Tuesday, August 23, 2016

Menyelisik Kehidupan di Gili Trawangan

gili trawangan

Jika berlibur ke Lombok, kebanyakan orang pasti akan memilih Gili Trawangan atau mendaki Gunung Rinjani. Memang benar, dulu saya juga berpikiran begitu. Karena 2 tempat itu adalah sesuatu yang Lombok banget. Namanya sudah menggema ke seluruh dunia. Orang-orang yang yang habis dari RInjani biasanya selalu menyempatkan mampir dulu ke Gili Trawangan. Alasannya sama, udah jauh-jauh ke Lombok, mending sekalian aja. Kapan lagi kan ya?

Beberapa minggu yang lalu saya juga habis dari sana, tepatnya tanggal 31 Juli – 1 Agustus lalu. Mengobati rasa penasaran. Masih bersama Saifud, Yogi dan juga Ari (adiknya Yogi). Kami berencana bermalam di sana, karena menurut penuturan Yogi, di Gili Trawangan bakal terasa beda saat malam hari. Tapi kami mau pilih cara yang hemat dengan camping. Sebenarnya banyak homestay murah dengan harga 100k/malam. Tapi tetep kan lebih hemat ngecamp. Cukup dengan modal sewa tenda seharga 30k/hari. Itu pun dibagi empat mbayarnya. Jauh lebih hemat! Yah meskipun itu jauh dari kata nyaman. Tapi yang namanya backpacking nggak memprioriskan kenyamanan.

Untuk menuju Gili Trawangan, harus ke Bangsal terlebih dahulu. Di sana merupakan tempat penyebrangan menuju 3 gili (Trawangan, Meno dan Air). Ada 2 jenis kapal yang bisa digunakan. Fast boat dan Public boat. Untuk public boat, sistemnya beli tiket, lalu menunggu kapal penuh dulu baru berangkat. Harganya ditarif 15k/orang. Sedangkan kalau fast boat, begitu bayar tanpa babibu langsung berangkat. Tapi ya berat di dompet. Toh, kalau naik public boat juga paling lama 45 menit udah sampai. Buat kami yang nyari hemat ya nggak ada opsi untuk naik fast boat. Oya, kalau bawa kendaraan pribadi, banyak kok tempat penitipan di sekitar bangsal yang dihitung per hari.

gili trawangan
Tarif Public Boat

gili trawangan
Kek gini nih dalam boatnya

Setelah menyebrang laut sekitar 30 menit, akhirnya saya menginjakkan kaki di Gili Trawangan. Tulisan Trawangan yang berukuran besar menjadi magnet saat pertama kali terlihat ketika masih berada di kapal. Kemudian kami mulai berjalan mengelilingi pulau. Jauh seperti yang saya bayangkan, Gili Trawangan ini di sekeliling pulaunya berjejer café, resort, restoran, operator diving hingga tour organizer. Hanya pulau di sisi timur dan utara yang masih alami alias belum dibikin tempat seperti itu. Itu pun cuma di beberapa titik. Entah untuk beberapa tahun ke depan, mungkin seluruh sisi pulau nggak ada lagi pantai netral.

gili trawangan
Gini suasananya

Sesuai hasil riset saya dari internet, di Gili Trawangan memang tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor. Selain berjalan kaki, wisatawan bisa menyewa sepeda ontel seharga 50K/hari. Kalau mau enak naik cidomo (delman) aja dengan harga 100K++ yang bisa ditumpangi 3 – 4 orang. Kalau pun ada motor, itu adalah motor listrik yang digunakan oleh sebagian pribumi di sana. Jumlahnya pun nggak banyak. Gimana dengan kami? Tentu saja kami jalan kaki. Apalagi yang gratisan selain itu?

gili trawangan
Bule semua

Yang unik adalah kami yang orang Indonesia, yang notabene adalah tuan rumah, malah berasa jadi turis asing di sana. Beneran. Mayoritas wisatawannya adalah orang luar negeri. Meski ada juga orang lokal, tapi hanya segelintir yang saya temui (pengecualian untuk pribumi di sana ya). Yang bikin saya heran, ketika kami sedang menikmati perjalanan sambil lihat kanan kiri, ada seorang bule yang dengan lancarnya ngomong Bahasa Indonesia. Awalnya saya kira itu emang orang Indonesia yang ngomong, begitu di perhatikan lagi, eh ternyata beneran bule. Gilaaa, udah berapa lama itu bule ada di Trawangan sampai bisa-bisanya dia ngomong begitu fasihnya, atau jangan-jangan dia lahir di sana.

Kehidupan di Trawangan memang bisa dibilang sudah bercampur antara orang lokal dan wisatawan mancanegaranya. Bukan cuma peristiwa bule ngomong bahasa kita, banyak juga resort-resort yang pemiliknya adalah bule atau restoran yang menjual makanan dan minumannya dengan mata uang dollar. Menarik bukan? Menarik isi dompet maskudnya.

Semakin kami melangkah ke utara, lalu ke timur, suasananya jadi semakin sepi. Pusat keramaian sepertinya memang berada di sisi pulau bagian barat, titik terdekat ke dermaga. Untuk yang nggak suka keramaian, mlipir saja ke arah timur / utara. Meskipun emang suasananya sepi, home stay dan restoran ada kok. Tapi paling cocok untuk yang mau ngecamp seperti kami ini. Karena udah nggak memungkinkan mendirikan tenda di bagian barat. Masa iya mau ngecamp di depan café, kenapa nggak di dalemnya aja sekalian.

gili trawangan
No polusi!

Kami berhenti berjalan ketika sampai di sebuah tempat bernama Ombak Sunset. Kalau pernah lihat orang foto main ayunan di pinggir pantai, ya itulah tempatnya. Ombak sunset sendiri adalah nama sebuah hotel yang dengan cerdiknya menarik perhatian orang dengan cara unik tersebut. Apalagi di situ merupakan spot sunset. Aah, suasana romantisnya ngena banget kalau berada di sana. Sambil menunggu momen matahari tenggelam tiba, kami main gapleh!

gili trawangan
gaplehan

gili trawangan
Ombak sunset

Ketika matahari sudah kembali ke peraduannya, kami kembali berjalan ke pulau bagian barat untuk makan malam. Saya mengajak yang lain untuk makan di pasar seni. Sebuah tempat lapang (nggak luas-luas amat kek lapangan juga sih) yang setiap malam pedagang makanan akan menggelar warungnya di sana. Di situlah satu-satunya tempat makan yang waras bagi saya. Dengan 20K (masih termasuk mahal sih buat dompet haha) saya bisa makan dengan kenyang dan tanpa penyesalan. Karena daripada makan di restoran yang tentunya bakal menguras dompet saya yang udah tipis ini.

Yang bikin saya kesel, entah cuma ke kami doang atau nggak, mas-mas penjual makanannya seperti mengesampingkan kami. Mereka terlihat lebih ramah saat melayani bule daripada kami. Ketika sudah pesan makan, kami bingung karena kursinya penuh. Kami bertanya pada mereka apa ada tempat yang bisa kami gunakan, namun mereka terkesan cuek dan hanya bilang “iya mas nanti dicariin”. Setelah berdiri lebih dari 5 menit, kami di antar duduk di tempat yang bukan ‘lapak’-nya. Begitu ia pergi, baru saja kami mau duduk datang sang empunya lapak dan bilang kalau nggak boleh duduk di situ. Karena tiap warung punya lapaknya masing-masing. Wtf! Udah terlanjur naik pitam dan malas berurusan dengan mereka lagi, kami cari tempat sendiri dan dapatlah sebuah kursi yang menghadap persis di depan kuda. Bodo amat, yang penting kenyang dah!

gili trawangan
Pasar seni, rame kalau malam

Sehabis makan, kami kembali ke tempat yang sepi untuk mendirikan tenda. Saat menemukan lapak yang cukup sepi, saya bertanya ke orang yang sedang asyik bernyanyi sambil bermain gitar, “Mas, boleh diriin tenda disini nggak ya?” Salah satu dari mereka menjawab, “Saya juga nggak tau mas, kita juga rencana mau ngecamp disini.” Saya kira mereka warga asli sini, saat ditanya darimana, eh ternyata urang Bogor. Jadilah kami ngobrol pakai Basa Sunda. Btw, mereka adalah anak vespa yang baru turun dari Rinjani. Yang keren, dari Bogor mereka ke Lombok naik vespa. Berapa lama perjalanan? Seminggu! Tapi seminggu itu mereka berhenti di beberepa kota untuk menghadiri gathering katanya. Kemudian kami mendirikan tenda secara berdampingan.

Begitu selesai mendirikan tenda, Saifud dan Ari memilih untuk tidur. Sedangkan saya, Yogi dan orang Bogor mencari masjid untuk menunaikan ibadah shalat. Saya sendiri punya misi khusus, yaitu menuntaskan panggilan alam yang sedari tadi ditahan. Heu..

gili trawangan
suasana yang familiar

gili trawangan
ga boleh pakai bikini

Untuk ke masjid, harus masuk ke bagian dalam pulaunya. Tempat orang-orang pribumi tinggal dan juga homestay yang kelihatannya murah banyak ternyata. Yang bikin saya antara heran dan takjub, saat membandingkan bagian luar pulau / pinggir pantai sesak oleh berbagai tempat hiburan seperti café, bar dan karaoke. Tiap tempat sangat berisik karena menyetel musik dengan keras. Apalagi tempat-tempat tersebut di penuhi oleh bule yang menguatkan kesan kalau saya bukan lagi di Indonesia, kami seperti minoritas. Namun, begitu masuk rada ke dalam pulau (ya sekitar 100m lah), suasananya berubah drastis. Saya sangat familiar karena kesan Indonesianya dapat banget. Kalau di pinggir pantai denger musik reggae, saat ke tempat pribumi saya mendengar suara orang ngaji. Sungguh perbedaan yang jauh yang hanya dipisahkan jarak 100m.

Hebatnya, orang pribumi di Trawangan sepertinya tidak merasa terganggu dengan kondisi yang seperti itu. Mungkin mereka juga mengerti. Dengan kondisi seperti itu, mereka bisa memenuhi kebutuhannya dengan membuka usaha atau pun bekerja di tempat-tempat tersebut. Btw, hasil dari obrolan-obrolan bersama warga pribumi, kalau harga tanah di Gili Trawangan dibandrol Rp. 100 juta/1m. Beuh. Mangga kalau punya banyak duit bisa berinvestasi dengan buka usaha di Trawangan. Buka rental PS barangkali?

gili trawangan
Tariiik mang

Rasanya heman, udah jauh-jauh ke Gili Trawangan kalau cuma numpang tidur doang. Sekedar ingin menikmati malam, saya dan Yogi berjalan berkeliling nyari yang aneh. Kami pun berhenti di sebuah bar bernama “sama-sama reggae”. Mungkin ada yang pernah ke situ? Sesuai namanya, di situ lagu yang dibawakan reggae semua. Tepat di depan panggung, turis lokal maupun turis asing campur aduk dan joget bareng. Tapi saya nggak ikut joget, cuma nyanyi doang (padahal lagunya aja nggak hapal). Nggak kerasa, kami berada di situ sampai jam 12++. Karena udah capek joget, eh bukan, capek nyanyi, kami kembali ke tenda dan bergabung dengan Saifud yang udah pergi ke alam mimpi.

Paginya ketika matahari belum terbit, saya bangun dan jalan-jalan pagi sekedar mencari momen sunrise. Meninggalkan yang lain yang masih tertidur pulas. Saya berjalan hingga ke dermaga, spot yang katanya bagus untuk melihat sunrise. Nggak banyak orang yang mencari momen sunrise, mungkin masih pada kecapekan akibat joget semalaman.

Setelah menikmati sunrise, saya kembali ke tenda dan leyeh-leyeh sebentar sambil menonton orang yang lagi sufing. Tertantang rasanya diri ini ketika melihat orang dengan asyiknya berselancar di atas gulungan ombak. Namun apa daya saya belum berani. Kan katanya kalau mau surfing harus lancar berenang, soalnya mainnya rada ke tengah laut, nggak di deket pantai. Lah saya? Lupakan.
Saat waktu menunjukkan jam 9, saya kembali ke Lombok dengan berat hati.

gili trawangan
Ehem, kapan bisa gini

gili trawangan
Salut sama bule ini, sukarela ngumpulin sampah

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment