pani.

ranu kumbolo gunung semeru
Full Team

ayak-ayak gunung semeru
Threesome, kencing bareng2 bertiga

Dari jalur ini juga kami jadi tau kenapa porter atau warga-warga suku Tengger bisa mendaki dengan cepat dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo. Mereka pake motor. Iya motor. Jadi mereka naik motor sampe pucuk bukit, abis itu baru jalan ke Ranu Kumbolo. Motornya mah ditinggal gitu aja. Saat kami turun juga mereka pada nawarin ojek. Ya kami nggak mau lah. Masa di gunung naik ojek. Sampe puncak bisa jalan kaki, masa turun ngojek. Kan konyol, nggak afdol pula.

Faisal sebelumnya sempat berdusta sama orang tuanya. Dia bilang kalau lagi nonton OVJ bukannya naik gunung. Nah saat perjalanan turun dari bukit Ayak-ayak, dia dapat telpon dari bapaknya. Bapaknya tanpa basa basi langsung bilang gini, “Sal, kau kuliah mau belajar atau naik gunung?”. Faisal yang udah kena telak nggak bisa ngelak, akhirnya dia jujur kalau dia ke Semeru. Tapi setelah kejadian itu dia jadi dibolehin ndaki. Lalu kalau sebelumnya dia nggak berani pasang foto saat ndaki di sosmed, setelah kejadian itu dia jadi nggak takut lagi. Meskipun kena marah, tapi ada hikmahnya kalau jujur. Karena kejujuran itu penting.

Pas di perjalanan pulang ke Jemplang. Saya yang pengen minum rasa-rasa alias minuman keruh alias nutrisari nyeduh beberapa bungkus di botol air ukuran 1.5L. Terus diminum deh, dibagi ke yang lain juga termasuk Eko.

Abis minum, Eko nanya, “Ham, air yang di botol 1.5L tadi mana?”.

“Ya ini, udah ku jadiin minuman rasa-rasa”, jawab saya dengan polos.

“Lah itu kan air Ranu Kumbolo yang sengaja kubawa buat kenang-kenangan”, kata Eko.

“Hahaha jadi tadi itu air buat di bawa pulang? Sorry ko, abisnya pengen minum rasa-rasa, kau juga kan minum, ya sudahlah”, jawab saya santai.

Patut di contoh nih Eko. Dia pulang bawa air danau untuk kenang-kenangan, bukan bunga Edelweiss ataupun benda lain yang dapat merusak ekosistem di gunung. Yah meskipun kalau bawa air nggak bakal bertahan lama, tapi setidaknya tidak merusak alam.

4 hari 3 malam sudah kami berada di alam liar. Semeru memberikan pengalaman yang luar biasa. Berat juga rasanya meninggalkan Semeru di hari terakhir, di saat sudah mendapatkan ketentraman di Ranu Kumbolo. Tapi tetap saja gunung bukan habitat manusia, kami harus pulang ke rumah karena itu tujuan akhir dalam sebuah pendakian. Kembali pulang dengan selamat lebih tepatnya.

Perjalanan kami pun berakhir di terminal Arjosari. Disana kami pisah jalan dan kembali ke asal masing-masing.

Friday, February 12, 2016

Pendakian Semeru #3: Puncak Para Dewa!

Ketika sedang nikmat tidur, bunyi alarm ponsel saya berbunyi menandakan jam ½ 12 malam. Waktunya summit attack. Bukannya bangun, saya cuma matiin alarm itu dan kembali tidur. Tapi nggak lama dari itu Rahman bangunin saya, ngingetin itu waktunya summit. Saya bangun dan mengusir rasa kantuk demi Mahameru, lalu saya bangunkan yang lainnya juga untuk bersiap-siap.

Setelah semua bangun, kami membawa barang-barang berharga dan tentunya perbekalan. Kami hanya membawa beberapa botol air dan itu disimpan pada sebuah daypack yang dibawa oleh satu orang. Sekarang saya pikir itu salah, karena ketika mendaki lebih baik tiap orang membawa air masing-masing, bukan di kolektif pada satu orang.

Sekitar jam 12 malam, kami mulai berjalan. Ditengah kegelapan malam kami menerobos hutan. Udara malam itu terasa sangat dingin. Kami berjalan tanpa ada obrolan sehingga nafas kami satu sama lain bisa terdengar.

Awalnya perjalanan lancar-lancar saja, sampai tiba-tiba terjadi kemacetan. Macet? Masa iya di gunung macet? Iya beneran. Tahu kan kalau jalan di gunung itu jalan setapak, jadi cuma muat untuk satu orang. Nah di depan kami ini ada rombongan pendaki yang berhenti, kami pun terpaksa menunggu karena susah kalau nyalip, mana jalan setapak di tanjakan pula. Dan tahu nggak rombongan pendaki di depan kami ini berhenti karena mereka juga terpaksa nunggu karena di depan mereka ada rombongan pendaki lain yang berhenti. Mampus deh ngomong apa ini saya.

Tahu kan kalau Semeru itu rame banget setelah muncul film 5cm. Jadi gegara banyaknya pendaki, di jalan setapak yang muat satu orang doang, bikin ngantri! Kalau yang paling depan berhenti, yang bawahnya ya terpaksa nunggu. Dan itulah yang membuat perjalanan kami lamaaaaa.. lama sama nunggu. Kelamaan nunggu antrian, tapi yah mau gimana lagi, jalani saja.

Dari pada pas nunggu bengong, ya kami ngobrol-ngobrol sama pendaki lain. Eko, yang baru tahu kata “modol” belum lama ini dari saya. Dia nyeletuk, “Kalau sampai puncak, aku mau modol, biar jadi modol tertinggi di pulau Jawa!”. Eh tiba-tiba ada pendaki yang ngerti, lalu dia membalas, “Wah keren mas itu, modol tertinggi di pulau Jawa”. Kami semua tertawa. FYI, modol itu Bahasa sunda yang artinya BAB. Hahaha!

Antrian di perjalanan itu terus berlanjut sampai medan berubah menjadi pasir berbatu. Ya, kami sudah melewati batas vegetasi, dan tinggal mendaki medan pasir berbatu tersebut. Tapi disini rombongan kami terbagi menjadi dua. Entah sejak kapan rombongan kami terpecah, sebab dengan ramainya pendaki ditambah malam hari, sulit untuk mencari teman sendiri. Saya ketika itu bareng Rahman, Faisal dan Saifud. Dan saya yakin yang lainnya masih di belakang, karena saya ngga lihat mereka menyusul kami.

Kami putuskan untuk lanjut mendaki tapi pelan-pelan dan sesekali mengambil break. Siapa tahu teman kami yang lain menyusul. Karena kalau kami hanya diam dan menunggu, rasanya semakin dingin, maka dari itu kami harus terus bergerak. Perjalanan seakan nggak sampai-sampai. Lalu ada satu momen ketika kami break cukup lama dan akhirnya ketiduran sebentar. Saat bangun rasanya dingin bukan main. Dan saya tersadar salah satu dari kami hilang, Rahman. Sepertinya dia lanjut duluan karena kedinginan kalau hanya diam.

Hingga langit mulai terang kami belum juga sampai di puncak. Saat ini saya cuma bertiga sama Faisal dan Saifud, karena Rahman hilang. Ketika duduk istirahat, Faisal nunjuk-nunjuk dan bertanya ke Saifud, “Itu Gunung Bromo ya Fud?”. Tapi Saifud nggak menjawab, pas dilihat taunya dia ketiduran. Beuh! Emang kondisi fisik udah capek banget, mana ngantuk, berhenti sebentar aja langsung ketiduran.

Finally, jam 7 pagi saya sampai di Mahameru, puncak para dewa! Saya sangat bersyukur bisa menapak di atap pulau Jawa ini. Puncaknya luas, sudah banyak pendaki di puncak saat itu. Saya mencari-cari Rahman begitu sampai, dan ternyata benar. Rahman emang duluan, dia melambai-lambai memberi tanda. Nggak lama dari itu Saifud dan Faisal berturut-turut sampai di puncak.

Sambil nunggu 6 orang teman kami yang lainnya, kami ber-4 nggak lupa mengabadikan momen. Kebetulan fotografernya lagi bareng kami, Rahman. Lagi asik foto-foto, tiba-tiba kawah Jonggring Saloka mengeluarkan asap alias “batuk”. Wah ini momen langka, kami dan para pendaki lain pun langsung ambil posisi dengan latar kawah semeru yang lagi batuk itu.

puncak mahameru
Kawahnya Batuk

puncak mahameru
Mahameru!

puncak mahameru
Wonderful Mahameru!

Ketika di puncak sempat ada aksi heroik dari Saifud. Lagi asik mengabadikan momen, tiba-tiba bendera merah putih yang di ikat di leher Saifud lepas. Terbang dan jatuh di dekat tebing. Dengan heroiknya dia berusaha menyelamatkan bendera itu dengan sebuah tongkat kayu yang tergeletak tidak jauh dari situ.

Tapi tongkat itu tetap nggak menjangkau bendera, lalu Saifud meminta kami untuk memegangi tangannya supaya dia bisa meraihg benderanya. Lalu ada pendaki lain berkata, “Udah mas biarin aja, bahaya takut jatuh”. Saya juga setuju dan meminta Saifud untuk membiarkan bendera itu jatuh ke jurang. Berhubung bendera itu punya saya, yaa nanti pas udah di kota, minta gantinya aja deh ya. Hehe.

Padahal bendera itu udah saya bawa ke beberapa puncak gunung sebelum Semeru, diantaranya Ciremai, Slamet dan Arjuno. Tapi ya sudah gapapa deh, heuheu.

puncak mahameru
Aksi penyelamatan bendera

Lumayan lama kami di puncak tapi yang lain belum sampai juga. Sampai akhirnya Rahman dan Saifud milih untuk turun duluan karena udara di puncak sangat dingin. Sedangkan saya dan Faisal tetap di puncak menunggu yang lain. Karena penasaran, saya dan Faisal nekat dengan mendekat ke arah kawah. Tapi belum juga setengah jalan menuju kawah tiba-tiba tanah yang kami injak terasa bergetar. Takut terjadi hal yang ngga diinginkan, kami pilih untuk balik kanan jalan saja. Hahaha.

Lalu ketika kembali ke Puncak Mahameru, ternyata sudah ada Nafi disana. Dan nggak lama setelah itu, Eko dan Abduh juga tiba. Setelah mereka beres foto-foto, saya turun duluan bareng Faisal dan Nafi, sedangkan Abduh dan Eko masih di puncak. Baru saja turun beberapa meter, kami bertemu Rio yang masih berjuang mendaki. Di bawahnya lagi kami bertemu Idang. Mereka masih berjuang mencapai puncak, kami pun memberi semangat. “Ayo Dang, puncak masih jauh!”.

Perjalanan turun ternyata mengasyikkan, kayak main ice skating, bedanya ini pasir. Satu langkah bisa langsung beberapa meter karena medannya berpasir. Tapi tetep harus hati-hati sama langkah, bisa aja karena keasyikkan, terus ada batu jatuh gara-gara langkah kita dan kena pendaki yang berada di bawah kita. Kan ngeri kalau gitu ceritanya.

turun dengan sand skating dari mahameru
Sand Skating

Nggak kayak perjalanan naik yang sampai 7 jam perjalanan, turun dari puncak ke Kalimati makan waktu 2 jam. Sesampainya di camp, sebenernya saya kelaparan, tapi karena stok air yang benar-benar tipis, hanya roti dan biskuit saja gantinya. Abis itu langsung ngegeletak gitu aja saking capeknya. Tidur siang dulu, sebelum turun ke Ranu Kumbolo.

kalimati semeru
Kalimati

kalimati semeru
Tidur Siang di Kalimati

kalimati semeru
Edelweiss

Setelah berkumpul semua dan tidur yang cukup. Kami turun untuk menghabiskan malam terakhir di Ranu Kumbolo.

Friday, February 5, 2016

Pendakian Semeru #2: Keelokan Semeru

Setelah packing dan udah ngurus simaksi. Perjalanan dimulai! Semuanya dalam kondisi penuh semangat yang berapi-api. Diawal kami lewat ladang-ladang kebun milik penduduk setempat. Kesan pertama yang saya dapat ini, padahal baru awal tapi pemandangannya udah memanjakan mata gini, duh jadi ngga sabar.

ranu pani semeru
Ada yang ga ke ajak sampai lari2

Medan kemudian berganti melewati jalan setapak di tengah hutan rimba. Sepanjang perjalanan ya begitu, hutan. Momen susul-susulan sama rombongan pendaki lain terjadi. Ketika kami nyusul pendaki yang lagi istirahat, kami sapa mereka “Misi mas, kami duluan”, dengan senyum tentunya. Mereka pun menjawab “Iya mas, monggo”. Lalu gantian saat kami istirahat, eh pendaki yang sebelumnya udah kesusul nyalip. Mereka pun nyapa kami, dan kami balas menjawab. Dan itu terjadi berulang-ulang, entah berapa kali iterasi.

Dari mulai start, treknya emang nggak terlalu berat. Nggak nanjak parah kayak Ciremai, tapi ini jauh. Lalu setelah jalan beberapa jam, kami dihadapkan sama tanjakan yang lumayan terjal. Disini nguras banyak tenaga. Selain jalannya emang nanjak, beban carier di punggung berat pake banget.

trek jalur semeru
Ini tanjakannya

Perjalanan makin berat. Matahari yang udah berada di atas kepala bikin cepet dehidrasi, mana air juga tinggal sedikit. Kami harus menghemat air, satu orang dijatah satu tegukan tiap kali istirahat. Gitu terus selama beberapa menit.

Setelah melewati hutan dengan vegetasinya yang rapat, kami mulai memasuki medan yang lumayan terbuka. Dan kami terperangah! Kami semua teriak gembira! Apa yang kami temukan? Kami melihat air, banyak banget. Ya, Ranu Kumbolo! Masalah air jelas teratasi, dan yang paling penting kami yang tadinya udah loyo jadi semangat karena Ranu Kumbolo udah di depan mata! Cihuyy!

ranu kumbolo semeru
Kegirangan lihat Ranu Kumbolo

Langkah kaki jadi makin cepat setelah melihat keberadaan Ranu Kumbolo, kadang setengah lari pas jalannya datar. Daaan ketika kami sampai di tepi danau, kami berhamburan. Apalagi yang kami lakukan selain minum, dehidrasi melanda. Mana panas, pada basahin kepalanya masing-masing biar seger.

ranu kumbolo semeru
Biar afdol minumnya gini

Setelah istirahat bentar, kami lanjut berjalan ke sisi danau lainnya, yaitu yang di dekat Tanjakan Cinta. Disitu kami istirahat cukup lama, karena kami makan siang dulu. Cacing di perut udah meronta-ronta minta makan. Sambil nunggu makan siang siap, ada yang tiduran, ada juga yang foto-foto. Maaf untuk yang kebagian piket, kalian fokus masak aja deh yaa.

Aah.. begitu nyamannya di Ranu Kumbolo, rasanya ingin berlama-lama berada disana. Apalagi saat itu Ranu Kumbolo tidak begitu ramai, sehingga bisa merasakan ketenangannya. Tapi target kami hari itu adalah Kalimati, sehingga habis makan dan cukup istirahat kami lanjut lagi.

ranu kumbolo semeru
Sepinyaaa

ranu kumbolo semeru
Ranu Kumbolo

Dan inilah yang kami semua tunggu, Tanjakan Cinta! Dengan mitosnya, kami semua mendaki tanjakan itu sambil membayangkan wanita yang kami idamkan.

Ketika sudah berhadapan dengan tanjakan cinta, nggak ada satu pun yang mau naik duluan! Akhirnya kami paksa Saifud, yang sudah punya pacar untuk naik duluan dan memotret kami dari atas tanjakan. Sedangkan 9 jomblo lainnya naik satu per satu.

Yang pertama naik Faisal, dan saat dia naik kami semua menyaut memanggil namanya biar dia nengok. “Sal, tunggu sal!”, “Barenglah Sal, jangan egois”, macem-macem pokonya biar dia mau nengok. Tapi dia nggak gentar dan sampai pucuk tanjakan tanpa noleh ke belakang. Lalu disusul yang lain dan diperlakukan serupa sama yang belum nanjak.

Saya dan Rahman menjadi yang terakhir naik. Setelah yang lain naik, saya baru sadar dari 8 orang yang naik tadi nggak ada satupun yang naik sambil bawa galonnya Rio. Apa boleh buat, saya dan Rahman bergantian membawanya ke atas tanjakan. Congratulations! Kami semua berhasil mendaki tanjakan tanpa menoleh ke belakang, hanya tinggal menunggu keajaiban. Hehe!

tanjakan cinta semeru
Semangat Tanjakan Cinta!

Tanjakan Cinta menguras banyak tenaga, setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan melewati Oro-oro Ombo. Ini juga yang kami tunggu. Oro-oro Ombo, padang rumput dengan bunga berwarna ungu yang orang-orang sebut sebagai Lavender tapi nyatanya bukan. Tapi yah tetap saja cantik kok.

Setelah memandang mencari-cari sekumpulan bunga berwarna ungu, hasilnya nihil! Kemana perginya? Ternyata kami datang di waktu yang nggak tepat! Padang bunga berwarna ungu tersebut mengering dan berubah jadi berwarna coklat. Yaaah sudahlah tak apa, ini tetap unik bagi kami!

oro-oro ombo semeru
Oro-oro Ombo mengering

Ranu Kumbolo udah, Tanjakan Cinta udah, Oro-oro Ombo juga udah. Sekarang yang akan kami lewati adalah Cemoro Kandang. Sesuai namanya, setelah ini kami akan melewati kawasan hutan cemara. Ini medan terakhir sebelum Kalimati, semangat!

Teriknya panas matahari sudah bukan jadi masalah karena hutannya ini lebat dan rapat, sehingga kami terlindungi dari terpaan sinar matahari. Selain itu langit juga berawan. Kekhawatiran saya disini muncul. Kalau hujan gimana? Masalahnya cuma beberapa dari kami yang bawa raincoat, sedangkan perjalanan juga masih jauh.

Saya dapat ide. Kalau hujan, yang nggak bawa raincoat bentangin flysheet bareng-bareng sambil terus jalan. Salah sendiri disuruh bawa raincoat malah nggak. Lalu secara perlahan turunlah butiran-butiran air dari atas alias gerimis yang lama-kelamaan menjadi deras. Saya pun langsung mengeluarkan flysheet dan menyuruh yang nggak bawa raincoat untuk berlindung di balik flysheet. Kalau dilihat dari luar, jadilah kami seperti barongsai!

Saat masih dalam formasi barongsai, tiba-tiba hujan mereda. Eko berkata, “Ini bukan hujan, Ham. Cuma Sugesti”. Lalu hujan kembali turun tapi kecil, saya membalas “Apanya yang sugesti, Ko. Hujan beneran ini”. Nggak lama, seketika hujan reda lagi. Eko berkata lagi “Tuhkan reda, cuma sugesti”. Saya pun jadi berpikir, apa iya ini cuma sugesti. Ah sudahlah yang penting hujan reda. Dan formasi barongsai pun bubar.

Hutan cemara ini seakan nggak ada habisnya, belum ada tanda-tanda Kalimati sudah dekat. Ditengah perjalanan, tepatnya jalan yang menanjak. Saya melihat ada tempat yang cukup terbuka, saya pikir itu Kalimati jadi saya mempercepat langkah. Dan ketika sampai, ternyata bukan. Itu pos Jambangan! Kalimati masih kurang sekilo lagi.

Yang menakjubkan, baru di Jambangan ini kami bisa lihat puncak, ya Mahameru! Sepanjang perjalanan, si puncak para dewa itu nggak kelihatan sama sekali. Lumayan, dengan bisa melihat Mahameru, semangat kami terkumpul lagi meskipun hari sudah mulai gelap. Perjalanan kami lanjutkan sambil memungut ranting dan batang pohon yang sudah mati untuk membuat api di malam hari.

Nggak terlalu capek berjalan dari Jambangan ke Kalimati, hal itu karena medannya yang relatif datar dan menurun. Kami pun akhirnya sampai di Kalimati sekitar jam 6 sore, saat langit sudah gelap. Langsung saja kami mencari lapak untuk mendirikan tenda. Kami pun bagi-bagi tugas biar cepat, 3 orang kebagian masak dan sisanya mendirikan tenda dan beres-beres logistik. Makan malam jadi agenda selanjutnya.

Setelah beres makan, kami baru menyadari stok air kami menipis. Nggak cukup kalau digunakan untuk summit tengah malam nanti. Mau ngisi ke sumber mani pun sepertinya nggak bakal ada yang mau, mengingat kondisi tubuh yang sudah lelah dan nggak tahu arahnya.

Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba kami mendengar suara. Bukan suara babi hutan ataupun suara kentut. Suara itu memberi kabar baik bagi semua. Ya, itu suara seorang warga Ranu Pani yang menjual air minum. Meskipun harganya mahal, 10 ribu rupiah untuk 1 botol ukuran 1.5 Liter.

Yah tak apalah, mengingat mahalnya itu karena di gunung air adalah sesuatu yang sangat berharga, apalagi bapak yang menjual air itu memang butuh perjuangan untuk membawa air tersebut dan untuk selanjutnya dijual. Kami pun beli 2 botol saja.

Setelah masalah air teratasi sebenarnya tinggal tidur aja sih, mana tengah malam hari harus bangun untuk summit attack. Tapi sebelum tidur ada aja yang iseng, kali ini Saifud. Saat berada dalam tenda dia tiba-tiba pengen kentut, lalu dia keluar dan mengebom tenda sebelah. Otomatis penghuni tenda yang isinya Faisal, Idang, Reva, Nafi dan Abduh murka. Tapi dia acuh dan langsung kabur kembali ke tendanya. Ada-ada saja! Untung mereka nggak keracunan.

Nggak lama setelah itu kami pun tidur..

Tuesday, February 2, 2016

Pendakian Semeru #1: Ranu Pani Sedingin Kutub

semeru kalimati

Awalnya saya nggak kepikiran untuk ndaki Semeru, apalagi masalahnya kalau bukan dari sisi finansial. Maklum mahasiswa, anak kos pula. Bisa makan enak aja udah bersyukur, mana kalau udah krismon terpaksa nyeduh (baca: masak mie instan). Yah, itu sudah menjadi rahasia umum. Udah ah jadi kelihatan banget nelangsanya anak kos. Heuheu..

Beneran, tadinya saya pikir budget untuk ndaki Semeru bakal keluar banyak. Tapi saya lupa, saya ini kuliah di Malang. Semeru kan secara geografis masih masuk wilayah Malang juga. Jalan kaki Malang – Mahameru bisalah, yaa paling kaki pulang-pulang tinggal diamputasi.

Setelah menyadari hal itu saya langsung deh cari info sebanyak-banyaknya estimasi biaya untuk ke Semeru dari Malang. Dan setelah dihitung-hitung, bueeh lumayan sekitar 200ribuan bisa PP Malang – Semeru – Malang. Itu udah termasuk perbekalan, biaya sewa logistik peralatan dan transportasi. Carter Jeep yang mahal itu pun udah include  lho! Iyalah, 200ribu ini itungannya rombongan ber-10 orang kok. Dan juga saat itu tiket masuk cuma 10ribu/orang sekali masuk, beda sama sekarang yang harganya Rp. 17.500/orang dan perhari pula. Btw, saya ndaki di tahun 2013.

Setelah menghitung budget dan menyusun itinerary. Awalnya saya berdua doang sama si Idang, teman pendakian saat ke Gunung Arjuna. Saya pun mengajak teman yang lain, dan joinlah 7 orang, sehingga total menjadi 9 orang. Kurang 1 orang lagi buat genapin target 10 orang.

Si Faisal temen saat ke Arjuna juga, awalnya dia bilang nggak ikut soalnya waktunya berbarengan sama seleksi basketnya. Tapi pas hari H, dia memutuskan untuk ikut. Dengan guyonan sok-nya dia bilang begini, “Aku jadi ikut Ham, aku ga rela liat kalian mati kedinginan di Ranu Kumbolo”. Oh vangke banget kan, bilang aja iri lihat kami nanti di Semeru. Udah dadakan, pake sok-sokan pula. Huhu.

Ya sudah langsung saya suruh prepare aja itu anak Medan. Akhirnya dia berhasil memutuskan pilihan yang berat, dia rela meninggalkan seleksi basketnya dan memilih mati kedinginan bersama kami di Ranu Kumbolo. Oke saya salut dengan pilihanmu, Sal!

pendakian semeru
Mejeng depan kampus sebelum berangkat
Berdiri dari kiri: Rahman, Idang, Saya, Rio, Nafi dan Eko
Duduk dari kiri: Abduh. Faisal, Saifud dan Reva

Btw, kami berangkat di hari terakhir UTS (ujian tidak serius). Kami berkumpul dulu di depan kampus sebelum capcus naik angkot menuju Pasar Tumpang. Di tahun 2013, Jeep yang ngangkut pendaki ke Ranu Pani masih mangkal di Pasar Tumpang.

Setibanya disana, kami bertemu sepasang bule. Mereka meminta untuk berangkat bareng kami untuk carter Jeep-nya. Tapi karena dari ke-10 kami pada bego semua nggak ada yang bisa Bahasa Inggris, itu bule tiba-tiba udah berangkat aja sama rombongan pendaki lain. Sialan! Diserobot, padahal lumayan bisa mereduksi budget dengan join-nya bule. Nggak tahu apa kami semua mahasiswa yang anak kos pula?! Huh! Mau nggak mau kami ikhlasin tuh kepergian bule, bye Mr. and Mrs. Bule!

Daripada buang waktu, kami pun berangkat bersepuluh menaiki Jeep! Wooow pertama kali buat saya naik Jeep terbuka kayak gini, sumpah asik banget, memacu adrenalin! Saking girangnya kami pada teriak nggak jelas, ada yang bilang “Mahameru, kami datang!”, terus bilang “Janc***k”, ada juga yang cuma “waawooo” doang, hadeuh apaan sih. Itu bukan saya lho, sumpah!

semeru tumpang jeep
Nangkring di Jeep

semeru tumpang jeep
Kegirangan naik Jeep

Sejam perjalanan kami pun tiba di… Ranu Pani? Bukan! Tapi di Jemplang, itu masih 8 km lagi buat ke Ranu Pani. Kala itu Jeep cuma bisa sampai Jemplang karena jalan ke Ranu Pani masih di perbaiki dan cuma motor yang bisa lewat. Sebelumnya kami udah tahu tentang hal ini dan kami udah putuskan jalan kaki. Sebenernya ada ojek sih, tapi harus oper nantinya, jadi harus 2 kali ngojek. Duit lagi deh.

Selain masalah finansial, kami putuskan jalan kaki itung-itung pemanasan. Ya, kaki harus dibiasakan jalan dulu sebelum pendakian sebenarnya. Tapi setelah dilakonin, ini mah bukan pemanasan. Jauh banget! Udah kayak naik gunung aja.

Di tengah jalan, Rio berhenti dan mengeluarkan sesuatu dari cariernya. Saya kira mau keluarin cemilan gitu. Bukan. Dia mengeluarkan galon 6L full berisi air yang dia bawa sedari tadi di dalam carier. Dia kelelahan bawa itu, dalam carier pulan. Jadilah kami bergantian membawa galon itu.

2 jam berjalan, tepar sudah. Kami mulai jalan kaki dari Jemplang jam 5 sore, dan sampai di Ranu Pani jam 7 pas hari udah gelap.

jemplang ranu pani semeru
Jemplang -> Ranu Pani. Hajaaar! *udah kayak boyband

Ketika tiba di pos perizinan udah banyak pendaki disana. Tapi posnya tutup, terpaksa kami ngurus simaksi esok harinya. Karena kami udah kelelahan semua, kami langsung nyari lapak untuk mendirikan tenda. Supaya cepat, kami bagi tugas. 3 orang masak buat makan malam, sisanya masang tenda dan beres-beres logistik. Disini kami nggak bisa nancepin pasak ke tanah. Tanahnya keras, jadilah masang tenda seadanya.

Setelah makan malam, kami istirahat. Tenda saya di isi oleh Saifud, Eko, Rio dan Faisal. Sedangkan tenda yang satunya berisikan Idang, Reva, Abduh, Rahman dan Nafi. Sebelum tidur, saya, Saifud dan Faisal main kartu gapleh dulu. Ketika sedang main, hp Faisal bunyi dan itu adalah telepon dari ibunya. Ibunya nanya kenapa baru bisa dihubungi, si Faisal pun jawab “Aku lagi nonton OVJ Ma, di Rampal”. Njirr dusta ini anak, awas kualat bohong sama orang tua!

Pagi sekali sebelum subuh, beberapa dari kami udah ada yang bangun. Saya yang kebagian piket masak pagi itu, dibangunin dengan niru gaya Arya Wiguna “Subur waktumu sudah habis!”. Ini diganti jadi “Ilham waktumu sudah habis!”, beuh ganggu banget! Saya bangun dalam kondisi menggigil! Gilaaa pagi itu dingin banget, sampai menusuk ke tulang. Dari semua gunung yang pernah saya ndaki, Ranu Pani paling dingin. Saya paksa untuk gerak supaya nggak kerasa dingin. Sejak malamnya pakai sarung tangan, dan saat di buka itu kayak mati rasa. Apalagi saat menyentuh air, dinginnya seperti air di Antartika, di kutub. Ya, rasanya Ranu Pani udah kayak di kutub! FYI, saya belum pernah ke kutub.

Ternyata semua bangun dalam kondisi kedinginan. Reva dan Eko nyari ranting dan ngumpulin sampah untuk bikin api. Meskipun nggak dapat banyak, tapi lumayan bisa menghangatkan tubuh. Sebagian lagi masih ada yang enak ngorok, ileran pula. Nyenyak banget. Sial, kenapa saya kebagian piket masak pagi-pagi sih. Btw, saya sendiri yang nyusun jadwal piket masaknya.

Ada fenomena unik, Danau Ranu Pani pagi itu berasap. Bukan karena airnya panas mendidih jadi berasap. Bukan, siapa juga yang mau masak air danau Ranu Pani. Tapi ini karena letak Desa Ranu Pani sendiri yang berada di ketinggian 2100mdpl membuatnya diselimuti kabut pada pagi hari. Begitu juga pada danaunya, sehingga terlihat seperti berasap.

ranu pani berkabut
Kabut yang menyelimuti danau

ranu pani berkabut
Danaunya berasap

Baru ketika matahari terbit saya merasakan kehangatan yang sebenarnya. Dingin yang sejak pagi merasuki tubuh pun perlahan hilang. Kemudian kami sarapan, packing, ngurus simaksi dan berangkaaat!!

ranu pani semeru
Makan nikmat ya di gunung bareng sahabat


ranu pani semeru
We are ready!!!