Friday, July 1, 2016

Pasar Extreme Tomohon, Semua yang Berkaki Dimakan

pasar extreme tomohon


Mobil elp yang kami tumpangi melaju meninggalkan Gunung Mahawu. Kami turun gunung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pasar Beriman Tomohon. 15 menit perjalanan melewati jalan khas pegunungan, kami akhirnya sampai di pasar yang biasa disebut sebagai Pasar Extreme ini. Ketika turun dari mobil, saya melihat suasana pasar layaknya pasar tradisional pada umumnya. Orang-orang di sana menjual berbagai dagangan seperti sembako, sayur-mayur, buah-buahan, ikan dan daging. Nggak ada bedanya sama pasar-pasar lainnya.

Kami berjalan menyusuri sudut-sudut pasar hingga menemukan persimpangan yang terdapat sebuah plang bertuliskan “Pasar Extreme”. Saya penasaran, seperti apa sebenarnya kondisi pasar extreme tersebut. Saat saya memasuki area itu, ternyata di situ adalah lokasi orang berjualan daging. Namun yang membuat saya tercengang, daging yang dijual di sana bukanlah daging hewan yang lazim diperdagangkan di pasar Indonesia kebanyakan.

Emang sih ada juga daging sapi, kambing atau ayam yang dijual. Tapi yang menjadi daya tarik adalah daging-daging seperti anjing, kucing, babi hutan, paniki (kelelawar), ular piton, tikus sawah ekor putih, hingga Yaki (monyet khas Sulawesi Utara) yang dijual secara bebas di pasar ini. Saya jadi ingat yang dibilang Bang Bui saat kami makan sehari sebelumnya, dia berkata “Di Manado, semua yang berkaki dimakan kecuali meja sama kursi”. Saya percaya dengannya setelah melihat hewan-hewan tersebut dijadikan bahan makanan.

pasar extreme tomohon
Tikus Sawah Ekor Putih

pasar extreme tomohon
Paniki atau kelelawar

Daging anjing dan kucing dijual secara utuh dengan kondisi yang sudah dibakar. Hewan-hewan tersebut dieksekusi dengan cara diikat lehernya kemudian dipukul kepalanya sampai mati, baru setelah itu dibakar. Untuk tikus sawah ekor putih, sebelum dibakar tubuhnya ditusuk terlebih dahulu. Jadi seperti sate tikus, tapi dengan kondisi utuh. Lalu bagian ekornya tidak ikut dibakar karena untuk menandakan bahwa itu adalah tikus ekor putih, bukan tikus rumahan seperti si Jerry. Sedangkan si batman alias paniki dijual terpisah antara badan dengan sayapnya.

pasar extreme tomohon
Anjing

pasar extreme tomohon
Kucing

Saya sempat melihat beberapa anjing hidup yang dikurung di dalam kandang, anjing-anjing tersebut memasang ekspresi ketakutan. Sepertinya mereka tahu, bahwa mereka tinggal menunggu giliran saja untuk dieksekusi. Hewan-hewan yang tidak lazim dijual tersebut nggak setiap hari bisa ditemukan di pasar. Seperti babi hutan dan yaki, saya tidak menemukannya ketika ke sana. Yang memprihatinkan waktu saya mendengar cerita dari Bang Arlen kalau kucing di sana udah jarang ditemukan, mungkin akibat terlalu sering dijadikan santapan orang Manado. Padahal, mereka adalah hewan yang lucu. Nggak kebayang kalau sampai dijadikan menu makan malam.

pasar extreme tomohon
Ular piton

pasar extreme tomohon
Anjing yang siap dieksekusi

Setelah puas (atau lebih tepatnya nggak tahan) berkeliling di Pasar Extreme, kami sarapan di warung makan di daerah Wakeke. Untungnya saya nggak kehilangan selera makan, sehingga saya bisa makan Bubur Tinutuan khas Manado. Bubur ini terbuat dari bahan-bahan seperti beras, jagung, labu dan sayuran lainnya. Rasanya nggak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Namun terasa lebih khas karena ada rasa manis dari jagung mudanya.

bubut tinutuan
Bubur Tinutuan

Kemudian kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Rencananya kami akan melakukan canyoning di air terjun Tinoor. Canyoning sendiri seperti Rappeling yaitu menuruni tebing menggunakan teknik descending pada seutas tali kernmantel. Bedanya kalau Canyoning menuruni air terjun. Tentunya akan lebih menantang dibanding rappeling. Karena selain harus fokus turun, pastinya akan semakin sulit karena bakal dihujam oleh air terjun.

Setibanya di penginapan, Bang Ian memberitahukan kalau jam 12 kami harus sudah check out. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur. Dan sekalinya merem, saya baru bangun saat tinggal beberapa menit lagi sebelum jam 12. Saat bangun, saya melihat Dena masih jongjon. Di grup WA juga belum ada yang nyuruh kumpul. Saat lihat keluar, ternyata hujan deras. Roman-romannya ini bakal nggak jadi canyoning. Padahal udah kepengen banget.

Kemudian jam 12.30, barulah Bang Ian ngechat di grup untuk siap-siap berangkat. Ketika kami sudah berkumpul semua, dia kasih tahu kalau canyoning dibatalkan. Bingo! Firasat saya menjadi kenyataan. Hujan deras selama berjam-jam membuat aliran air terjun menjadi sangat deras dan berbahaya untuk melakukan canyoning. Walhasil, agenda kami batal dan menjadi lowong. Lalu kami rembukan dan memutuskan untuk menonton film Captain America: Civil War di bioskop. Baliknya ada kejadian konyol. Waktu mau keluar mall, kami semua kehilangan arah alias nyasar. Sampai-sampai kami baca peta, tapi tetep nggak ketemu. Gara-gara hal itu muncul lelucon kalau kami yang notabene kebanyakan pendaki gunung, nggak pernah tuh kesasar waktu di hutan, eh giliran di mall malah pada bingung nyari jalan. Emang dasar anak gunung. Setelah menemukan jalan keluar, kami akhirnya bisa pulang dan balik ke penginapan.

captain america civil war
Baca peta, tapi tetep nyasar

Related Articles

2 comments:

  1. Aku kmrn cuman lewat depan pasar itu aja
    Ga tega mau masuk, apalagi ngefoto :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, lebih baik nggak masuk kalau nggak tegaan.
      daripada nyesel nantinya

      Delete