Friday, June 3, 2016

Gunung Papandayan #2: Dari Hutan Mati Hingga Tegal Alun

hutan mati papandayan

Entah belum merasa capek atau sudah kebiasaan, saat mencoba istirahat dan memejamkan mata malah nggak bisa. Sedangkan Salman, Ivan dan Fikri yang satu tenda dengan saya sudah tidur dan pergi ke alam lain. Mana panas matahari lagi puncak-puncaknya. Berada di dalam tenda nggak ada bedanya dibandingkan dengan di luar tenda, sama-sama panas.

Nggak tahan dengan panasnya, saya kabur mencari spot yang teduh di bawah pepohonan. Aslinya mau ngajak yang lain, tapi karena udah pada tidur dan sungkan mau bangunin, akhirnya pergi sendirian. Awalnya saya cuma mau cari tempat yang teduh sambil mengambil gambar di sekitar Pondok Saladah aja. Tapi karena penasaran sama Hutan Mati, saya pergi ke sana.

Saat tiba di sana, panorama yang saya lihat sungguh menakjubkan. Amazing! Bayangkan, sebuah hutan yang di tumbuhi banyak pepohonan, pohon-pohon tersebut sudah mati (nggak punya daun) namun tetap berdiri tegak. Spot unik yang hanya bisa ditemukan di Gunung Papandayan. Hutan Mati sendiri terbentuk akibat letusan Gunung Papandayan beberapa tahun yang lalu. Membakar hutan Papandayan hingga pepohonannya mengering dan tanahnya menjadi putih yang sarat akan kandungan belerang.

hutan mati papandayan
Lagi nyari angle yang apik

Di Kawah Mati saya memotret pemandangan yang sangat unik ini dari berbagai sudut. Puas mengabadikan panorama Kawah Mati, saya agak bimbang. Balik ke Pondok Saladah atau lanjut ke Tegal Alun. Saat melihat jam, waktu masih menunjukkan jam 1 siang. Masih lama sebelum malam tiba. Akhirnya kaki saya melangkah menuju Tegal Alun. Saat itu saya masih sendirian. Sampai ketika saya sedang istirahat, saya bertemu dengan 3 orang pendaki yang akan menuju Tegal Alun juga. Saya bergabung untuk mendaki bersama dan kami pun berkenalan. Mereka adalah Anton, Pria dan Wahid yang berasal dari Bogor.

Bersama mereka, saya melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Di tengah perjalanan kami menemukan sebuah persimpangan. Yang pertama jalannya belok kiri dan kurang jelas karena tertutupi pepohonan yang lebat. Sedangkan satunya lurus dan agak menanjak, namun jalannya jelas dan terbuka. Kami pun pilih jalan yang lurus. Karena terlihat lebih meyakinkan.

Setelah beberapa menit berjalan, jalan yang kami pilih lama-kelamaan semakin menanjak dan terkesan terjal. Membuat kami harus berpegangan pada batang pohon setiap kali melangkahkan kaki. Terkadang kami juga harus berpegangan satu sama lain karena konturnya miring. Saya berpikir, harusnya tadi kami pilih jalan yang belok kiri saja. Kelihatannya nggak separah ini. Tapi nggak mungkin juga untuk putar balik. Lebih baik lanjut naik dari pada turun, ngeri, curam banget dilihat dari atas. Toh, akhirnya kami dapat melihat pemandangan yang sangat bagus dari situ. Pondok Saladah dan keramaian pendaki dari ketinggian.

tegal alun papandayan
Jalannya sempit

pondok saladah papandayan
Pemandangannya bikin mata seger

Nyaris 1 jam kami melewati tanjakan extreme itu, sungguh melelahkan. Setelah itu jalan menjadi landai. Nggak sampai 10 menit, kami menemukan sebuah tanah datar yang sangat luas. menyerupai lapangan bola. Dan yang membuat saya tercengang, lapangan itu dipenuhi oleh Edelweiss. Ya, si bunga abadi! Luar Biasa! Saya yakin, saat itu saya sedang berada di Tegal Alun, meskipun saya nggak menemukan papan petunjuknya.

Suasananya sepi saat pertama kali saya melihat Tegal Alun dari balik hutan. Hanya ada kami berempat dan 2 orang pendaki dari Bandung yang berpapasan dengan kami di jalan (lupa namanya). Lalu kami berkeliling sambil mengabadikan momen. Tegal Alun benar-benar luas, Edelweiss pun tumbuh di setiap sudutnya. Tempatnya sangat terbuka. Saya membayangkan malam hari di sana, melihat gemerlap cahaya bintang di dinginnya malam di Tegal Alun. Sayang di situ nggak diperbolehkan untuk camp.

edelweiss tegal alun papandayan
Edelweiss sejauh mata memandang

tegal alun papandayan
Enak buat tiduran

Ketika berkeliling, kami akhirnya menemukan papan yang menunjukkan bahwa di situ adalah Tegal Alun. Nggak jauh dari situ, saya melihat beberapa pendaki muncul dari balik hutan. Ternyata ada jalan lain untuk menuju Tegal Alun. Dan saya yakin, itu adalah jalan belok kiri yang kami temukan sebelumnya di persimpangan.

Rasa penasaran saya seperti nggak ada habisnya. Awalnya kabur dari tenda cuma ingin mencari tempat yang teduh. Lalu penasaran dengan Kawah Mati dan lanjut ke sana. Di Kawah Mati saya bertemu dengan 3 pendaki dari Bogor dan mendaki sampai Tegal Alun. Dan kali ini di Tegal Alun, dengan bertambahnya 2 orang dari Bandung, kami berenam sepakat untuk melanjutkan lagi ke Puncak Papandayan.

Kebanyakan orang yang mendaki Papandayan menjadikan Tegal Alun sebagai titik utama pendakian. Padahal sebenarnya masih ada puncaknya. Meskipun kata orang-orang di puncak pemandangannya nggak terlalu istimewa karena tertutupi pepohonan. Mungkin akibat hal itu pula jarang ada pendaki ke sana. Saat kami mencari jalan ke puncak, petunjuk pun minim. Nggak ada satu pun tanda yang mengarahkan jalan ke puncak. Kami hanya mengandalkan informasi dari pendaki yang kami temui yang turun dari puncak.

Kami mendaki ke puncak berdasarkan arahan dari pendaki tersebut, tapi beberapa kali kami malah bertemu jalan buntu. Bukan jalan buntu sih, tapi jalan yang berujung dengan jurang. Tapi kami nggak menyerah, kami terus lanjut dan menemukan sebuah sungai. Nggak jauh dari sungai itu, ada beberapa pendaki yang turun ke arah kami. Lalu kami interogasi mereka. Mereka bilang kalau jalan yang kami lewati memang benar, tapi setelah sungai itu jalannya akan semakin samar alias nggak jelas. Karena sebelumnya di daerah itu sempat terjadi kebakaran dan membuat jalur ke puncak yang “benar” hilang. Sehingga membuat mereka mencari jalan sendiri ke puncak.

Mereka menyarankan kami untuk kembali saja ke camp dan mencoba lagi ke puncak esok harinya. Takutnya kemalaman di jalan, mana nggak bawa senter pula. Mereka sendiri sudah dari pagi mendaki ke Puncak Papandayan. Sedangkan saat itu sudah menunjukkan jam 2, hari semakin sore. Kami putuskan untuk mengikuti saran dari mereka dan turun kembali ke camp.

Saat hari udah gelap, hawa di Pondok Saladah menjadi sangat dingin, berbanding terbalik dengan siang harinya yang begitu panas. Untuk menghangatkan tubuh, kami membuat api di dekat tenda sambil memasak untuk makan malam. Malamnya kami habiskan dengan mengobrol bersama pendaki lain dan juga ranger di sana. Ketika rasa kantuk tiba, satu per satu kami tidur karena esoknya kami akan mengejar sunrise di Hutan Mati.

Tidur saya cukup nyenyak. Sekalinya merem, bangun-bangun udah jam 4 pagi. Lalu siap-siap untuk perjalanan ke Hutan Mati. Nggak jauh jarak dari Pondok Saladah ke Hutan Mati. Sekitar 10 menit berjalan santai, kami udah sampai. Kemudian kami menuju sisi Hutan Mati yang menghadap ke Kawah Papandayan, tepat di pinggir jurang. Di situ, udah banyak pendaki yang menanti terbitnya matahari.

Warna kemerah-merahan mulai nampak di langit sebelah timur. Para pendaki udah bersiap untuk mengabadikan momen yang khas dalam mendaki gunung. Momen yang identik dengan semangat baru. Menyambut hari baru untuk memulai aktivitas. Setelah menunggu, momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Matahari terbit menerangi Hutan Mati dari kegelapan. Berbarengan dengan itu, rasa hangat mulai terasa oleh tubuh. Untuk beberapa saat, kami menikmati momen sunrise dengan rasa bahagia.

sunrise hutan mati
Menanti matahari terbit

sunrise hutan mati
Yohoo sunrise

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Karena saya udah tau jalurnya, saya mengajak teman-teman untuk melewati jalur yang belok kiri saat ada persimpangan. Dan ternyata benar seperti dugaan saya, jalurnya nggak separah jalur yang saya lewati sebelumnya. Meskipun ada satu tanjakan yang lumayan terjal, “Tanjakan Mamang” namanya.

Sekitar 1 jam berjalan, kami akhirnya sampai di Tegal Alun. Perasaan lega hadir pada diri saya. Untuk kedua kalinya saya berhasil menginjakkan kaki di Tegal Alun dalam satu kali pendakian. Lalu kami habiskan waktu untuk bersantai di Tegal Alun selama beberapa jam. Karena kami nggak ada rencana untuk mendaki sampai ke puncaknya.

tanjakan mamang papandayan
Tanjakan Mamang

tegal alun papandayan
Yeahhh!

Papandayan memang surganya pendaki gunung. Mata saya terus dimanjakan dengan keindahan alam yang tak ada duanya sepanjang perjalanan. Dengan waktu tempuh yang relatif singkat dan medan yang nggak terlalu berat, saya percaya kata orang-orang kalau Gunung Papandayan emang salah satu gunung yang cocok untuk seorang yang pemula dalam dunia pendakian. Ditambah dengan berbagai fasilitas seperti toilet umum dan warung jajan yang berjejer (di sepanjang perjalanan dan Pondok Saladah) semakin memudahkan para pendaki saat mendaki.

Pendakian kali ini saya nggak mendaki sampai puncak. Emang sih tujuannya hanya sampai Tegal Alun, tapi tetep aja penasaran. Yah, next time mungkin saya bakal ke Papandayan lagi dan mendaki sampai puncaknya. Wait 4 me, Papandayan!

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment