Friday, July 29, 2016

Solo Hiking, Nggak Benar-benar Sendiri

solo hiking ciremai

Naik gunung adalah hal yang menyenangkan, apalagi kalau bareng teman. Tapi, gimana kalau mendaki sendirian alias Solo Hiking. Rasa-rasanya kalau mendaki seorang diri mengkhawatirkan juga. Alasannya karena kalau saat mendaki tiba-tiba mengalami kejadian buruk siapa yang mau nolongin?

Awalnya saya nggak pernah kepikiran dan nggak ada keinginan untuk naik gunung sendirian. Tapi sampai saat ini, saya udah 2 kali melakukan pendakian seorang diri. Yang pertama saya lakukan di Gunung Panderman, Malang. Lalu yang kedua adalah gunung yang ada di belakang rumah saya, Gunung Ciremai.

Entah apa yang ada di pikiran ketika memutuskan untuk melakukan solo hiking. Mungkin gara-gara nonton film Wild dan Into The Wild. Film yang mengisahkan seseorang dalam melakukan perjalanan ke alam bebas sendirian. Tapi, meskipun namanya solo hiking, toh saat di TKP nggak bener-bener sendirian kok. Karena di perjalanan bakal ketemu pendaki lain juga (kalau ada). Itu yang bikin saya memberanikan diri untuk melakukan pendakian seorang diri. Dan itu terbukti pada 2 pendakian solo tersebut.

Saya memilih Gunung Panderman sebagai tujuan solo hiking pertama saya karena gunung ini nggak terlalu berat medannya. Sehingga resiko terjadinya kenapa-kenapa nggak terlalu besar. Selain itu, waktu tempuhnya juga cukup 2 – 3 jam saja mendaki dengan ritme yang santai.

Dari kostan saya menggeber motor ke kota Batu, letak Gunung Panderman berada. Setibanya di basecamp, sudah ada pendaki yang duluan naik, terlihat dari adanya beberapa motor di sana. Nggak lama setelah saya juga datang segerombolan pendaki. Salah satu dari mereka menyapa saya.

solo hiking panderman
Sunrise dari Panderman

Pendaki: “Darimana mas?”
Saya: “Saya dari Malang mas.”
Pendaki: “Rombongannya berapa orang mas? Rame banget ya.”
Saya: “Saya sendirian mas. Saya bukan rombongan mereka.”
Pendaki: “Wah sama dong, saya juga sendirian.”
Saya: “Seriusan? Bareng aja kalau gitu mas.”
Pendaki: “Oke. Kenalin dulu. Saya Juned.”
Saya: “Saya Ilham.” Sambil jabat tangan.

Setelah perkenalan singkat tersebut, kami langsung mengurus simaksi dan mulai mendaki. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol obrolan-obrolan random yang ngalor-ngidul. Dia bertanya pada saya, apa alasan naik gunung sendirian, “Kenapa naik sendirian, Ham? Lagi galau kah?” Saya tertawa ketika mendengarnya. Emangnya ada yang saya galaukan. “Nggak kok. Lagi jenuh sama suasana kota, jadi pengen menyendiri aja.” jawab saya. Jawaban Juned juga sama ketika saya kembalikan pertanyaannya. Dia bilang, dia sedang jenuh dengan aktivitas kuliah. Bedanya dia sempat mengajak beberapa temannya. Namun karena berhalangan, akhirnya dia mendaki sendiri.

solo hiking panderman
Bangun tidur langsung cekrek

solo hiking panderman
Ini Juned

Sedangkan pengalaman solo hiking kedua saya terjadi di Gunung Ciremai. Waktu itu saya naik via jalur Palutungan. Sebenarnya dari rumah lebih dekat ke Linggajati, tapi saya nggak mau. Angkat tangan sama jalur itu, nggak kuku. Biarpun udah berkali-kali mendaki Ciremai, semuanya lewat Linggajati. Belum pernah sama sekali lewat Palutungan. Meski nggak familiar sama jalurnya, apalagi sendirian, saya tetap yakin pendakian ini bakal lancar.

Nggak seperti di Panderman yang dari awal mula udah ketemu orang untuk diajak barengan, saya benar-benar sendirian saat meninggalkan basecamp. Tapi saya yakin, diatas pasti udah banyak pendaki. Soalnya saya mendaki di akhir bulan Juli, yang merupakan musimnya naik gunung. Lagi ramai-ramainya. Benar saja. Saat saya sampai di Pos Cigowong, udah banyak pendaki yang mendirikan tenda atau sekedar istirahat.

solo hiking ciremai

Selepas Cigowong ini, saya mulai sering berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Entah itu yang turun atau yang sedang perjalanan naik juga. Kalau papasan saat sambil berjalan, biasanya cuma sekedar nyapa aja. Nah, kalau papasannya waktu lagi sama-sama istirahat di tanah yang datar, selain nyapa, pastinya ada obrolan-obrolan singkat. Rata-rata dimulai dengan pertanyaan “darimana” atau “rombongannya berapa orang”. Ketika saya menjawab pertanyaan kedua dengan jawaban “sendirian aja kang/teh”, respon mereka beragam. Seperti “kok berani kang sendirian?”, “wah, mantap kang” atau ada juga yang nggak percaya dan bilang “serius kang? Masa sendirian?” Lain lagi dengan respon Teteh-teteh yang sambil membandingkan dengan temannya laki-lakinya, “Tuh, yang kayak gini nih baru laki.”  Terakhir ada yang merespon dengan balik bertanya, “Kenapa kang kok sendiri? Nggak ada temen nanjak atau emang pengen sendiri? Atau jangan-jangan jomblo?” Aduhh sembarangan ini orang, tahu aja saya jomblo.

Kebanyakan pendaki yang berpapasan dengan saya cuma ketemu sekali. Tapi seenggaknya ada 2 rombongan pendaki yang sepanjang pendakian kami sering kali berpapasan karena saling salip-menyalip. Yang pertama Daweng bersama 4 orang temannya yang berasal dari Cilegon. Kedua, Firman dan 2 temannya dari Indramayu. Bahkan sampai sekarang, saya masih keep in touch dengan mereka. Khusus dengan rombongannya Daweng, mereka malah mengajak saya untuk ngecamp bareng. Awalnya kami hanya sekedar saling salip, lama-kelamaan kami sering istirahat bareng di waktu yang bersamaan. Nah saat itulah mereka ngajak ngecamp bareng. Malah dengan sukarela, salah satu dari mereka menawarkan untuk membawakan carier saya yang segede gaban itu. Orang baik memang bisa ditemukan dimana saja. Bersyukur saya bertemu dengan mereka.

solo hiking ciremai
Daweng dkk, daweng yg ketutupin carier biru

Ketika matahari mulai kembali ke peraduannya, kami masih mendaki ke Pos Goa Walet, tujuan kami mendirikan tenda. Namun, saat mendengar kabar dari pendaki yang turun kalau di Goa Walet penuh, Daweng dkk, memutuskan untuk gelar tenda di tanah datar yang kami temukan di perjalanan. Karena kemungkinan di Goa Walet nggak kebagian lapak. Disitulah kami berpisah, karena saya tetap melanjutkan ke Goa Walet. Sebenarnya watir nggak dapat lapak juga. Tapi karena rencana saya akan pulang via Linggajati, gelar tenda di tempat yang lebih dekat dengan puncak lebih baik pikir saya. Biar sekalian capeknya. Saya pun berpisah dengan mereka.

Masih di perjalanan menuju Goa Walet, saya bertemu dengan Firman yang sedang mendirikan tenda di tanah datar yang luasnya cukup untuk 2 tenda. Dia menawarkan saya untuk gelar tenda di sampingnya. Tapi tetep, saya mau mencoba peruntungan di Goa Walet.

Saat hari sudah gelap, saya baru sampai di Goa Walet. Dan benar apa kata orang-orang, Goa Walet ramai banget. Udah kayak pasar malam dadakan. Kemudian saya mblusuk ke sisa lapak di antara tenda para pendaki. Siapa tahu cukup untuk 1 tenda. Namun setelah saya muter-muter, nggak ada lapak tersisa. Ketika sedang bingung, saya melihat 2 orang pendaki yang clingak-clinguk seperti sedang mencari lapak juga. Lalu saya bertanya pada mereka. Ternyata bukan, mereka sedang mencari temannya yang sudah duluan ke Goa Walet. Dari mereka pula saya dapat info kalau di dalam goanya terdapat lapak kosong. Saya pun buru-buru ke TKP. Dan bingo! Apa yang dibilang mereka benar, ada sebidang tanah yang cukup untuk gelar sebuah tenda. Nuhun, mang!

solo hiking ciremai
Bareng si Daweng

Esoknya saat sudah di puncak, saya kembali bertemu dengan Daweng. Tapi, hanya 1 ada orang temannya di situ. Sedangkan 3 orang lainnya tidak ikut muncak. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dan fotbar, saya lanjut mengitari puncak untuk turun via Linggajati.

Di perjalanan turun menuju Pangasinan, lagi asik lari-larian, dari kejauhan saya melihat orang yang familiar bagi saya. Ketika dia memanggil, saya baru sadar kalau itu Anyuh. Tetangga sekaligus teman dekat kakak saya. Dia mendaki bareng Mod (senior saya waktu SISPALA) dan beberapa temannya yang lain. Saya pun pulang bareng mereka. Sampai rumah malah. Yaiyalah, tetanggaan.

solo hiking ciremai
Masak di pinggir kawah

Meski namanya Solo Hiking atau Naik Gunung Sendirian, nggak benar-benar sendiri. Saya manusia, makhluk sosial yang pada hakikatnya butuh interaksi antar sesamanya. Seperti dari kedua pengalaman saya tersebut, saya selalu bertemu orang baru. Bahkan ketemu tetangga. Pada akhirnya, naik gunung sendirian ini hanya saat berangkat dari rumah saja. Karena begitu udah di gunung, saya nggak bakal bener-bener sendiri. Kecuali kalau emang di gunung tersebut cuma saya seorang yang mendaki. Eh, tapi nggak juga sih, karena ada kamu yang selalu ada di hati. Ehm.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment