Mengarungi Derasnya Jeram Sungai Nimanga

10:51 Ilham Firdaus 0 Comments

rafting sungai nimanga

Setelah mengerahkan seluruh tenaga kala melakukan aktivitas rock climbing di Tebing Kilo Tiga, agenda Super Journey selanjutnya adalah dengan memacu adrenalin dengan ORAD (olahraga arus deras). Kami akan rafting mengarungi derasnya jeram sungai Nimanga.

Kami tiba di garis start pengarungan sungai Nimanga di waktu yang tepat. Waktunya makan siang! Sepanjang perjalanan menumpak elf dari Desa Kilo Tiga, Amurang, ke Desa Timbukar, Minahasa, saya dilanda kelaparan karena paginya cuma sarapan sepotong sandwich. Biasa orang Indonesia, nggak bakal kenyang kalau nggak makan nasi. Sesampainya disana ikan bakar berukuran besar untuk tiap-tiap orang siap untuk disantap. Lalu ada juga hidangan khasnya, yaitu daging paniki a.k.a batman alias kelelawar. Dan hmm, rasanya sih seperti daging ayam. Tapi terasa lebih alot.

Sebelum memulai rafting, kami diberi pengarahan terlebih dahulu oleh instruktur. Tentang bagaimana cara mendayung, cara duduk pada perahu karet dan juga instruksi yang diberikan skipper pada saat pengarungan. Alat keselamatan seperti helmet dan pelampung sudah terpasang, dan masing-masing orang memegang dayung. Saya siap mengarungi sungai!

diberi pengarahan oleh instruktur

Kami mengarungi sungai dengan 3 perahu. Masing-masing perahu diisi 5 orang termasuk 1 orang skipper dari operator raftingnya. Di perahu pertama ada Ayu, Bang Dewe, Bang Rahung dan Bang Bui. Saya sendiri di perahu kedua bersama Dena, Rico dan Kak Prue. Dan di perahu terakhir yaitu Alim, Aya, Detha dan Edy. Sedangkan Bang Ian dan yang lainnya bertugas mendokumentasikan aktivitas arung jeram kami pada titik-titik tertentu sepanjang jalur sungai.

“Dayung maju”, begitu kata skipper ketika aliran sungai tenang. Dan “stop” saat perahu sudah mendekati jeram-jeram yang cukup deras. Lalu “dayung mundur” untuk mengurangi kecepatan kalau perahu melaju terlalu cepat. Untuk belok skipper memberi instruksi “belok kanan” dengan orang yang berada di sisi kanan perahu mendayung maju dan mendayung mundur untuk orang yang di sisi kiri perahu. Untuk “belok kiri” berlaku sebaliknya.

Terkadang skipper juga memberi instruksi “boom” atau “boom boom boom” yang artinya merunduk untuk menghindar kalau di depan ada rintangan seperti dahan pohon yang menghalangi. Apabila perahu stuck/tersangkut diantara bebatuan, skipper akan bilang “pindah kanan” / “pindah kiri” yang berarti semua orang harus duduk di sisi kana/kiri perahu. Supaya perahu bisa terlepas dari bebatuan. Namun kalau cara itu tak berhasil, biasanya skipper akan turun dari perahu dan melepaskan bagian yang nyangkut.

rafting sungai nimanga


rafting sungai nimanga

Ini pertama kalinya saya melakukan arung jeram. Untuk ukuran pemula seperti saya, sungai Nimanga bisa dikatakan pilihan yang tepat. Dengan tingkat kesulitan sungai berada di grade 3, sungai ini memilki banyak jeram tapi tidak berbahaya. Pada tiap jeramnya punya nama yang unik. Jeram pertama dalam pengarungan adalah jeram Golden Gate. Lalu ada jeram Python yang memompa adrenaline saya, karena jeramnya yang panjang dan meliuk-liuk seperti ular. Kemudian ada pula jeram Superman, disebut begitu sebab ada sebuah batu yang kalau dilewati akan membuat perahu seolah terbang layaknya manusia super itu. Sebagai penutup adalah jeram Goodbye yang merupakan jeram terakhir di sungai ini.

Di tengah pengarungan, langit yang awalnya cerah berubah menjadi hujan deras yang semakin menambah seru rafting kala itu. Ada momen ketika kami berhenti untuk melompat bergantian dari atas tebing setinggi 5 meter. Ada juga kejadian menegangkan ketika Dena terjatuh dari perahu saat perahu menabrak keras sebuah batu yang berukuran besar. Dia terlempar dari perahu dan jatuh ke sungai, meskipun saya sempat memegang tangannya tapi terlepas karena licin. Untungnya, saat itu dia jatuh di bagian sungai yang jeramnya kecil dan arusnya cenderung tenang. Dia hampir jatuh lagi untuk kedua kalinya ketika perahu kami kembali menabrak batu, tapi sebelum itu terjadi kami dengan sigap berhasil menahannya.

rafting sungai nimanga
tersangkut di antara batu

rafting sungai nimanga

Setelah mengarungi sungai sepanjang 9 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam, kami mencapai garis finish dengan ditandai oleh jeram Good Bye. Sungguh pengalaman yang seru, mendebarkan dan memacu adrenalin. Mendayung selama 2 jam sukses membuat lelah dan tangan pegal. Tapi keseruan selama pengarungan sanggup membayar kelelahan itu. Suatu hari, mungkin saya akan rindu rasanya berlayar di atas perahu karet melawan jeram di sungai.

Rafting memang salah satu olahraga yang masuk kategori memacu adrenalin. Bagaimana tidak? Dengan keberadaan jeram-jeram di sungai, sanggup membuat jantung berdebar-debar ketika mengarunginya. Apalagi rafting ini olahraga yang mainnya hitungan detik, harus memutuskan dengan cepat kapan waktunya “dayung maju”, “belok kiri” atau pun “boom” untuk menghindar. Kalau kelamaan mikir, yang ada keburu nabrak batu dan berakhir jatuh ke sungai. Namun, asal menerapkan safety procedure dan paham betul hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat rafting, olahraga ini bisa menjadi olahraga yang menyenangkan.


Dari garis finish, kami kembali ke garis start dengan menumpak mobil bak terbuka miliknya operator rafting. Setelah mandi dan ngopi-ngopi, kami melanjutkan perjalanan ke Tomohon untuk mendaki Gunung Mahawu.

rafting sungai nimanga
Break sesaat

rafting sungai nimanga
After rafting

0 comments: