Saturday, October 8, 2016

Mencari Pelangi Hingga ke Ujung Bukit Merisik

bukit merisik tanjung aan


Di ujung Bukit Merisik, kami tak mampu berdiri. Angin bertiup sangat kencang membuat nyali kami ciut. Bukannya kenapa, saya takut diterbangkan ke laut oleh angin. Mana ombaknya besar sampai-sampai suaranya begitu berisik. Kami tak lama berada disitu, padahal pemandangan dari atas bukit itu sungguh cantik. Bahkan, sempat muncul samar-samar pelangi pada gulungan ombak.

Ini adalah jalan-jalan terakhir saya selama 2 bulan di Lombok. Traveling yang terpaksa saya lakukan akibat “kompor”nya Gumilang meledug. Saya sampai bela-belain bolos magang. Perjalanan ini dilakukan karena Gumilang nggak puas saat ke Batu Payung. Kali ini kami berencana untuk ngecamp di Tanjung Aan. Karena saya nggak sempat untuk menyewa alat camp, saya kasih Gumilang kontak tempat penyewaannya. Tapi ketika berangkat, saat dia datang ke kos untuk menjemput saya, ternyata dia belum menyewa alat. Mana udah jam 10 malam. Penyewaannya juga paling udah tutup. Soalnya ini Lombok cuy, jam 9 aja jalanan udah sepi. Alhasil kami hanya berharap disana ada “beruga” sebagai tempat kami numpang tidur.

Dari Mataram kami berangkat jam 10 malam menuju Tanjung Aan. Jalanan udah seperti punya sendiri, sunyi senyap. Untungnya jalan di Lombok sebagian besar udah di hotmix, sehingga kami bisa gaspol sepanjang perjalanan. Yah, meski motor vario putih sewaan Gumilang hanya bisa melaju mentok di kecepatan 80km/jam. Memasuki Kuta Pantai Lombok, suasana mulai agak ramai oleh bule-bule yang sedang asyik party di bar. Biasa kehidupan malam bule kan begitu. Sebenernya pengen mampir, tapi karena mata udah 5 watt, nggak jadi deh.

bukit merisik tanjung aan


Kami terus memacu motor hingga tiba diTanjung Aan. Sepi banget, nggak ada orang. Udah nggak ada kehidupan. Warga lokal nggak ada, wisatawan apalagi. Yakali siapa juga yang mau traveling malam-malam begini? Kecuali kami yang emang rada gelo. Setelah memarkir motor, lalu kami mencari beruga untuk lapak kami tidur. Tapi nggak ada! Untungnya ada beberapa kursi panjang yang agak lebar, dan ada atap yang terbuat dari rumbia. Tak ada pilihan, kami menjadikan itu sebagai singgasana untuk semalam.

bukit merisik tanjung aan
Tempat bobo

Kursi yang terbuat dari kayu itu saya lapisi dengan ponco supaya tidak lembab. Gumilang malah memakai ponconya untuk dipakai tidur. Meski begitu, kami bisa tidur cukup pulas. Hingga pada saat menjelang subuh, saya mendengar entah suara apa tepat di depan saya. Karena kondisi gelap gulita, saya kembali memejamkan mata. Tapi baru saja mencoba untuk tidur, tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing yang sangat keras. Bukan cuma 1, mungkin ada sekitar 10 ekor anjing. Saya refleks waspada dengan mengambil batu. Lalu saya bangunkan Gumilang. Dia pun kaget tiba-tiba bisa ada anjing sebanyak itu. Penasaran dengan posisi anjingnya dimana, saya menyalakan flash smartphone dan mulai menyenteri sekitar. Saya terkejut ketika ada seekor anjing dengan tubuh lumayan besar sedang tertidur beberapa meter di depan kami. Ternyata suara yang dari tadi saya dengar adalah suara anjing ini. Tapi dia tidak menggonggong. Dia hanya diam seolah menjaga atau menandai bahwa ada orang asing di wilayah mereka.

Semakin lama, anjing-anjing lainnya semakin sering menggonggong seolah memperingati kami. Saya jadi kepikiran, ada nggak ya anjing yang makan orang? Saat situasi semakin mencekam, tiba-tiba saja anjing-anjing tersebut berlarian menjauh ke suatu arah. Seperti ada yang memanggilnya. Mungkin dipanggil majikan mereka. Melihat ada kesempatan kabur, kami buru-buru meninggalkan tempat itu dan harus rela tidur kami berakhir. Saat mulai beranjak, saya baru sadar bahwa anjing yang sedari tadi menjaga kami tidak ikut pergi bersama anjing-anjing lainnya. Untungnya anjing yang satu ini tidak menggonggong atau mengejar kami. Huft.. bobo cantik yaa anying.

Kemudian kami langsung mendaki Bukit Merisik. Warna merah yang samar-samar mulai nampak di langit yang masih gelap. Kami terduduk dan terpukau saat menengadah ke langit. Langit begitu bersih dan penuh oleh taburan bintang. Sambil menunggu sunrise, saya ambil posisi selonjoran dan diiringi dengan alunan musik.

bukit merisik tanjung aan
Taburan bintang

Setelah langit mulai terang, saya baru menyadari kalau Bukit Merisik ini panjang banget. Saya mendaki belum seperempatnya. Ujung bukitnya malah nggak kelihatan. Udah jauh-jauh pergi dan digonggongi anjing pula, sayang banget kan kalau nggak berjalan-jalan sampai ke ujung bukit. Mumpung masih pagi, masih semangat. Udara segar. Sinar matahari juga lagi sehat-sehatnya.

bukit merisik tanjung aan
Golden Sunrise

Pemandangannya benar-benar memanjakan mata. Bukit yang berundak-undak seperti punuk unta terhampar di depan saya menanti untuk didaki. Pantai-pantai berjejer di sebelah barat dan timur. Sedangkan, di selatan adalah lautan samudra yang sangat luas. Saat mendekati ujung bukit, terdapat sebuah pantai kecil yang terlihat sangat cantik dari atas bukit. Wow, I’m speechless with that view! Susah untuk digambarkan dengan kata-kata. Rasanya seperti nge-fly ketika melihat indahnya ciptaan Tuhan ini.

bukit merisik tanjung aan
Bukit Merisik
bukit merisik tanjung aan

Pantai Berisik *saya yg namain :p

Lalu kami turun ke pantai kecil tak bernama tersebut. Pasirnya putih dan sangat halus seperti bedak bayi. Asyik rasanya leyeh-leyeh tiduran disana. Pantainya bersih, meski ada sedikit sampah yang sepertinya terbawa oleh ombak. Saya menamai pantai ini dengan Pantai Berisik. Ombaknya yang besar membuat suara-suara yang gaduh. Apalagi saat ombak menghantam batu karang. Wusssh.. airnya terlempar ke udara dan menjadi waterblow. Keren! Tapi jangan coba-coba mendekat kalau nggak mau ketarik ombaknya.

bukit merisik tanjung aan
Tuh ombaknya dueresss

bukit merisik tanjung aan
Ombak sama awan gak ada bedanya

Kami nggak bisa berlama-lama disana. Kami akan lanjut ke ujung bukit dan pulang ke Mataram setelahnya. Dari pantai, hanya perlu mendaki sekitar 5 menit untuk sampai ke ujung bukit. Ada sensasi yang berbeda saat berdiri disana, merinding takut jatuh! Ya, anginnya kuencaaang. Saya sadar kalau saya krempeng, jadi takut terbawa angin. Alhasil saya menikmati sejenak pemandangannya sambil terduduk. Dan tiba-tiba saja.. Pelangi! Saya melihat pelangi. Bukan pelangi yang muncul setelah hujan, karena saat itu nggak hujan. Tapi pelangi yang muncul pada gulungan ombak. Unik! Pelangi itu muncul setiap kali ombak bergulung. Sungguh moment yang langka. Sayangnya saya nggak bisa mengabadikannya pada lensa kamera. Maklum, kamera nggak mendukung.

bukit merisik tanjung aan
Yeay! At the end of Merisik Hill

Di punggungan bukit di sisi lainnya, saya melihat gerombolan anjing (yang menggonggongi kami sebelumnya) sedang berlarian mengejar kera! Sepertinya anjing-anjing itu sedang menjadikan kera sebagai mangsanya. Huft.. saya jadi lega saat mengingat kejadian digonggongi anjing waktu subuh. Ternyata anjing emang nggak makan orang, tapi makan monyet. Hehehe..

Sebelum pulang ke Mataram, kami sempat bertemu dengan teman Gumilang di Tanjung Aan. Untuk sekedar mengobrol dan mencicipi Kopi Lombok. Entah apa bedanya Kopi Lombok dengan kopi-kopi lainnya. Lidah saya bukanlah lidah penikmat kopi. Lidah saya hanya bisa merasakan 2 rasa. Enak dan enak banget. Itu saja. Hehe!

bukit merisik tanjung aan
Kopi Lombok

bukit merisik tanjung aan
Bonus, Si Anying

Related Articles

2 comments:

  1. Dari atas bukit merapin ini pemandangannya memang indah sekali. Unik dari gunung langsung bertemu dengan laut. Dayang Angin yang kencang, kau tidak akan bisa berlama-lama ya Mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak bikin betah berlama-lama :))
      terima kasih sudah mampir

      Delete