Sunday, July 10, 2016

Pertama Kali Diving, Telinga Sakit Tapi Ketagihan!

scuba diving di bunaken

Pagi itu saya too excited, gimana nggak? Hari itu adalah puncaknya acara Super Journey. Destinasi penutup kami yang merupakan highlight utama dari Super Journey, Bunaken. Selama kurang lebih 1 jam menyebrangi laut, kami tiba di Bunaken. Di sana kami akan melakukan scuba diving. Ini yang ditunggu-tunggu sama semuanya. Meski saya nggak lancar-lancar amat berenang, tapi saya sangat bersemangat!

Dari resort, kami pergi ke salah satu spot diving bernama Alungbanua. Sebuah spot yang bisa dibilang tidak seindah Bunaken pada umumnya. Karena spot tersebut biasa digunakan untuk para penyelam yang baru pertama kali mencoba diving. Struktur terumbu karang di sana tidak terlalu rapat, bahkan sebagian besar dasarnya pasir. Jadi nggak perlu khawatir bakal merusak terumbu karangnya.

scuba diving di bunaken
Otw Bunaken

Sebenarnya untuk melakukan olahraga scuba diving butuh license. Tapi karena sebagian besar belum punya, ada sebuah cara untuk menyelami keindahan bawah laut. Namanya discovery diving. Dimana para instruktur atau dive master akan mengawasi kami dengan ketat. Pemilihan spot yang aman juga menjadi prioritas utama.

Semua perlengkapan menyelam sudah siap. Mulai dari wetsuit, masker, fin, tabung oksigen, BCD dan alat lainnya dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Sebelum nyemplung ke laut, kami diberi arahan oleh dive master tentang kegunaan tiap alat dan bagaimana cara menggunakannya. Juga kode-kode tangan yang digunakan sebagai isyarat pada saat menyelam, karena saat di bawah air nggak bisa ngobrol ya.

scuba diving di bunaken
Ready to dive!

Kak Prue juga memberitahu cara equalize. Yaitu cara untuk menyamakan tekanan pada telinga. Karena semakin dalam menyelam, tekanan air laut akan semakin kuat dan itu membuat telinga menjadi sakit. Caranya seperti buang ingus tapi sambil mencubit lubang hidung. Equalize ini sangat penting, karena kalau memaksakan menyelam dengan kondisi telinga sakit tanpa melakukan equalize, bisa menyebabkan telinga terus-menerus sakit selama berhari-hari.

Setelah mendapat arahan, satu per satu dari kami nyebur ke laut. Saat yang lain udah pada nyemplung, saya justru masih sibuk mencari-cari fin yang pas. Karena fin yang sebelumnya saya bawa ternyata udah di pakai orang. Tahu sendiri ukuran kaki saya paling gede sendiri. Alhasil saya harus tukeran fin dulu sama yang lain.

scuba diving di bunaken
Masih pada ngapung dipermukaan

Setelah urusan fin beres, giliran saya pun tiba. Jantung saya berdebar-debar. Begitu nyebur ke laut, saya langsung tarik nafas dari regulator. Meski awalnya rada panik, saya bisa nafas dengan stabil setelah beberapa saat. Ketika saya mengalihkan pandangan ke bawah, yang lain sudah menyelam lebih dalam lagi. Sebagian masih kesusahan untuk turun lebih dalam, termasuk saya. Saya malah masih berkutat di permukaan. Untuk bisa tenggelam, harus melakukan deflate dengan menekan tombol deflator. Yaitu untuk mengeluarkan udara pada pelampung BCD, jadi bisa tenggelam. Pada prosesnya saya berhasil turun sampai ke dasar berkat dipandu oleh dive master. Tapi saat ditinggal dive master, saya ngpapung lagi ke permukaan. Susah banget! Padahal udah pakai pemberat juga, tapi teteup nggak bisa kelelep.

scuba diving di bunaken
Ngintip ikan

scuba diving di bunaken
Temennya Nemo

Semakin lama saya semakin terbiasa meskipun kadang masih lupa harus nafas dari mulut (bukan hidung). Mempertahankan posisi stabil di kedalaman tertentu juga susah banget. Saat saya ingin menyelam lebih dalam, badan saya justru terangkat naik ke atas. Kebanyakan dari kami juga masih belum bisa mengontrol posisi di bawah air. Hingga kami kadang saling bertubrukan. Kadang ketendang kaki orang, kejedot tabung oksigen orang. Dan yang paling parah, kepala saya kejedot kapal saat akan naik ke permukaan.

Dasar laut di bawah kapal berhenti mungkin hanya sekitar 3 – 4 meter. Tapi kalau lebih jauh lagi, ada sebuah palung yang semakin jauh semakin dalam. Warna air yang sebelumnya berwarna biru bening, kalau terus ke palung akan semakin gelap. Saya sempat menyelam sampai kedalaman 9 meter. Ternyata semakin dalam, aneka terumbu karang dan ikan semakin beragam. Sayangnya, saya kurang bisa nikmatin pemandangan di bawah laut karena telinga saya terasa sakit tanpa henti. Karena capek juga melakukan equalize terus-menerus, saya memutuskan untuk naik ke permukaan. Telinga saya masih terasa mendengung ketika menginjakkan kaki di atas kapal. Untung saya cepat naik, kalau nggak gendang telinga saya mungkin udah kenapa-kenapa.

scuba diving di bunaken
Berusaha menenggelamkan diri

Itu adalah pengalaman pertama kali scuba diving bagi saya dan langsung nyebur ke laut Bunaken. Sungguh luar biasa. Rasanya saya ingin mencobanya lagi lain waktu. Ternyata scuba diving bikin nagih, sama kayak naik gunung. Kesempatan berikutnya sepertinya saya wajib untuk berlatih dan membiasakan memakai peralatan selam di kolam renang terlebih dahulu. Karena setahu saya, untuk pemula yang pertama kali diving harus melakukan intro dulu di kolam renang. Setelah itu baru terjun ke medan sesungguhnya.

scuba diving di bunaken
OK!

Setelah semua naik ke kapal, kami kembali ke resort berbarengan dengan matahari yang kembali ke peraduannya. Malamnya kami makan malam dengan masakan Chef Rahung yang luar biasa lezat. Malam terakhir itu terasa panjang, kami semua duduk membentuk lingkaran mengobrol obrolan yang random dan sesekali menggoda Ayu dan Bang Dewe yang dicomblangi. Tidak terasa saat waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari, kami pun mulai tumbang satu per satu.

Malam berakhir, matahari sudah naik. Saya baru bangun jam 8 pagi. Sangat telat untuk ukuran bangun pagi. Tapi bukan saya saja yang bangun kesiangan, kebanyakan dari kami juga baru bangun sekitar jam 8 – 9. Hari itu adalah hari terakhir kami melakukan petualangan. Snorkeling menjadi kegiatan penutup kami.

Dengan bermodalkan masker, snorkel dan fin kami mulai berjalan ke arah laut menuju spot snorkeling. Sebelumnya saya pernah snorkeling di Malang, waktu itu menggunakan life jacket tapi tanpa fin. Dibandingkan dengan di Bunaken, nggak pakai pelampung juga ternyata tetap ngambang di permukaan. Pikir saya bakal tenggelam, apalagi saya tidak begitu handal berenang. Dengan bantuan fin, saya juga tidak perlu mengeluarkan power yang besar saat berenang.

scuba diving di bunaken
Snorkeling yuhuu

Awalnya saya hanya berani di daerah yang dangkal, daerah dimana kaki saya masih bisa berpijak di dasar laut. Tapi semakin jauh dan semakin dalam varietas biota bawah laut semakin cantik dan berwarna. Mana yang lain juga berenang ke daerah yang dalam. Saya pun memberanikan diri berenang ke daerah yang dalam. Dan saya berhasil! Meski rada watir kalau tiba-tiba saya tenggelam dan nggak bisa naik ke permukaan. Tapi rasa takut itu tergusur oleh rasa penasaran saya pada keindahan bawah laut yang sangat eksotis itu.

Sekitar 1 jam snorkeling, kami terpaksa kembali ke resort karena harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat. 60 menit terasa kurang bagi saya untuk menikmati bawah lautnya dengan bersnorkeling. Keindahan taman laut Bunaken seolah membius saya, membuat saya candu terhadap kegiatan di laut. Seperti diving dan snorkeling yang bahkan tidak pernah terpikirkan di kepala saya sebelumnya. Tidak ada keinginan untuk menikmati panorama bawah laut. Namun kini, setelah menyaksikan secara langsung cantiknya bawah laut Bunaken, saya bertekad untuk lebih mengenal Indonesia dari bawah lautnya.

scuba diving di bunaken
Kak Prue ngibarin banner sponsor

Setelah membersihkan diri di resort, kami mampir ke Kota Manado untuk makan siang dan membeli oleh-oleh. Kemudian kami menuju Bandara Sam Ratulangi. Jadwal pesawat saya beda sendiri dengan yang lain. Saya langsung pulang ke Surabaya, sedangkan yang lainnya tetap ke Jakarta. Jam 5 teng, setelah berpamitan dengan semuanya saya buru-buru check in. Dan ternyata pesawat lion air yang akan saya naiki itu delay selama 1 jam. Alhasil jadwal keberangkatan saya hampir berbarengan dengan jadwal teman-teman. Lebih duluan saya beberapa menit, sih. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk berangkat bareng, pulang pun harus bareng. Makanya jadwal pesawat saya jadi delay. Jam 18.10 saya kembali pamit dengan semuanya. Dan kali itu pesawat saya benar-benar berangkat dan terbang meninggalkan Manado.

Sungguh 5 hari yang sangat berkesan. Teman baru, pengalaman baru, perjalanan singkat bersama orang-orang hebat ini tidak akan saya lupakan. Rasanya saya ingin lebih lama lagi melakukan petualangan bersama mereka. Kalau diberi kesempatan, tentu saya ingin bertemu mereka lagi, bertualang bersama, berbincang dan bersenda gurau dengan duduk membentuk lingkaran sambil makan malam (masakannya Bang Rahung tentunya) di pinggir pantai seperti yang kami lakukan di Bunaken.

Terima kasih semuanya, semoga kita bisa berjumpa kembali!

Berikut video saat kami scuba diving di Alungbanua. (video by Marischka Pruedence)



Related Articles

3 comments:

  1. wah ternyata seru juga ya melakukan aktivitas diving pertama kali gt. sampe kejedot sana sini 😂. Ternyata semua harus terbiasa dulu biar bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru banget bang, meski sering kejedot Hahaha
      btw, makasih udah mampir :)

      Delete
  2. Keren! Sudah ambil sertifikasi blom nih? agar lebih aman dan nyaman.
    yuk gabung dengan kami: www.indonesiamenyelam.com

    ReplyDelete