Tuesday, June 28, 2016

Menyambut Mentari di Gunung Mahawu

gunung mahawu

Setelah asyik berpacu adrenalin dengan jeram di Sungai Nimanga, agenda kami berikutnya adalah mendaki Gunung Mahawu di Tomohon. Di sana kami menginap di Hotel Gardenia Inn. Tempatnya apik. Masing-masing kami tidur berdua di satu kamar. Bukan kamar, sih, lebih tepatnya sebuah “rumah mini” dengan satu ruangan kamar tidur, kamar mandi yang luas dan sebuah teras yang “pas” untuk menikmati udara segar khas pegunungan. Jarak antar rumah 5 meter. Di sekitarnya terhampar halaman berumput yang luas dan tertata rapi lengkap dengan tanaman hiasnya. Lokasinya yang jauh dari kota membuat udaranya segar dan bebas polusi. Nggak cuma itu, berada di daerah pegunungan membuatnya terbebas dari polusi cahaya, sehingga ketika malam hari terlihat jutaan bintang bertaburan di langit. Malam itu kami tidur cepat, karena kami akan mendaki berburu sunrise pada esok dini harinya.

gardenia inn tomohon
Pekarangan hotel Gardenia Inn

Jam 1 dini hari, alarm ponsel Dena berbunyi. Saya terbangun, tapi karena rasa kantuk yang terlalu kuat, saya kembali tidur. Berkali-kali alarm ponsel saya dan Dena bunyi bergantian, tapi teteup saya malas beranjak dari ranjang. Udah pewe banget. Mana udara malam itu dingin, eh kasur hotelnya bikin betah, susah deh buat bangun. Hingga saat waktu menunjukkan jam 2.30 saya benar-benar bangun akibat terpaksa harus memenuhi panggilan alam yang nggak bisa ditunda. Setelah itu saya membangunkan Dena yang masih dalam mimpinya untuk bersiap-siap. Sekitar jam 3, kami berkumpul untuk menuju ke Gunung Mahawu.

Ada 2 jalur untuk mendaki Gunung Mahawu. Pertama, jalur wisata banget yang bisa ditempuh “hanya” dengan waktu 10 menit. Dengan melewati tangga beton yang dilengkapi dengan pegangan di tengahnya. Yang kedua adalah jalur seperti gunung-gunung lainnya dengan melewati jalan makadam dan jalan setapak. Waktu tempuhnya sendiri paling lama 2 jam perjalanan. Untuk naiknya kami lewat jalur kedua, sedangkan pulangnya kami lewat jalur 10 menit.

Kami diantar menggunakan mobil elp sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami baru memulai trekking dengan medan jalan makadam yang cukup lebar. Di kanan kirinya adalah hutan yang cukup lebat. Suara serangga seperti jangkrik dan tonggeret saling bersautan menemani pendakian kami. Begitu juga suara burung, yang paling saya ingat adalah suara dari “buek” alias burung hantu. Ketika buek itu bersiul, beberapa dari kami membalasnya. Eh bueknya nggak mau kalah. Dia kembali membalas dengan suara yang lebih nyaring.

gunung mahawu
Detik-detik matahari terbit

Di perjalanan saya melihat ada beberapa shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Lama-kelamaan jalan semakin sempit dan berubah menjadi jalan setapak yang hanya muat dilewati oleh satu orang. Tak lama, jalan berganti lagi menjadi tangga beton yang dilengkapi pegangan besi disisi kanannya, tapi pegangan tersebut sudah mulai rusak, terlihat dari kondisnya yang sudah berkarat dan ada yang patah. Jalan akan terus seperti itu sampai puncak. Saya tiba di puncak berbarengan dengan langit yang mulai menunjukkan warna kemerah-merahan tanda matahari akan terbit.

Di puncak masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan tinggi sehingga panoramanya tertutupi. Oleh karena itu, di sana disediakan sebuah bangunan tanpa beratap setinggi 3 meter yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan dari atasnya. Meski tingginya hanya sekitar 1.300 mdpl, Gunung Mahawu punya kaldera yang cukup luas. Di dalamnya juga terdapat danau kawah yang berukuran kecil, tapi bau belerangnya masih jelas tercium. Selain itu, dari atas puncak saya juga dapat melihat gunung lainnya seperti Gunung Lokon dan Gunung Empung yang berdiri dengan gagahnya. Sementara di kejauhan terlihat Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua dan pulau-pulau kecil lainnya yang seolah mengapung di laut Sulawesi.

kaldera gunung mahawu
Kaldera Gunung Mahawu

Waktu berada di puncak, hal yang wajib dilakukan apalagi kalau bukan mengabadikan momen. Soalnya kata orang-orang zaman sekarang, kalau ke suatu tempat tanpa adanya bukti berupa foto disebut omong kosong belaka. “No pic, hoax!”, gitu katanya. Ritual ini sendiri paling lama dilakukan. Alasannya karena masing-masing dari kami pengen foto yang sendiri-lah, foto bareng-bareng-lah, foto selfie-lah, foto selfie bareng-bareng alias wefie-lah. Macem-macem pokoknya. Kalau dikasih waktu 1 jam doang mah nggak bakal cukup buat foto-foto.

gunung mahawu
Momen kebersamaan

gunung mahawu
bareng Bang Rahung & Kak Prue

Sekitar jam 7 pagi, kami bersiap untuk turun gunung dengan melewati jalur 10 menit. Tapi sebelumnya kami harus mengitari puncak gunungnya dulu, karena titik untuk turun di jalur 10 menit ada di sisi lain dari puncak. Setelah menuruni sekitar 160 anak tangga (saya nggak ngitung kok, ini dari wikipedia), kami sampai di gerbang masuk pendakian gunung Mahawu. Ternyata benar, jalur ini memang cuma butuh waktu sekitar 10 menit perjalanan. Dengan trek berupa tangga beton yang dilengkapi pegangan besi, mengingatkan saya dengan Gunung Bromo. Bedanya kalau di Gunung Mahawu kanan-kirinya pepohonan rimbun, jadi suasananya adem.

gunung mahawu
Menuruni jalur 10 menit

Di dekat gerbang masuk terdapat tulisan “Mahawu” yang berukuran besar. Tanpa aba-aba, kami langsung ambil posisi di depannya begitu Bang Ian kasih isyarat. Mobil elp yang sebelumnya mengantar kami pun sudah stanby untuk menjemput. Tujuan kami berikutnya adalah mengunjungi Pasar Beriman Tomohon atau terkenal dengan sebutan Pasar Extreme. Kenapa? Tunggu saja ceritanya!

gunung mahawu
MAHAWU

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment