Tuesday, July 12, 2016

Menelusuri Keindahan Tiap Sudut Gunung Bromo


bromo pananjakan


Diantara Taman Nasional yang ada di Indonesia, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bisa dibilang yang paling tenar. Pamornya bukan cuma lingkup nusantara, melainkan sudah ke mancanegara. Nggak sedikit turis asing yang berlibur ke Bromo. Selama di Malang, udah 2 kali saya main ke sana.

Kesempatan pertama di bulan Februari tahun 2015 lalu. Dengan menumpak motor, saya bersama 5 orang teman berangkat ke Bromo jam 11 malam. Ada 3 jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Bromo. Jalur Tumpang (Malang), Nongkojajar (Pasuruan) dan Cemoro Lawang (Probolinggo). Kalau dari Malang sebenarnya lebih dekat lewat Tumpang, tapi jalannya rada rusak. Maka dari itu kami memilih lewat Nongkojajar, meski kami semua belum ada yang pernah, tapi petunjuknya jelas. Selain itu jalannya juga udah mulus. Sedangkan, kalau lewat Probolinggo terlalu jauh. Biasanya yang lewat Probolinggo sekalian mlipir ke Air Terjun Madakaripura. Air terjun yang terkenal dengan hujan abadinya dan konon tempat pertapaan Patih Gajah Mada.

lautan pasir bromo
Ojeg kuda (bg: Pura Luhur Poten)

Ketika memasuki Desa Tosari terjadi kecelakaan ringan. Motor yang saya tumpangi jatuh. Saat itu teman saya, Rimas, yang nyetir. Penyebabnya adalah jalanan yang awalnya aspal seketika berganti menjadi jalanan berlumpur dan tidak rata. Kami nggak sadar sebab kondisinya yang gelap tanpa penerangan. Kami hilang keseimbangan dan jatuh ke sebelah kiri. Syukurnya hanya luka kecil saja, meski pakaian kami bagian kiri jadi coklat kena lumpur.

Sekitar 2 jam perjalanan, kami tiba pos perizinan TNBTS. Karena hari itu tanggal merah kami dikenai tiket untuk hari libur sebesar Rp 37500/orang dan Rp 5000/motor (roda 2). Lalu kami lanjut ke Puncak Pananjakan. Kalau sering lihat view Gunung Bromo dan Gunung Batok yang bersandingan serta Gunung Semeru yang berdiri gagah dibelakangnya, itu dipotret dari Pananjakan. Ini juga salah satu alasan kami pilih jalur Nongkojajar.

pananjakan bromo
View dari Pananjakan

Sesampainya di sana, suasananya ramai banget. Puluhan Jeep terparkir di pinggir jalan, begitu juga puluhan motor di parking area. Dan entah berapa ratus manusia yang berkumpul di sana menunggu momen terbitnya matahari. Ini akibat perginya bertepatan dengan tanggal merah (hari raya imlek). Sehingga wisatawan membludak.

Meski masih jam 2 dini hari, kurang sekitar 3 jam lagi ke momen sunrise, tapi animo wisatawan sangat tinggi. Padahal suhu saat itu dingin banget. Sampai-sampai kami bikin kopi supaya hangat. Saat momen sunrise tiba, semua orang tumpah ruah di satu tempat yang dijadikan titik point of view. Mereka berdesak-desakan demi mengabadikan momen tersebut. Kami mah boro-boro, malas. Apalagi saat saya tiba-tiba merasa pusing dan mual (mirip sama lagi mabok, mabok di perjalanan maksudnya, kalau naik mobil). Mungkin gara-gara terlalu banyak orang yang bikin saya jadi pusing.

pananjakan bromo
Pananjakan penuh sesak

Setelah momen sunrise berakhir, wisatawan berangsur-angsur mulai turun ke lautan pasir untuk naik ke Gunung Bromo. Begitu juga dengan kami. Namun, saat sudah sampai di lautan pasir, kondisinya lebih ramai lagi. Karena wisatawan dari 3 jalur yang berbeda campur aduk di sana. Melihat antriannya yang puanjaaang, kami mengurungkan niat untuk mendaki Bromo. Sebelum kembali pulang, kami hanya mengabadikan momen di lautan pasir dengan background Gunung Batok.

lautan pasir bromo
Mejeng di Lautan Pasir (bg: Gunung Batok)

Sedangkan di kesempatan kedua hampir seluruh spot di Gunung Bromo saya explore. Kali ini saya berangkat hanya berdua dengan Mas Anggi atau biasa disebut Eng. Dia berasal dari Padang dan sedang backpacking sendirian di Pulau Jawa. Kami berangkat ke Bromo satu hari setelah pertemuan pertama kami. Ya, kami baru kenal sehari sebelumnya saat kopdar BPI Malang (Backpacker Indonesia Regional Malang). Dia merupakan kenalan dari salah satu teman saya di BPI.

lautan pasir bromo
Bareng Eng

Suasana di Pananjakan nggak seramai seperti sebelumnya, karena kami pergi saat weekday. Masih ada ruang-lah, nggak sampai berdesak-desakan. Ketika mengexplore Puncak Pananjakan, kami menemukan sebuah spot yang jauh dari keramaian. Lebih leluasa untuk mengambil gambar dari situ. Tempatnya sendiri rada turun sedikit dari titik utama Puncak Pananjakan.

Kami ke Bromo bertepatan dengan hari raya suku tengger yang disebut Kasada. Pada hari itu masyarakat suku tengger mengadakan acara di Pura Luhur Poten dan juga melakukan ritual Labuh Sesaji di Kawah Bromo. Mereka menjajakan sesajen sebagai bentuk rasa syukur kepada Shang Yang Widi yang dirayakan setiap tahun saka. Mulai dari perjalanan turun ke lautan pasir, pada titik-titik tertentu di lautan pasir, hingga di puncak Gunung Bromo terdapat sesajen.

sesajen suku tengger bromo
Sesajen (cuma motret kok, nggak nyicip)

Untuk ke puncak Bromo, tersedia anak tangga yang dilengkapi pagar dikedua sisinya. Ada hal yang bikin saya miris, yaitu saat melihat kondisi kawah Bromo. Dibalik kepulan asapnya yang keluar secara terus menerus, kawahnya dipenuhi oleh sampah! Sampah plastik seperti botol minuman hingga bekas bungkus makanan berserakan di kawahnya. Miris banget. Dibalik keindahannya yang telah mendunia, tetap saja ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang merusaknya. Beginilah kondisi obyek wisata di Indonesia. Entah apa yang ada dipikiran para wisatawan yang “tak bertanggung jawab” tersebut, sampai-sampai membuang sampah ke kawah seenaknya sendiri.

kawah gunung bromo
Sampah di Kawah Bromo

Tak lama kami di puncak, bau belerang yang menyengat bikin kami nggak betah berlama-lama. Setelah itu kami lanjut lagi ke spot berikutnya, yaitu Bukit Teletabies. Karena jalannya yang searah, kami pergi ke sana sekalian pulang lewat jalur Tumpang. Berbanding terbalik dengan lautan pasir yang gersang, di Bukit Teletabies sangat hijau. Ditumbuhi oleh banyak rumput dan pepohonan. Sehingga asik untuk nyantai dan leyeh-leyeh.

bukit teletabies bromo
Bukit Teletabies


Dengan tiket masuknya yang terbilang rada mahal, Gunung Bromo memang sangat memanjakkan mata. Saya tak henti-hentinya dibuat takjub oleh panorama alamnya yang gilaaa keren banget! Wajar kalau akhirnya TNBTS ini jadi ikon pariwisata Jawa Timur bahkan Indonesia. Untuk menjaga kelestariannya, sebaiknya pihak TNBTS memasang larangan untuk membuang sampah. Atau kalau perlu memberlakukan denda untuk setiap orang yang buang sampah sembarangan. Karena sejauh saya memperhatikannya, banyak sekali sampah berserakan. Entah itu di lautan pasir maupun di kawah. Supaya ke depan generasi berikutnya bisa menikmati keindahannya yang masih terjaga kelestariannya.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment