Friday, October 14, 2016

Pendakian Gunung Lawu #1: Naik Tangganya Cemoro Sewu

gunung lawu hargo dumilah

Lama nggak naik gunung bikin saya rindu rasanya berada diketinggian. Berdiri lebih tinggi dari awan. Dinginnya malam di gunung. Hangatnya sinar matahari saat terbit di pagi hari. Nikmatnya merebahkan badan setelah seharian mendaki. Dan masih banyak lagi. Setahun lebih saya nggak ndaki. Terakhir kali saat ke Papandayan Agustus 2015 lalu. Sebenarnya saya naik gunung sih, ke Gunung Panderman dan Gunung Mahawu di Tomohon. Tapi keduanya itu ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Sedangkan saya merindukan pendakian yang bisa menghabiskan waktu agak lama di gunung. Sampai beberapa ari gitu. Maklum, belakangan ini saya lebih sering main ke pantai atau tempat wisata lainnya. *ciee anak pantai

Finally, 1 – 2 Oktober kemarin saya baru saja mendaki Gunung Lawu. Yang bertepatan dengan tanggal 1 Suro. Ya, saya sendiri baru sadar kalau waktu itu 1 suro saat sudah turun. Berangkat dari Terminal Arjosari Malang, saya bersama Idang, Rahman dan Eko menuju Surabaya sekitar jam setengah 10 malam. Rencana menumpak bus ekonomi gagal karena yang tersisa hanya bus patas (IDR 25K). Bukannya kenapa, budget sudah kami hitung secara terperinci. Kalau diawal aja nggak sesuai rencana, seterusnya budget bakal membengkak. Maklum mahasiswa, duit untuk jalan-jalan aja harus ngirit pengeluaran buat makan dulu. Heuheu..

Perjalanan ke Surabaya nggak itu kerasa. Sekali merem, pas buka mata tau-tau udah sampai aja di Terminal Bungurasih. Ajaib! Kalau malam emang cepat, nggak sampai 2 jam bisa lho. Di terminal, kami bertemu dengan teman Eko yang juga akan ikut mendaki bersama kami. Brian namanya. Badannya kecil, tapi cariernya buesar. Isinya 4 botol air mineral ukuran 1.5 L. Jago! Saya mah males. Paling banyak aja 2 botol + plus 1 botol yang 600 mL. Soalnya kan ada sumber air. Kalau naik gunung yang nggak ada sumber airnya, nah itu lain lagi ceritanya. Saya bawa kompan sudah!

Perjalanan kami lanjut lagi naik bus ekonomi Jurusan Yogyakarta yang mampir di Terminal Maospati (Magetan) seharga Rp 30K/orang. Formasi kursinya 2 – 3, dan itu pun sudah hampir penuh. Jadi tinggal kebagian sisanya aja. Alhasil kami duduk berpencar. Perjalanan ke Magetan pun saya lalui dengan tidur. Sempat kebangun beberapa kali akibat guncangan karena supirnya ugal-ugalan. Gilak!

gunung lawu cemoro sewu
Noh, jarak Cemoro Sewu ke kota-kota

4 jam kemudian kami sampai di Terminal Maospati. Untuk menuju pos perizinan dari info kami dapat sebelumnya adalah naik bus / angkot jurusan Tawangmangu, dan itu adanya jam 5 pagi. Jadi mau nggak mau kami harus menunggu di terminal. Tapi fakta berkata lain. Begitu turun dari bus, kami langsung dihampiri bapak-bapak yang menawari untuk mencarter mobilnya dengan harga Rp 35K/orang. Harga segitu menyesuaikan berdasarkan jumlah orangnya. Saat itu kami bertujuh (ada 2 orang pendaki lain yang join dari Surabaya). Sedangkan kalau hanya 5 orang kebawah, harganya bisa 40K atau lebih.

gunung lawu cemoro sewu
Tiba saat sunrise!

Tiba di Cemoro Sewu, 2 pendaki yang join itu turun. Sedangkan kami lanjut ke Cemara Kandang. Saya dibikin bingung saat bapak sopirnya bilang ke Cemara Kandang jaraknya jauh, sekitar 30 km. Padahal setau saya nggak sampai 1 km. Dan ternyata benar, kami dibohongi. Nggak sampai 1 menit, kami sampai di Cemoro Kandang. Hhm, sa ae si bapak iki. Saat turun, kami berpikiran sama. Suasana di Cemara Kandang kok sepi banget, mana gelap. Seketika kami setuju untuk balik ke Cemoro Sewu. Kami diketawain saat bertemu dengan pendaki yang dari Surabaya. “Lho, kenapa balik lagi kesini mas?” katanya sambil nyengir-nyengir. “Cemara Kandang tempatnya gelap mas, meragukan”, jawab saya. Hahaha!

Begitu pos perizinan buka, kami langsung registrasi. Harga tiket masuknya Rp 15K/orang. Sebelum mulai mendaki, tentunya kami isi perut dulu. Supaya nggak loyo ketika mendaki. Betul betul betul?

gunung lawu cemoro sewu
masak-masaaak!

gunung lawu cemoro sewu
Pintu Gerbang Cemoro Sewu

Perjalanan diawali dengan melewati trek berupa bebatuan yang disusun sedemikian rupa. Treknya mirip seperti Arjuna – Welirang via Tretes. Bedanya kalau ini lebih sempit. Batunya juga berukuran lebih kecil dan kadang susunannya seperti membentuk tangga. Wajar sih, kalau di Tretes digunakan sebagai jalur untuk Jeep pengangkut belerang. Di sebelah kanan kirinya dikelilingi hutan cemara. Yah sesuai nama jalurnya, Cemoro Sewu (Seribu Pohon Cemara)

Sampai Pos 1, Wesen-wesen, medannya relatif tertutup oleh pohon-pohon cemara yang tinggi. Namun selepas itu, vegetasinya mulai terbuka. Pendakian kali ini kami mendaki selow banget. Jalan nyantai banget, sering ambil break. Bukan, bukan fisik melemah karena jarang naik gunung lagi. Tapi karena kami ingin lebih menikmati perjalanan. Naik gunung itu santai aja. Ngapain juga buru-buru. Puncaknya nggak kemana-mana kok. Selagi mendaki mending lihat pemandangannya, bercanda sama teman sependakian. Percayalah, naik gunung itu bukan cuma soal puncak. Menikmati perjalanannya itu lebih berkesan.

gunung lawu cemoro sewu
Berangkat!

gunung lawu cemoro sewu
Pos 1 Wesen-wesen

Lawu via Cemoro Sewu ini ada keuntungannya untuk yang nggak mau banyak-banyak bawa logistik atau nggak punya tenda. Dari 5 pos sepanjang jalur pendakian, 3 diantaranya terdapat warung-warung yang menjual makanan sekaligus bisa untuk menumpang tidur. Warung yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem. Karena dia adalah orang pertama yang mempunyai ide untuk membuka warung di Gunung Lawu. Letaknya malah berada di Hargo Dalem, yang hanya butuh beberapa menit saja untuk ke Hargo Dumilah (Puncak Lawu). Hanya pos 3 dan 4 saja yang nggak ada warungnya. Buat yang pengen buka usaha. Mumpung kosong, bikin aja warung di pos 3 atau 4!

Jalur Lawu ini mengingatkan saya ketika mendaki Arjuna. Selain treknya yang mirip, puncaknya juga nggak kelihatan. Dari bawah terlihat sebuah dataran yang kalau dibandingkan dengan yang lain, itu adalah yang paling tinggi. Tapi saat mendaki dan berhasil sampai ke titik itu. Eh, ternyata ada lagi yang lebih tinggi. Dan begitu seterusnya sampai beberapa kali. Diphp-in. Padahal dari pos 2 sampai pos 4 jalannya tangga lho. Tangga yang terbuat dari susunan batu. Apalagi saat mendekati pos 4, emh itu anak tangganya tinggi-tinggi. Joss banget. Huhu..

gunung lawu cemoro sewu
Bener kan naik tangga...

gunung lawu cemoro sewu
Tanjakan yang tiada akhirnya

Mulai dari pos 3, cuaca mulai nggak bersahabat. Kabut tebal perlahan mulai turun. Otomatis jarak pandang pun menipis. Beberapa kali air turun dari langit. Hujan? Bukan! Itu hanya sugesti kalau kata Eko. Yah, memang benar. Air turun bersamaan dengan kabut. Ketika kabut sudah lewat, ya udah berhenti. Tapi saat tiba di pos 4. Langit udah gelap banget. “Ini mah mau hujan”, pikir saya dalam hati. Saya langsung mengajak yang lain untuk mengenakan mantel.

Selagi berjalan menuju pos 5. Langit yang tadinya cuma gerimis, tiba-tiba aja hujan deras disertai oleh GULUDUG. Petir! Noh kan turun. Untung kami udah sedia mantel sebelum hujan. Saya heran saat melihat pendaki yang menjadikan matras untuk melindunginya dari hujan. Apalagi yang hujan-hujanan. Mereka pikir ini di pekarangan rumah, bisa hujan-hujanan gitu. Ini gunung, gan! Mana ketinggiannya udah nyentuh 3000an mdpl. Kalau kehujanan nanti bajunya basah, terus kedinginan. Bisa-bisa hypothermia. Kalau udah gitu mau gimana? Saya nggak habis pikir, mereka naik gunung persiapannya apa sih? Udah tau mulai masuk musim hujan. Tapi nggak ada antisipasi kalau di lapangan bakal hujan. Geleng-geleng kepala deh saya lihat pendaki yang kayak gitu.

gunung lawu cemoro sewu
When the rain falls, i turn become dementor :v

Lama-kelamaan hujan semakin deras. Mungkin bisa dibilang badai. Sampai di pos 5, kami langsung berlindung masuk ke warung yang kondisinya kosong. Yang punya nggak ada, barang-barangnya juga nggak ada. Dari pada ngeluarin uang demi membeli semangkuk indomie kuah hangat di warung sebelah, kami memilih memasak sendiri di dalam warung kosong tersebut. Kondisi warung semakin padat saat rombongan pendaki lain mulai berdatangan. Beberapa pendaki ikut merapat pada kami demi secuil kehangatan dari api kompor.

Ketika mie sudah siap, baru saja satu suap, tiba-tiba terdengar suara teriakan bernada marah dari dekat pintu. “Siapa yang masak di warung saya? Kalau mau masak di tenda sendiri saja jangan di sini! KELUAR!!!”

gunung lawu cemoro sewu
Kambing aja naikgunung, embeee

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment