Friday, March 25, 2016

Mendaki Rinjani #3: Sebuah Perjuangan Mewujudkan Impian

Kami udah berjuang sekuat tenaga mendaki sampai Plawangan Sembalun. Perjalanan nggak mudah, nyaris 12 jam kami mendaki. Akhirnya kami bisa lakuin hal yang udah dibayangkan selagi di perjalanan. Ya, molooor. Merem sekali aja langsung pergi dari dunia nyata. Saking lelahnya.

Malam itu saya tidur dibalik SB (bukan Sleeping Bag, tapi Sarung Bro), mengenakan kupluk, kaos kaki, sarung tangan, selapis celana dan 3 lapis baju. Pertama, kaos lengan pendek yang saya pakai selama perjalanan. Lapis kedua, saya pakai kaos berlengan panjang. Dan yang terakhir saya kenakan adalah kemeja. Saya nggak pakai jaket. Bukan karena ketinggalan tapi emang sengaja nggak saya pakai, soalnya saya rasa segitu cukup untuk nahan dinginnya malam Plawangan Sembalun di ketinggian 2900mdpl.

Saya bisa begitu berkat aklimatisasi yang saya lakuin sejak pertama kali berangkat dari Malang. Saya cuma kaosan lengan pendek meskipun sedang perjalanan malam, termasuk saat mendaki malam-malam di bukit penyesalan. Nggak pernah sekalipun saya pakai jaket ataupun rangkap baju lain. Itu artinya, aklimatisasi saya berhasil. Yeay!

Jam 3 pagi saya bangun gara-gara bunyi alarm hp saya yang berisik banget. Tapi langsung saya matikan. Males banget mau bangun, mana dinginnya jadi tambah parah. Saya langsung nyari jaket sebelum membeku. Kondisi begitu jadi malas untuk bangun, sebaliknya, malah jadi nyaman untuk tidur. Beberapa saat setelah matiin alarm. Saya bangun, saya lawan rasa malas itu. Daripada menyesal dikemudian hari gagal muncak karena keenakan tidur. Kan konyol. Mana udah jauh-jauh ke Lombok. Nggak masalah sih, yang jadi masalah itu perkara ongkos. Ehm, mahasiswa.

Lalu saya bangunin yang lain yang masih pada bobo cantik. Baru setelah itu kami siap-siap summit attack. Kami masukan semua barang ke dalam tenda, termasuk alat masak dan makan yang masih kotor. Soalnya saya dengar-dengar dari pendaki lain, di Plawangan Sembalun suka ada kera yang ngerusuh. Kera-kera itu nyari makanan, bahkan ada kejadian sampai masuk ke dalam tenda. Dang, kondisikan saudaramu!

Persediaan air kami menipis, tinggal sisa semalam. Tersisa 1 botol ukuran 1.5L dan beberapa botol ukuran di bawah 1L. Selain itu kami bawa makanan ringan seperti roti dan biskuit. Setelah persiapan selesai, kami berdo’a dulu sebelum mulai summit attack.

Kami termasuk pendaki yang summitnya telat, selain pendaki tetangga tenda kami yang masih siap-siap saat kami berangkat. Soalnya udah banyak pendaki yang berangkat duluan, kelihatan dari cahaya senternya yang udah jauh di atas. Yang udah sampai puncak juga mungkin ada.

Awal-awal kami melewati trek yang masih landai. Sepanjang jalan itu banyak tenda-tenda yang berdiri di kanan-kirinya. Tapi nggak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, mereka udah berangkat. Kecuali para porter yang sedang tidur maupun yang lagi menghangatkan diri dekat api.

Setelah itu kami mulai melewati medan yang menanjak, jalannya pun berganti menjadi pasir berbatu. Sekitar 2 jam berlalu matahari terbit dan kami akhirnya sampai di puncak. Awalnya saya kira itu beneran puncak. Taunya puncak bohongan. Karena disitu hawa-hawanya emang udah kayak puncak gitu. Gunung Baru Jari udah kelihatan. Tapi itu ternyata belum setengahnya dari perjalanan ke puncak.
sunrise rinjani
Perjalanan semakin berat saat panas matahari udah mulai meyengat. Panasnya minta ampun. Mana air yang kami bawa udah habis. Langkah semakin melambat, udah lemas banget rasanya. Gara-gara dehidrasi. Saya terpaksa meminta seteguk (tapi banyak) air pada pendaki yang udah turun. Memang sungkan, tapi mau gimana lagi. Untungnya mereka baik hati. Bahkan ada pendaki yang tanpa diminta menawari airnya pada saya. Ya, dia tahu dari muka saya yang melas-melas hampir tumbang.

Selama summit attack, tiap kali berpapasan dengan pendaki yang turun, mereka selalu ngasih semangat. Ini yang saya suka saat digunung, rasa kemanusiaan sangat kuat meskipun nggak saling kenal.

tanjakan gunung rinjani
Tanjakan maut

Akhirnya saat waktu nunjukin jam 11 WITA saya berhasil menginjakkan kaki di Puncak Rinjani! Saya sangat bersyukur, impian saya untuk mendaki Rinjani dapat terwujud. Itu jadi momen bersejarah bagi saya. Nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata perasaan saya saat itu. Pemandangan dari puncak benar-benar wonderful. Danau segara anak, gunung baru jari, sampai Gunung Agung yang ada di pulau tetangga alias Bali kelihatan. Saya senang bukan kepalang. Perjuangan saya terbayar sudah!

Saat sampai di puncak, cuma ada saya dan 3 orang pendaki tetangga tenda. Mereka dari Bandung. Mungkin kasihan ngelihat saya yang dari tadi melirik terus air minum mereka, mereka jadi ngasih air setengah botol untuk saya. Alhamdulillah, mereka peka banget. Hatur nuhun, Lur!

Setelah puas di puncak, mereka turun. Sedangkan saya masih nunggu yang lain, karena baru saya yang sampai puncak. Lalu beberapa saat Yogi sampai puncak, dia sempat ketiduran katanya saat di jalan makanya lama. Kemudian di susul Idang yang lari-lari ke puncak setelah saya lambai-lambaikan botol berisi air.

puncak rinjani
Ini saya

puncak rinjani
Ini Idang

puncak rinjani
Ini Yogi

Yeah!!

Sayangnya kami nggak lengkap di puncak, Rahman dan Saifud nggak sampai. Rahman memutuskan berhenti sebelum tanjakan pamungkas dan nunggu disitu. Emang sih tanjakannya tinggal itu doang, tapi masih jauh lagi dari situ. Sedangkan Saifud, dia kembali ke Plawangan Sembalun setelah sampai setengah jalan. Karena kondisi dia yang kurang fit. Nggak apa-apa guys, nanti kita balik lagi!

perjalanan ke puncak
Ini Rahman

perjalanan ke puncak
Ini Saifud

tanjakan pamungkas rinjani
Tanjakan Pamungkas

Saya, Yogi dan Idang agak lama di puncak, menikmati Puncak Rinjani yang sepi. Cuma ada kami bertiga doang, pendaki lain udah pada turun. Di puncak saya nggak ngerasa dingin. Nggak kayak saat di Puncak Semeru yang bawaannya dingin banget. Mungkin karena saat di Semeru saya sampai puncak masih pagi dan angin disana kenceng, makanya dingin. Sedangkan saat sampai puncak Rinjani, saya sampai siang hari dan nggak ada angin. Nggak tau kenapa.

Satu jam kami di puncak. Kemudian kami turun dengan gaya sand skating, seperti saat di Semeru. Kami bertemu Rahman yang lagi asik foto-foto sambil menunggu kami. Lalu kami berempat kembali ke camp. Sudah kodratnya, perjalanan turun jauh lebih cepat dari pada naik. Saat naik saya habiskan waktu sekitar 8 jam. Tapi saat turun? Nggak sampai setengahnya, cuma 2 jam. Sakitnya tuh di kaki, mau lepas.

sand skating rinjani
Sand skating

Ada kejadian konyol saat kami turun dari puncak. Saat mulai memasuki kawasan yang ada pepohonannya, kami bertemu monyet. Banyak. Mereka melototin kami dengan tatapan kelaparan dan wajah yang sangar. Waduh bahaya, masa iya pendakian ini berakhir menjadi santapan kera. Udah punya firasat nggak enak, kami semua kabur. Lari sekuat tenaga. Dan itu sebuah kesalahan, kera-kera itu mengejar kami. Loncat dari pohon ke pohon. Saya jadi ngeri membayangkan salah satu kera itu loncat ke kepala saya, lalu memakan kepala saya.

Setelah lumayan jauh balapan sama monyet, mereka menyerah, mereka nggak ngejar lagi. Syukurlah kami nggak dijadikan makan siang mereka. Pertama kali saya ketemu monyet ngejar-ngejar ganas gitu. Ngeri.

Setelah sampai camp, kami semua tidur saking lelahnya. Mengabaikan rencana awal kami yang sebenarnya akan ke Danau Segara Anak sorenya. Kami putuskan untuk bermalam lagi di Plawangan Sembalun dan nggak turun ke Segara Anak. Sayang memang udah jauh-jauh tapi nggak nyoba mancing di Segara Anak, apalagi disana sumber air panas yang bisa di pakai untuk berendam. Yah, tapi melihat kondisi kami yang udah babak belur dan ada 1 teman kami yang kurang sehat. Lebih baik kami pulang dari pada terjadi hal yang buruk. Mungkin itu juga sebuah pertanda bahwa saya harus kembali ke Rinjani. Ya semoga saja, suatu hari.

Esoknya kami pulang kembali lewat Sembalun. Sempat kebingungan saat turun dari pos 1 ke Sembalun Lawang. Seingat saya sepanjang jalur itu nggak ada hutan, yang ada cuma padang rumput. Tapi kami tiba-tiba memasuki hutan lebat. Setelah bertanya pada porter yang kebetulan turun bareng kami, ternyata kami turun ke jalur Bawak Nao. Kami salah memilih jalan saat ada persimpangan. Tapi lewat situ emang lebih cepat. Kami sampai di Desa Bawak Nao di waktu Maghrib. Lalu kami pulang di jemput lagi sama Mas Setiawan dan langsung tepar saat sampai di rumah Yogi.

sunrise plawangan sembalun
Pagi di Plawangan Sembalun

Setelah melewati panjangnya padang savanna diteriknya matahari, bukit penyesalan yang tak kenal ampun, dan terakhir medan pasir berbatu yang menanjak terus seakan tak ada habisnya. Saya belajar bahwa untuk mewujudkan impian diperlukan sebuah perjuangan yang besar, mental yang kuat, juga tekad pantang menyerah dan disertai do’a agar bisa menggapai mimpi tersebut.

Sebuah perjalanan dari Jawa ke Lombok untuk menggapai sebuah impian, yaitu Rinjani. Rinjani memang cantik. Namun, dibalik keindahannya itu ada sebuah ujian yang harus saya hadapi. Berjuang dengan segala daya dan upaya. Pada akhirnya, perjuangan itu terbayar sudah ketika berhasil menjejakkan kaki di puncak setinggi 3726 mdpl.


Terima Kasih, Rinjani!

Tuesday, March 22, 2016

Mendaki Rinjani #2: Sebuah Ujian Bernama Rinjani

Selesai mengurus simaksi, kami packing ulang barang bawaan. Setelah memastikan nggak ada barang yang tertinggal, kami siap untuk mendaki. Mas Setiawan yang sedari tadi menunggu, kami pamiti. Yogi menitip pesan kepadanya supaya nanti 4 hari lagi menjemput di Senaru. Dia pun pamit untuk pulang dan meneteskan sebutir air mata, dia sedih melepas keberangkatan Yogi. Maklum, ini pendakian perdana bagi Yogi.

Rencana kami akan ngecamp di Plawangan Sembalun. Saya sempat tanya-tanya sama rangernya TNGR. Dia menyarankan kami untuk camp di pos 1 atau pos 2. Khusus di pos 2, disitu ada sumber airnya. Karena jarak ke Plawangan Sembalun jauh banget dari Sembalun Lawang. Setelah didiskusikan kami putuskan tetap pada rencana awal kami. Tapi kalau emang kondisi kami udah drop dan nggak bisa lanjut, kami akan camp disitu juga.
taman nasional gunung rinjani
Kami memulai pendakian sekitar jam 11 WITA. Saya dapat firasat nggak enak. Jam-jam segitu matahari udah ada di atas kepala, lagi panas-panasnya. Perjalanan diawali melewati jalan beraspal yang udah berlubang-lubang. Dari situ, saya udah di perlihatkan pemandangan yang luar biasa. Rinjani di depan mata! Semangat saya berapi-api. Gunung yang selama ini saya impikan untuk saya daki, akhirnya saya bisa bermesraan dengannya beberapa hari kedepan. Tapi setelah di pikir-pikir, jarak kami saat itu dengan Rinjani masih jauuuh. Jauh di mata, tapi dekat di hati. *langsung loyo*

gunung rinjani
Rinjani jauh di mata

Setelah jalan aspal habis, kami memasuki jalan makadam yang kanan-kirinya adalah ladang milik warga setempat. Baru aja kami jalan beberapa menit, Idang perutnya bermasalah. Pengen boker. Alhasil kami menepi sebentar nunggu Idang memenuhi panggilan alamnya. Untungnya disitu banyak semak-semak yang rimbun, jadi dia bisa boker tanpa kelihatan.

sembalun lawang
Idang sembunyi di balik semak-semak

Perjalanan dilanjut, kami memasuki trek dengan jalan setapak berdebu dan padang savanna disekelilingnya. Wah, saya excited banget. Saya sering lihat foto orang di Rinjani, salah satunya di padang savanna-nya ini. Di foto-foto itu terlihat keren abis padang savanna-nya, fotogenik banget. Membayangkannya saja saya serasa ada disana. Nikmat sepertinya, tiduran di padang rumput nan luas sambil memandang awan yang terbang bebas di langit. Ahh.. dulu itu cuma angan-angan.

Lalu saat saya benar-benar ada disana, nyata, bukan hanya lamunan. Saya berubah pikiran, saya ogah lama-lama di padang savanna. Panasnya bukan main. Matahari sedang menguji kami, membakar habis kami semua yang sedang ndaki Rinjani. Emang sih pemandangannya keren banget. Tapi jangankan foto-foto, berhenti sebentar aja nggak mau. Pengennya cepat-cepat nyari tempat yang teduh untuk istirahat.

Nahasnya, kami nggak nemu tempat yang teduh. Namanya juga padang savanna, padang rumput. Isinya ya rumput semua. Kalau pun ada pohon itu jarang banget. Sekalinya nemu jaraknya jauh dari jalur. Maklum, kami mendaki di bulan Agustus. Puncaknya musim kemarau, lagi panas-panasnya. Kesalahan kami juga nggak bawa sunblock, alhasil kulit kami terbakar, mengelupas. Terutama kulit di wajah.

padang rumput rinjani
Padang Savanna

padang rumput rinjani
Hamparan padang rumput

Dari info yang saya dapat, Sembalun Lawang ke pos 1 itu sekitar 3 jam. Dan info itu benar, kami tempuh sekitar 3 jam. Tapi kondisi di lapangan serasa lama banget. Meskipun medannya bisa dibilang landai, nggak menanjak. Tapi jaraknya itu jauh. Mana panas, dan itu bikin cepat haus. Alhasil, persediaan air menipis dengan cepat.

Jam 2 WITA kami sampai di pos 1 dengan kondisi 5L. Lesu, loyo, lelah, lieur dan lapaaar. Disitu ada beberapa bangunan yang bisa digunakan untuk isirahat. Dan yang paling penting terhindar dari sengatan matahari. Fiuh, akhirnya dapat tempat berteduh juga. Di pos 1 kami mengisi perut dulu sebelum lanjut perjalanan.

pos 1 gunung rinjani
Makan siang pos 1

Selepas pos 1, medannya nggak jauh beda dari sebelumnya. Sejauh mata memandang cuma padang savanna. Matahari juga masih menggelantung diatas kepala kami. Nggak lama setelah meninggalkan pos 1, kami melihat pos 2 di kejauhan. Awalnya saya nggak percaya, tapi kami yakin yang kami lihat adalah bangunan untuk istirahat seperti yang ada di pos 1. Pada akhirnya saya percaya, karena sekitar 30 menit kemudian kami sampai di pos 2

Suasananya ramai, banyak pendaki yang istirahat dan sedang mengisi stok air. Ya, selain di Plawangan Sembalun, di pos 2 juga ada sumber air. Disini kami juga mau refill persediaan air. Tapi karena musim kemarau, air yang mengalir kecil. Akibatnya mau ngisi air harus ngantri. Untuk ngisi satu botol 1.5L aja lama banget. Harus sabar, orang sabar di sayang Tuhan.

sumber air pos 2 rinjani
Sumber air pos 2

pos 2 gunung rinjani
Jembatan di pos 2

Kemudian kami lanjut perjalanan lagi ke pos 3. Medannya masih sama, bedanya matahari udah nggak segalak sebelumnya. Lumayan. Sejam kemudian kami sampai di pos 3, saya senang banget, target kami udah dekat. Disitu juga kami ketemu sama teman kami dari Tasik. Mereka lagi istirahat. Akhirna katimu oge Mang, nya. Sambil ngobrol-ngobrol, saya baru tau kalau disitu bukan pos 3, tapi pos bayangan. Elah, ngapain juga ada pos bayangan coba. Kan PHP banget, udah seneng-seneng taunya bukan pos 3.

Tapi pos 3 nggak jauh dari situ, sekitar 10-15 menit jalan nyantai. Di pos bayangan kami lanjut duluan, karena Mamang Tasik masih masak-masak. Sesampainya di pos 3, kami di sambut oleh saudara jauh Idang. Wih, Idang emang keren, di Rinjani aja punya saudara. Ya, dia adalah kera. Nggak tau awalnya kapan dan darimana, kalau lagi naik gunung terus ketemu monyet pasti identik dengan Idang. *peace ah*

kera di pos 3 rinjani
Lucu yah

Dari sini, kami dihadapkan pada satu rintangan terakhir sebelum Plawanan Sembalun. Rintangan yang bakal menjatuhkan mental siapapun jika tidak punya tekad yang kuat. Ya, dialah Bukit Penyesalan. Ada 7 bukit yang akan menguji para pendaki. Ngomongin soal penyesalan, menyesal itu selalu ada di akhir. Tapi nggak dengan bukit ini. Dijamin nyesel di awal! Dengan trek menanjak yang tak ada habisnya dan melewati 7 bukit sungguh bukan perkara yang mudah.

Gara-gara keseringan break, kami sampai kesusul sama Mang Tasik. Dia bilangnya sih gini waktu ketemu di pos bayangan, “Urang mah nyantai wae lah, maklum faktor U. Sok weh nu ngora mah tipayun”. Iya sih bilang begitu, tapi tau-tau udah nyusul aja. Di bukit penyesalan pula. Tapi sepertinya perkataan dia benar, setelah berhasil nyusul kami sekali. Mereka nggak pernah muncul lagi batang hidungnya. Mereka pasti memutuskan ngecamp di tengah perjalanan.

Sampai langit menjadi gelap pun kami masih di tengah perjalanan dan nggak tahu masih seberapa jauh ke Plawangan Sembalun. Mana nggak banyak pendaki yang ndaki di sekitar kami, cuma ada 2 rombongan yang masih berjuang seperti kami.

Hari semakin malam tapi kami belum sampai juga. Kondisi fisik udah lelah banget, tiap kali break bawaannya pengen tidur. Apalagi kalo merem, pasti ketiduran saking capeknya. Saifud yang paling drop, tiap break dia merem dan ketiduran. Tapi terus kami semangati.

Hingga akhirnya di sebuah tanjakan yang nggak terlihat ujungnya terdengar suara. Bukan suara lolongan srigala apalagi suara kentut. Ya, itu suara orang. Di ujung tanjakan itu pasti Plawangan Sembalun, saya yakin. Dan benar saja, itu Plawangan Sembalun. Akhirnya kami sampai juga setelah menghadapi bukit penyesalan selama 6 jam! Jam 10 malam WITA kami mengakhiri perjalanan hari itu. Dengan rasa lega, bukan penyesalan.

Tanpa pikir panjang, kami langsung mendirikan tenda nggak jauh dari tanjakan terakhir. Langsung menghadap Danau Segara Anak. Luar biasa. Kami sempatkan makan malam dan membuat api sebelum tidur. Saya membuat api ala kadarnya, cuma bakar kertas dan sampah yang ada.

makan malam di plawangan sembalun
Makan malam


Setelah melalui perjalanan nyaris 12 jam di uji oleh trek Rinjani yang tanpa ampun, nggak bisa dibohongi kondisi kami sangat lelah. Udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Maka seketika itu pula kami pergi ke dunia lain. Dunia mimpi.

Saturday, March 19, 2016

Disambut Hangat oleh Alam di Wotgalih

rawa pantai wotgalih

Pantai Wotgalih di Lumajang mungkin tidak setenar Pantai Papuma di Jember, Pantai Pulau Merah di Banyuwangi ataupun Pantai 3 Warna di Malang. Karena hal itu Pantai Wotgalih nggak ramai pengunjung, kecuali saat hari libur. Yang unik, Pantai Wotgalih (juga pantai-pantai di Lumajang) berpasir hitam atau pasir besi. Disebut begitu karena pasirnya memang berkadar besi. Pasir-pasir itu berasal dari Gunung Bromo dan Semeru yang terbawa aliran lava atau sungai. Begitu info yang saya dapat dari internet.

Perjalanan ini saya lakukan bersama Cahyadi dalam long trip kami. Sebelumnya kami dari Coban Sewu, lalu langsung menuju Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Lumajang. Nggak tahu tuh dimana. Saya sama Cahyadi yang orang Jawa Barat, mana pernah berpergian ke daerah Jawa Timur sebelumnya. Jadi kami hanya bermodalkan google maps.

Awalnya perjalanan kami lancar-lancar saja dengan mengikuti petunjuk google maps. Namun, google maps menjadi tidak berguna ketika kami blusukan ke daerah pesisir. Dari pada malu bertanya sesat di jalan, entah berapa kali kami bertanya pada warga arah ke Pantai Wotgalih. Tiap kali bertanya ke orang yang berbeda, kami mendapat perlakuan yang berbeda pula.

Yang pertama terjadi setelah kami melaksanakan shalat Ashar di masjid. Ini kali pertama kami kehilangan arah, di situ ada pertigaan. Awalnya kami akan mengikuti petunjuk pada plang yang mengarah ke Lumajang. Tapi dari pada salah, saya bertanya ke empunya warung sembako di seberang masjid.

 “Maaf Bu, kalau ke Pantai Wotgalih ke arah mana ya?”, tanya saya sambil membeli tambahan perbekalan.

“Pantai Wotgalih lurus aja kesana Mas, tapi masih jauh”, ibu sembako menunjuk arah yang berlawanan dengan arah Lumajang yang terpampang di plang.

“Emang Masnya darimana?”, ibu itu balik bertanya.

“Saya dari Jawa Barat Bu, cuma sekarang lagi kuliah di Malang”, jawab saya.

“Oalah. Jauh sekali mainnya. Kenapa nggak di Malang aja? Balekambang atau apa itu namanya”. Wah ibu ini tahu Balekambang juga, suka jalan-jalan kayaknya.

“Enggak Bu. Soalnya kami mau ke Jember, tapi mampir dulu di Pantai Wotgalih”.

Setelah itu dia menjelaskan lagi arah ke Yosowilangun secara detail. Tapi karena daya ingat saya yang lemah, saya nggak ingat sedikit pun kecuali “lurus aja kesana”. Heuheu..

Selagi memasukkan perbekalan ke dalam carier, ibu sembako tadi keluar dari rumahnya sambil membawakan segelas teh hangat. Tapi tawarannya terpaksa kami tolak. Karena hari sudah sore, kami takut kemalaman di jalan. Kalau kami terima tawarannya, kami harus duduk-duduk dulu dan ngobrol tentunya. Maaf ibu sembako yang baik hati, saya jadi nggak enak.

Kemudian kami juga sempat bertanya pada nenek-nenek lanjut usia yang sedang menyapu halamannya. Saat itu Cahyadi yang bertanya menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi nenek itu menjawab menggunakan Basa Jawa, kami berdua melongo. Sebenernya saya paham Basa Jawa. Masalahnya nenek itu ngomong pake Basa Jawa Krama. Sedangkan yang saya paham cuma Basa Jawa yang sering saya denger dari temen-temen di kampus, apalagi kalau bukan kata-kata yang aneh.

Melihat kami melongo, nenek itu kembali ngomong pake Basa Jawa tapi tangannya sambil menunjuk-nunjuk ke arah jalan. Oh iya Nek, kami paham. Nuwun sewu, Nek. Nenek itu paham apa yang ditanya Cahyadi, tapi mungkin dia nggak bisa menjawab dengan Bahasa Indonesia. Kata temen saya, di Jawa orang-orang yang udah lanjut usia emang kadang ada yang nggak bisa ngomong Bahasa Indonesia, tapi dia paham apa yang dia denger.

Selain bertemu ibu sembako dan nenek berbahasa Jawa Kromo, selebihnya kami bertanya pada bapak-bapak dan anak muda. Tentu kami nggak mengalami kejadian seperti di tawari teh hangat ataupun diajak ngomong Basa Jawa Krama.

Pada akhirnya, kami sampai di kawasan Pantai Wotgalih sekitar jam 5 sore, tepatnya di lokasi parkir kendaraan. Ketika kami sudah sampai di ujung jalan, di sana ada banyak orang. Saat saya mendekat, salah seorang dari mereka bertanya.

“Mau kemana Mas?”.

“Ke Pantai Wotgalih Pak, bener disini?”, jawab saya.

“Iya bener, tapi sekarang lagi ditutup. Jembatannya lagi direnovasi, jadi nggak bisa lewat”. Saya tersentak, gimana nasib kami.

“Renovasinya masih lama Pak?”. Ucap saya memecah keheningan, karena saya sebelumnya melongo mendengar jawaban Bapak itu.

“Masih Mas, baru mulai sekitar semingguan. Masih 2-3 bulan lagi”.

Mampus masih lama banget, nggak mungkin juga kami menunggu selama itu cuma untuk ke pantainya. Saya pun mengucap terima kasih lalu mendiskusikannya dengan Cahyadi.

Selagi diskusi, ada seseorang yang menghampiri kami. Kali ini mas-mas berumur sekitar 20an akhir. Dia bercerita kalau dia sedang mengantar tamunya dari Surabaya. Lalu dia menawarkan solusi pada kami untuk lanjut saja ke Papuma, karena disana buka terus sampai malam. Selain itu disana juga ramai. 

pasir besi pantai wotgalih
Pasir besi di tempat parkir

Dia tahu aja kalau kami kebingungan. Kami sempat memikirkan opsi itu. Papuma emang tujuan kami, tapi Lumajang – Jember berapa jam? Mana nggak tahu jalan, udah malam pula. Selain karena hal-hal itu, kondisi kami juga udah lelah setelah perjalanan dari Malang hingga ke Wotgalih.

Setelah mendiskusikannya lumayan lama, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam dan mendirikan tenda di lahan parkir Pantai Wotgalih. Suasana saat itu sudah sepi, warga dan wisatawan dari Surabaya juga udah pulang. Tapi masih tersisa satu orang warga, bapak-bapak. Kami bertanya apakah boleh bermalam disana. Dia menjawab silahkan saja, lalu menambahkan kalau disitu saat malam kondisinya tetap aman meskipun sepi.

Kemudian kami mendirikan tenda. Suasananya sepi nan menentramkan. Selain kami, hanya terdengar suara debuaran ombak dan suara hewan seperti siulan burung bersautan, katak, jangkrik dan cicak. Aah, suara alam itu menentramkan jiwa banget deh. Lalu saat masih mendirikan tenda, ada sekawanan entok yang terbang membuat sore itu semakin menarik bagi kami.

camping di pantai wotgalih
Tenda pinjaman

Ketika langit sudah gelap, aktivitas kami tinggal istirahat. Yaitu masak, makan dan molooor.

Sekitar jam 3 dini hari, saya kebelet kencing. Saya pun keluar tenda dan mencari lahan. Selagi kencing, saya menengadah ke langit. Saya terpukau bukan main, ribuan bintang bertaburan di langit Wotgalih malam itu. Plus bonus dengan munculnya Bintang Fajar alias Planet Venus. Bersih tanpa ada awan ataupun polusi cahaya yang menghalangi. Rembulan juga sudah tidak nampak. Setelah panggilan alam selesai, saya buru-buru balik ke tenda dan mengambil kamera untuk mengambil gambar.

Cahyadi yang sedang tidur sampai terbangun akibat saya krasak-krusuk. Saya yang nggak terbiasa megang DSLR, nyoba buat otak-atik settingan kamera supaya bisa dapat hasil yang bagus. Baik saya maupun Cahyadi nggak begitu paham soal fotografi, apalagi motret malam berbintang. Tapi saya pernah baca artikel tentang tips tentang astrofotografi, gimana cara untuk setting kameranya. Dan hasilnya lumayanlah untuk seorang fotografer amatiran. Hehe!

malam berbintang di wotgalih
Taburan bintang di langit

venus di wotgalih
Bintang Fajar alias Venus (warna kuning paling terang)

hotel seribu bintang di wotgalih
Eksis dulu

Nggak lama kami foto-foto, karena baterai kamera tiba-tiba udah merah aja alias lowbat. Sebelum kembali tidur, saya memandang ke arah langit beberapa saat. Mengagumi karya Tuhan yang luar biasa indah. Saya bersyukur bisa melihat keindahan langit yang penuh bintang malam itu. Hal yang tentu sulit ditemukan kalau berada di kota.

2 jam kemudian saya bangun. Ketika mengintip keluar tenda, saya disuguhkan dengan cantiknya matahari terbit pagi itu. Luar biasa. Saya tak henti dibuat takjub.

sunrise di wotgalih
Sunrise!

ngopi di wotgalih
Awali pagi dengan ngopi

Memang benar saya agak kecewa begitu tahu kalau Pantai Wotgalih saat itu. Untungnya kami memutuskan untuk bermalam disitu. Kalau nggak, kami nggak bakal menemukan alam yang sangat bersahabat saat itu. Meskipun cuma camp di tempat parkir (bukan di pinggir pantai), tapi yang didapat setimpal dengan perjuangan kami mencari Wotgalih.


Jam ½ 7 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Jember.

Tuesday, March 15, 2016

Mendaki Rinjani #1: Sebuah Perjalanan Menuju Timur Indonesia

Siapa yang nggak tahu Gunung Rinjani? Gunung yang masuk list ‘1000 place to see before die’ ini adalah gunung berapi tertinggi ke-2 (3726 mdpl) di Galaksi Bima Sakti. Bukan, di Indonesia, setelah Gunung Kerinci. Pesona Rinjani emang membuat banyak orang memasukannya dalam bucket list. Bukan cuma orang Indonesia aja, turis mancanegara juga banyak yang datang ke Rinjani. Jangan heran kalau kesana banyak banget bule, yang kebanyakan dari Eropa.
gunung rinjani
Karena keindahannya, nggak sedikit pendaki gunung saat dikaruniai seorang anak menamai Rinjani sebagai nama anaknya. Keponakan, teman, juga anaknya teman saya (Bang Andi, teman ndaki di Slamet) menamai anaknya dengan Rinjani. Oh, Rinjani..

Saya yang juga punya mimpi untuk ndaki Rinjani akhirnya kesampaian di musim panas tahun 2014. Bersama 4 orang teman, saya ndaki selama 3 hari tepatnya pada tanggal 13-15 Agustus 2014.

***

Kala itu saya sedang menjalani libur semester genap yang maha panjang, hampir 3 bulan. Bayangkan, di rumah selama itu dan nggak melakukan apapun itu rasanya seperti ngabugang kalau kata basa sunda mah. Alias ngebangke. Akhirnya proses pembugangan saya berakhir saat saya pergi ke Lombok. Yuhuuu, Rinjani sudah memanggil!

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat ragu dengan kondisi kaki saya. Penyebabnya adalah sekitar seminggu sebelum berangkat saya malah ndaki Gunung Ciremai dan itu via jalur Linggajati. Tau sendiri jalur itu ‘neraka’ banget. Besoknya setelah dari Ciremai, hati saya sakit. Eh kaki saya maksudnya, sakit selama beberapa hari. Untungnya saat berangkat kaki saya udah agak baikan.

Perjalanan di mulai dari Malang. Saya, Idang, Rahman dan Saifud berangkat dengan pesawat ke Lombok. Bohong deng, kami menuju Lombok dengan jalur darat juga nyebrang laut. Itu satu-satunya pilihan yang kami mampu dari sisi finansial. Ehm, mahasiswa.

Di stasiun Malang, saya melihat banyak orang yang menggendong carier. Saya yakin pasti ada yang punya tujuan sama kayak kami. Dan benar, kami bertemu 3 orang dari Tasikmalaya (cihuy ada yang bisa diajak ngobrol basa sunda) yang akan mendaki Rinjani juga. Sedihnya, saya lupa nama mereka semua. Maklum otak kiri kan emang gitu. Tapi muka InshaAllah ingat (kalau ketemu lagi).

Mulai dari kereta, bus dan kapal Ferry kami jajal. Cuma saat naik Ferry aja saya merasa nyaman di perjalanan. Soalnya di kapal itu leluasa banget. Nggak duduk terpaku kayak di kereta, apalagi di bus. Di Ferry saya bisa nonton layar tancep (padahal mah tv) yang disediakan di dalam kapal. Selain itu bisa juga jalan-jalan berkeliling kapal sambil melihat pemandangan disertai angin laut yang kencang. Kalau mau yang agak menantang, coba aja nyetir kapalnya, minta izin dulu sama nahkodanya. Asal akhirnya nggak kayak Titanic aja.

kapal ferry padang bai - lembar
Berlayar mengarungi laut

Ada kejadian kurang enak yang menimpa Rahman saat sampai di Pelabuhan Gilimanuk Bali. Disana saat turun di cek ‘identitas’ dulu sebelum keluar pelabuhan. Tulisannya sih cuma ‘identitas’ aja. Nah Rahman ini dia nggak ada KTP, jadi dia nunjukin SIM. Toh SIM juga kan identitas yah. Tapi petugasnya nggak mau, kekeuh harus KTP. Petugas itu meminta sesuatu, lalu Rahman ngeluarin dompet dan dikasihlah petugas itu selembar ‘kertas berwarna hijau’. Rahman pun dilepaskan oleh petugas tersebut.

pelabuhan ketapang
Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

Setelah kejadian itu kami langsung menuju terminal, cari bus ke Padang Bai. Kami beruntung, busnya belum berangkat dan itu bus terakhir. Tapi saat masuk, kami nggak jadi beruntung. Busnya udah penuh, terpaksa kami duduk di kursi kayu panjang. Kesialan belum selesai, karena cuma saya yang nggak kebagian duduk di kursi kayu itu. Daripada berdiri, saya jadikan aja carier sebagai kursi darurat. Dari situ saya berpikir, ternyata carier itu multifungsi.

Perjalanan Gilimanuk ke Padang Bai dengan kondisi begitu sangat menyiksa. Mana sopirnya ugal-ugalan. Ngeri. Saat tiba di Terminal Ubung, ada beberapa orang turun. Salah satu dari mereka kehilangan ponselnya. Nggak terima dengan kenyataan, dia dan teman-temannya pengen ngecek tiap penumpang. Tapi di protes para penumpang lain karena bakal makan waktu lama. Jadi akhirnya cuma ngecek seorang bapak yang duduknya disamping orang yang kehilangan ponsel. Hasilnya nihil. Si bapak dari awal emang udah jujur nggak ngambil dan emang bener saat di periksa nggak ada ponselnya.

Yang jadi masalah itu mungkin di ponselnya masih ada foto mantannya. Lalu dia takut ada yang nemuin dan laporin ke pacarnya. Makanya dia ngotot sampai-sampai mau ngecek penumpang satu per satu. Berkat itu pula seluruh penumpang terbuang waktunya selama lebih dari 30 menit.

Jalan darat emang banyak hal nggak diduga. Saat udah dekat pelabuhan Padang Bai, jalanan macet. Ngantri panjang, orang-orangnya pada keluar dari mobil. Mana mesinnya dimatiin pula. Wah ini firasat buruk. Benar saja, ini emang bakal lama. Kami disuruh turun sama sopir, jalan kaki. Untungnya pelabuhan udah deket. Tapi peruntungan kami cuma bentar. Sampai pelabuhan, belum ada satu pun kapal Ferry. Katanya sih gara-gara cuaca buruk, kapalnya belum ada yang datang. Kami terpaksa harus nunggu lagi. Menunggu kapal Ferry yang nggak jelas kapan datangnya ini sama kayak lagi nunggu jawaban dari gebetan.

pelabuhan padang bai
Pelabuhan Padang Bai

Setelah perjalanan hampir 24 jam, kami sampai di Pelabuhan Lembar pada siang hari. Disini kami tinggal menunggu Yogi menjemput, teman saya yang emang tinggal di Mataram. Dia juga akan ikut ndaki bareng kami. Di pelabuhan ini juga kami berpisah dengan 3 orang dari Tasik itu. Karena mereka langsung ke Sembalun, sedangkan kami numpang tidur dulu di rumah Yogi. Saya pun berjabat tangan dengan mereka dan bilang “Engke katimu di Rinjani Mang, nya?”. Mereka membalas, “Enya Ham, diantos”. Saya panggil dia ‘Mang’ karena mereka jauh lebih tua dari saya. Mang = emang = mamang, artinya nenek. Ngaco, yang bener artinya paman.

Dari pelabuhan ke rumah Yogi jaraknya lumayan jauh. Kami yang udah mabok perjalanan gara-gara nggak bawa antimo, langsung tepar tak berdaya begitu sampai di rumah Yogi. Keluarga Yogi menyambut kami dengan sangat baik. Malam harinya kami dijamu. Kami diajak makan di sebuah restoran di Mataram. Yang kalau saya kira-kira, harga sekali makan disitu cukup untuk makan seminggu bagi kami. Ehm, mahasiswa.

Kami makan makanan khas Mataram, khas Lombok, yang saya lupa makan apa aja disitu. Banyak banget soalnya, saya cuma ingat sambalnya. Sambal disana ketika masuk mulut nggak terasa pedas untuk satu, dua atau tiga suapan pertama. Baru setelah itu, pedasnya terasa sekali. Mantap pokoknya. Udah enak, dibayarin pula.

kuliner lombok
Makaaan!

Di Mataram zona waktunya pakai WITA alias beda sejam sama WIB. Paginya saya bangun jam 5 karena kebelet boker, saya heran suasananya masih gelap banget. Lalu nggak lama dari itu, adzan Subuh baru berkumandang. Maklum saya jarang kemana-mana, nggak terbiasa sama begituan.

mataram
Siap berangkat
(kiri ke kanan: Rahman, Saifud, Idang, Yogi dan Saya)

Jam 7 WITA, kami berangkat menuju Sembalun Lawang. Titik awal pendakian kami. Kami diantar oleh pegawai orang tuanya Yogi, Mas Setiawan dengan menggunakan mobil. Perjalanannya lumayan lama, mungkin ada 3 jam. Meskipun Mas Setiawan bawa mobilnya udah kayak pebalap F1. Kuenceng, tapi seuseureudeug. Saya cuma bisa komat-kamit baca do’a aja supaya selamat sampai tujuan.

Melewati kota Mataram, lalu sempat kejebak di pasar yang rame banget dan agak lega saat sudah masuk kawasan TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani). Ketika masuk gerbang yang ada tulisan TNGR gitu saya kira udah dekat, eh taunya masih lumayan jauh.

Ditengah jalan kami sempat membeli strawberry yang dijual di pinggir jalan. Lumayan, pagi-pagi makan buah. Rasanya asem-asem manis. Dan itu membuat mata saya merem melek, saking dominan asemnya dibanding manisnya.

desa sembalun lawang
Pemandangan di desa Sembalun

Sesampainya di Sembalun Lawang, kami langsung urus izin mendaki. Rencana kami mendaki selama 4 hari. Berangkat dari Sembalum dan turun via Senaru. Saat itu harga tiket masuknya Rp 5000/hari/orang, kalau sekarang kurang paham. Harga segitu jauh lebih murah dari pada ke Semeru yang harganya Rp 17500/hari/orang.

Persiapan udah beres, kami pun berangkat. I’m coming, Rinjani!

desa sembalun lawang
Pintu Gerbang Pendakian

Saturday, March 12, 2016

Coban Sewu, Air Terjun Mengagumkan dan Membingungkan

coban sewu

Coban Sewu belakangan ini sudah ramai banget diperbincangkan. Apalagi kalau bukan karena pesonanya yang mengagumkan. Siapapun pasti akan terbuai akan keindahannya. Tapi Coban Sewu juga ternyata membingungkan. Kenapa? Simak cerita saya.. Hehe!

Coban Sewu atau biasa disebut juga sebagai Air Terjun Tumpak Sewu berada di perbatasan antara Malang dan Lumajang. Perbedaan penamaannya juga berasal dari lokasi pintu masuknya. Pintu masuk dari Malang menyebutnya sebagai Coban Sewu, sedangkan dari Lumajang adalah Air Terjun Tumpak Sewu. Coban yang artinya air terjun dan sewu yang berarti seribu. Tidak berlebihan, karena memang banyak banget aliran air terjun yang berada di kawasan itu.

Idul Adha tahun lalu, kebetulan tepat hari kamis yang membuat saat itu menjadi long weekend. Saya bersama seorang teman, Cahyadi, melakukan long trip dari Malang menuju Jember. Lalu kembali ke Malang lewat Probolinggo, dan itu kami lakukan dengan motoran.

Ba’da shalat Id, kami berangkat. Dari Malang Kota kami menuju Dampit dan lanjut ke arah Lumajang. Awalnya saya maupun Cahyadi cuma tahu kalau Coban Sewu itu berada di Lumajang. Namun setelah melewati Dampit dan masih di Kabupaten Malang, kami melihat banner yang bertuliskan “Coban Sewu” dengan gambar pemandangan air terjun yang familiar bagi saya. Kami berdua bingung. Karena setahu kami Coban Sewu adanya di Lumajang bukan di Malang. Sehingga saya berpikir kalau air terjun yang bernama “Coban Sewu” itu ada 2. Di Malang satu dan di Lumajang satu.

Karena penasaran, kami pergi kesana. Kami sempat bertanya pada salah satu ibu-ibu yang lagi ngegosip.

“Maaf Bu numpang tanya. Kalau ke Coban Sewu bener kesini?”, tanya saya.

“Iya mas bener. Sampean ikutin aja jalannya, nggak jauh kok”, jawab ibu gosip.

Untuk memastikan kalau Coban Sewu itu Tumpak Sewu atau bukan, saya nanya lagi.

“Bu, kalau Coban Sewu sama Tumpak Sewu itu sama?”, tanya saya lagi.

Si ibu kebingungan, lalu nanya sama temennya. Lalu temennya jawab “iya sama mas”, tapi dengan nada nggak yakin dan raut wajah yang bingung juga. Wah ibu-ibu ini kayaknya nggak tahu. Dari pada kelamaan, kami pun pergi sambil mengucapkan terima kasih. Kami pun berasumsi kalau itu air terjun yang berbeda dengan yang kami tuju.

coban sewu
Abadikan Momenmu!

Nggak sampai 5 menit, kami sampai di tempat parkir dan pintu masuk Coban Sewu. Setelah bayar tiket seharga 5rb/org, kami harus trekking menuju lokasi air terjun. Btw, saat itu saya bawa carrier 70+5L. Soalnya kami bawa tenda untuk tempat bermalam kami. Camp di bawah air terjun. Nggak deng, yakali emang mau meditasi.

Setelah trekking sekitar 10-15 menit, kami udah bisa lihat air terjunnya dari atas. Saya heran, begitu juga Cahyadi. Karena dari info-info yang kami dapat, untuk menuju Coban Sewu harus trekking sekitar 1 jam. Lah ini 15 menit udah nyampe. Saya semakin berpikir kalau itu bukanlah air terjun destinasi kami. Tapi kalau lihat air terjun itu, panoramanya seperti yang sering saya lihat di internet. Familiar banget. Saya bingung, browsing di internet tapi nggak ada sinyal. Saya stress, nanya Cahyadi tapi dia juga nggak tahu. Beuh..

Ah bodo amat, dari pada bingung mikirin itu kami putuskan untuk melihat air terjun dari bawah. Trek yang dilalui untuk turun ke Coban Sewu adalah jalan yang dibuat oleh warga berupa tangga-tangga yang terbuat dari bambu. Hanya muat untuk 1 orang dan harus ekstra hati-hati saat menuruninya, karena jatuh puluhan meter ke permukaan tanah adalah bukan pilihan. Sebelumnya saya titipkan carier di salah satu warung di sekitar situ, karena nggak memungkinkan turun sambil gendong carier.

Saat tiba di bawah, derasnya suara air terjun dari berbagai titik bergemuruh sebelum kami bisa melihatnya. Karena terhalang batu besar dan harus trekking sedikit lagi melewati sungai kecil. Setelah melewati batu besar kami baru bisa melihat keindahan seribu air terjun dengan disambut oleh percikan airnya. Saya dengan sigap menyimpan kamera DSLR yang sedang saya gunakan karena khawatir basah kena cipratan air. Maklum, kamera pinjaman. Punya teman saya, Saipud. Ganti dengan mengeluarkan kamera pocket untuk mengabadikan momen.

coban sewu
Coban Sewu dari bawah

coban sewu
Aliran lainnya

Suasana di sana ramai, maklum lagi pada libur Idul Adha. Orang-orang butuh piknik. Ada sekelompok remaja, ada pasutri bersama anaknya, sampai yang kakek-nenek juga ada. Apalagi yang pacaran, banyak. Dan yang jomblo juga ada ternyata! Ya, saya sendiri.

coban sewu
yang pacaran lagi selfie

coban sewu
Rame euy

Sampai saat itu, kami masih berpikir kalau air terjun yang di depan mata kami ini bukanlah Coban Sewu tujuan kami. Karena itu, kami nggak berlama-lama di sana. Setelah menikmati keindahannya dari bawah sambil mengabadikan momen, kami kembali naik.

Ketika akan naik tangga bambu yang sebelumnya kami turuni, kami melihat ada beberapa orang datang dari arah yang berbeda. Mereka tidak datang dengan turun melewati tangga bambu, melainkan melewati jalan di sepanjang aliran sungai. Sambil terus naik, saya dan Cahyadi berdebat apa itu adalah Coban Sewu yang selama ini jadi tujuan kami. Kalau iya, ngapain kami buru-buru.

Saya mengingat-ingat foto-foto di internet yang pernah saya lihat. Air terjun itu mirip banget sama yang ada di internet. Saya yakin. Begitu juga dengan Cahyadi. Kami pun tetapkan kalau saat itu kami sedang berada di Coban Sewu tujuan kami. Kami menyesal karena terlalu buru-buru saat di bawah. Tapi karena sudah terlanjur, ya sudahlah. Balik turun lagi juga males. Akhirnya kami istirahat di warung yang saya titipi carier. Sambil makan gorengan dan minum jus jeruk bentuk sachet alias nut*isari.

Lalu kami meninggalkan Coban Sewu untuk melanjutkan perjalanan ke Lumajang. Di perjalanan, ketika sudah melewati perbatasan antara Malang dan Lumajang, saya melihat banner bertuliskan Tumpak Sewu! Ya, saya baru benar-benar yakin kalau Coban Sewu dan Tumpak Sewu adalah air terjun yang sama.

coban sewu
Tuh dengerin