Thursday, October 27, 2016

Bootcamp Aksa7 Ranu Regulo #1: Seru nan Inspiratif!


Udah pada tau AKSA7? Ituloh 7 anak muda yang mendokumentasikan pendakian 7 gunung tertinggi (seven summits) di 7 Pulau di Indonesia dalam sebuah film layar lebar. Mulai dari Kerinci (Sumatera), Semeru (Jawa), Bukit Raya (Kalimantan), Rinjani (NTB), Latimojong (Sulawesi), Binaiya (Maluku) dan Cartenz Pyramid (Papua). Mereka membuat film ini secara independen. Oleh karena itu butuh perjuangan yang besar untuk merealisasikannya. Namun mereka tidak sendiri, banyak orang yang simpati dan membantu AKSA7 secara sukarela. Mereka disebut sebagai Warriors AKSA7.

Sekilas tentang AKSA7, untuk lebih lengkapnya bisa browsing atau follow social media-nya aja yaa. Dalam rangka melengkapi filmnya, AKSA7 memiliki ide kreatif dengan merajut kata ‘INDONESIA’ dengan mengadakan bootcamp di 9 kota berbeda. Nah, 17 – 18 September lalu bootcamp diadakan di Malang, tepatnya di Ranu Regulo. Saya lihat infonya hanya beberapa hari sebelum hari H. Begitu tahu, tanpa babibu saya langsung daftar! Di bootcamp Ranu Regulo, ada Kak Abex (@anak_bebek) dan komunitas SAVER (Sahabat Volunteer Semeru) yang menjadi pembicara. Kak Abex sendiri sekaligus merangkap menjadi MC.

Aksa 7

Pada hari sabtu kami diharuskan berkumpul pada meeting point di Tumpang. Saya berangkat menggunakan sepeda motor bersama Hanif (sesama warriors juga yang baru saya kenal di grup WA warriors). Sampai di TKP, peserta bootcamp sudah banyak yang tiba duluan. Setelah menunggu peserta lengkap, kami di briefing terlebih dahulu. Pada bootcamp kali ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Lalu tiap kelompok diberi sebuah clue. Dan dari tiap clue akan ada penilaian baik secara individu maupun kelompok. Nantinya penilaian itu digunakan sebagai hadiah doorprize diakhir acara. Yuhuu semangat cari poin!

Saya 1 kelompok dengan Rani (Malang), Hana (Tegal), Asyhab (Klaten) dan Novel (Batam). Untuk clue pertama, kami diminta untuk membuat nama kelompok (yang identik dengan Indonesia) beserta yel-yel. Bima Aksa menjadi nama kelompok kami berdasarkan hasil diskusi. Kenapa begitu? Bima, seorang tokoh cerita rakyat dari keluarga Pandawa dan kini menjadi tokoh pewayangan. Dia merupakan yang terkuat diantara saudaranya yang lain. Begitu juga dengan kami, kami ingin menjadi yang paling tangguh diantara kelompok yang lain. #eeaaa

Kami semua berangkat ke Ranu Pani dengan menumpak truk. Ini merupakan perjalanan pertama saya ke Ranu Pani sejak 3 tahun yang lalu saat mendaki Gunung Semeru. Melewati Gubugklakah, Ngadas hingga Jemplang dengan tanjakan yang tak ada habisnya. Masih terasa familiar dengan suasananya. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan hijaunya hutan dan ladang milik warga. Menyegarkan mata banget, ditambah udaranya yang dingin. Wohoo adem.

We’re ready!!!

Hijauuu

Tiba di Ranu Pani, ternyata sepi. Nggak tumpah ruah seperti yang saya lihat di instagram orang-orang. Maklum, kami ke sana bukan saat peak season. Di Ranu Pani kami di briefing dulu, tiap kelompok dipinjamkan tenda eiger ambush yang gede itu. Jadi ingat waktu ke Gunung Arjuna bawa tenda itu yang cuma diisi oleh 4 orang, alhasil space kosongnya masih buanyak. Bisa guling-guling, kayang, salto, dll. Kemudian kami lanjut ke tempat tujuan kami, Ranu Regulooo! Nggak jauh. Nggak sampai 5 menit udah sampai. Beberapa panitia sudah standby. Tenda pleton untuk kegiatan acara pun sudah berdiri. Suasana damai Ranu Regulo begitu terasa. Tentram. Syahduuu..

Kegiatan diawali dengan menyanyikan yel-yel masing-masing. Kelompok saya dapat giliran pertama dan sukses membawakan yel-yel dengan kompak. Malah paling kompak diantara yang lain kalau menurut saya sendiri. Itu berkat yel-yel kami yang terbilang pendek. Kelompok lainnya juga nggak kalah seru. Mereka membawakan yel-yel dengan menarik. Meski ada yang lupa lirik ditengah-tengah atau sambil lihat catatan. Makanya jangan panjang-panjang! Hehe!

Keluarga Rinjani Warrior lagi yel-yel

Setelah itu kami diberikan clue kedua yang intinya dalam waktu 1 jam disuruh membangun rumah untuk keluarga kami. Ya mulai dari situ kami menyebutnya sebagai keluarga, bukan kelompok. Biar kesan kebersamaannya lebih dapet gitu. Biar lebih mesraaa..

Ada sedikit kendala saat mendirikan tenda. Ketika rampung memasang seluruh frame pada tenda, posisi tenda malah miring. Sempat kami bongkar dan pasang ulang, tapi sama aja. Setelah dicari-cari, ternyata ada salah satu rangkaian frame yang rusak. Ealah. Mau sampai kambing bisa bertelur juga nggak bakal bisa seimbang. Lalu kami ngadu ke panitia, dan diganti dengan frame yang lain. Padahal saat itu tenda keluarga lain sudah berdiri dan dipasang flysheet. Sedangkan kami? Masih sejajar dengan tanah. Mana clue 2 salah satu penilaiannya berdasarkan kecepatan. Heueu..

Mau nggak mau kami mendirikan tenda dari awal. Baru aja pasang beberapa frame, kak Abex udah meminta kami untuk break sejenak dan berkumpul. Ternyata oh ternyata, kami diminta untuk menghadiri ritual adat yang dilakukan oleh Kepala Suku Tengger. Ritual ini diadakan istilahnya untuk meminta izin kalau kami akan melakukan kegiatan di kawasan Ranu Regulo. Katanya di kawasan ini pernah ada beberapa orang yang hilang dan bahkan belum ditemukan sampai saat ini. Padahal Ranu Regulo ini nggak jauh dari pemukiman warga Ranu Pani. Maka dari itu kami diwajibkan untuk berperilaku sopan dan mematuhi pantangan-pantangan yang ada. Seperti tidak boleh berbicara kotor, merusak alam, dll. Intinya jangan songong dah :))

Begitu ritual selesai, kami langsung menyerbu sesajen. Mulai dari nasi kuning, pisang, jajanan hingga kopi. Para warriors makan sesajen dengan sangat lahap. Kelihatan banget kalau mereka kelaparan. Sampai-sampai Qsoet, meminum kopi yang seharusnya nggak boleh. Ketika diberitahu kalau kopi itu nggak boleh diminum, dia kaget. Wajahnya penuh kekhawatiran. Mana kopinya udah habis setengah gelas. “Kalau sudah terlanjur ya sudah, nanti dibuatkan lagi kopi untuk sesajennya”, kata salah satu warga Ranu Pani. Aduh.. aya-aya wae ah sam Qsoet mah. Hahaha!

Serbuuu sajen

Kenyang makan sesajen, kami kembali lanjut membangun rumah. Sementara yang lain tinggal merapikan barang-barang di dalam tenda, kami masih berusaha mendirikan tenda. Alhasil, kami paling akhir sendiri. Meski keluarga kami udah dapat tambahan waktu, tetep aja pasangnya masih belum bener dan barang-barang dalam tenda masih berantakan.

Tiap keluarga mempresentasikan rumah masing-masing. Ada yang di depan tendanya dihias pakai balon, tumpukan-tumpukan kayu. Ada juga yang konsepnya go green. Wah keren-keren lah. Lalu saat giliran keluarga kami, saya yang kebagian jadi leader grup, bingung mau ngomong apa. Boro-boro mikirin konsepnya gimana, dekorasinya aja cuma majang selusin telur asinnya Hana. Tapi bukan telur asin sembarangan lho, karena ini telur asin panggang yang bertuliskan “Bima Aksa7”. Keren nggak tuh. Setelah ngarang ngalor ngidul tentang konsep rumah, diakhir saya berkata “Kalau dilihat, rumah kami emang nggak bisa dibilang bagus. Tapi yah kita nggak lihat hasilnya gimana, karena yang lebih penting kita hargai prosesnya.” #ngeles

Bima Aksa :))

Setelah break makan siang, kami diberi clue selanjutnya. Clue ketiga kita main panjang-panjangaaan. Itu loh games yang mengharuskan pemain menyambungkan benda apapun yang bisa dipakai dan tidak boleh putus. Dengan catatan, benda yang saat itu sedang dipakai atau dibawa. Kecuali tali rapiaaa. Karena ada tuh yang megang tali rapia, yang jelas bakal menang. Dapat bocoran dari mana coba.

Semua peserta mengeluarkan ide-ide kreatif dan gokiiilnya. Mulai dari tongsis, jaket, tali sepatu, tas slempang hingga celana dan baju digunakan untuk main games ini. Alhasil para peserta pria kebanyakan tinggal koloran doang. Begitu juga dengan saya. Saking nggak mau kalahnya, kami sampai menyambung badan dengan posisi tiduran. Yang kasihan Novel dan Asyhab, mereka tidurannya di semak-semak gitu. Masalahnya mereka kan udah lepas baju, jadi langsung bersentuhan dengan badan. Ya tinggal berdoa saja semoga nggak gatal-gatal. Tapi seru banget pokoknya deh!

Game balapan jalan di atas trash bag

Clue berikutnya, kami dapat challenge untuk membuat konfigurasi foto keluarga. Awalnya kami sempat bingung juga, lalu Novel punya ide dengan konsep foto candid bersama ibu-ibu warga lokal yang sedang memasak di tungku perapiannya. Saat presentasi, giliran Asyhab yang menjelaskan. Intinya konsep foto kami adalah bahwa Warriors Aksa7 itu nggak cuma asik-asikan sama sendiri aja, tapi kita melihat ke sekitar juga. Kami bisa dan mau berbaur dengan warga lokal. Karena kami berkegiatan di tempat orang lain, setidaknya kami harus ada interaksi dengan mereka. Begitu. Hehee!

Acara masih berlanjut dengan diberikan clue ke-5, tiap keluarga diminta untuk membuat sebuah games dan menuliskannya pada secarik kertas. Saat saya terka-terka, sepertinya ide tiap kelompok bakal ditukar dan harus memainkannya. Dan dugaan saya terbukti ketika kami mendapatkan games dengan clue “berdiri di atas kertas berukuran 4x6”. What??? Ukuran pas foto? Gimana caranya coba? Sambil memikirkan solusinya, keluarga yang lain kebagian giliran duluan. Ada yang dapat games mencari suara hewan. Ada juga yang persis seperti kami, bedanya mereka berdiri dilingkaran berdiameter 2 jengkal tangan.

Ketika giliran kami tiba, Novel langsung berdiri di atas kertas 4x6 dan games selesai! Semua kaget. Ada yang heran, ada yang ketawa dan ada juga yang protes. Kenapa bisa begitu? Karena dari hasil diskusi keluarga kami, pada cluenya nggak ada kata-kata yang mengharuskan semua anggota harus berdiri di kertas. Jadi kami menyimpulkan kalau satu orang ya nggak masalah dong. Sampai-sampai kak Abex bilang kalau kami ini nggak mau repot mikir, tapi yang kami lakukan ada benarnya juga. Iya gak sih? Hahaha!

Game apa ya ini, lupa :v

Duh :))

Pada jam 7 malam, setelah break beberapa saat, kami berkumpul di tenda pleton untuk mengikuti sesi acara selanjutnya. Acaranya adalah talkshow mengenai Aksa7 dan dari pembicara kak Abex serta SAVER. Ini adalah point utama dari acara bootcamp Aksa7. Kalau diceritain isi dari sesi talkshownya sih postingan ini bakal panjang banget. Intinya sih seru dan bermanfaat banget. Kalau kak Abex, dia cerita kehidupannya bagaimana bisa sampai jadi seperti sekarang ini. Temen-temen dari SAVER, berbagi ilmu tentang konservasi khususnya di Gunung Semeru. Lalu Bang Teguh, perwakilan dari Ekspeditor Aksa7, cerita-cerita tentang apa sih Aksa7 itu. Bagaimana awalnya punya mimpi membuat film dokumenter di tujuh gunung di Indonesia. Banyak deh. Pokoknya inspiratif banget! Selain itu, ada sesi nonton bareng film dokumenter pendakian 5 gunung di 5 benua berketinggian 5000an mdpl yang dilakukan oleh pendaki SAR UNHAS yang rata-rata berumur 50 tahun! Wow! Dari situ saya sadar, kalau usia bukanlah halangan untuk menggapai mimpi. Amazing! Dan yang paling penting sih… makaaaaan!

Sesi talkshow di tenda pleton

Malamnya, sekitar jam 12an. Kami digiring keluar tenda sambil masing-masing membawa lilin berputar mengelilingi api unggun (belum nyala). Di bawah bulan purnama yang cantik, kami mendengarkan kata-kata kak Abex yang bijak nan inspiratif. Mario Teguh mah lewat. Kak Abex memotivasi kami untuk berani bermimpi, berani berkarya, selalu menyebarkan energi positif untuk diri sendiri, orang lain dan tanah air tercinta ini. Suasana malam itu semakin romantis saat diiringi lagunya Iwan Fals, “Kemesraan”. Sambil berangkulan, kami seolah membentuk rantai baja yang kuat, yang tidak akan bisa putus. Kemudian lilin-lilin yang kami bawa digunakan untuk menyalakan api unggun. Aah, malam itu sungguh sesuatu banget!

video by mang @ghaghah24

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment