Monday, February 20, 2017

Mendaki Gunung Buthak #2: Bertemu Penunggu Savanna Buthak!

savanna buthak

Hari kedua Pendakian Gunung Buthak diawali dengan cuaca yang cukup bersahabat. Setelah semalaman diterjang hujan dan angin gelebug, kini cuaca begitu mestakung. Semesta Mendukung!
Di hari sebelumnya kami telah mendaki sekitar 5 jam perjalanan. Sehingga estimasi waktu perjalanan ke Savanna Buthak yang membutuhkan waktu 8 jam kira-kira dapat ditempuh sekitar 3 jam lagi. Oleh karena itu, kami tidak terburu-buru melanjutkan perjalanan. Yang artinya, kami leyeh-leyeh dulu di camp. Hehehe!

Pagi itu kami hanya mengisi tenaga dengan sarapan beberapa potong biskuit dan roti saja. Faktor air menjadi pertimbangan. Persediaan air yang kami bawa tinggal sedikit. Kalau kami gunakan untuk masak, kami bakal kekurangan air saat di perjalanan ke savanna. Mana masih 3 jam perjalanan lagi, cukup berat dengan medan yang menanjak seperti ini.

Ketika waktu menunjukkan jam 10 lebih 30 menit, kami baru memulai pendakian. Seperti hari sebelumnya, sepanjang pendakian kami hanya ditemani oleh orkestra musik yang berasal dari alam. Suara hembusan angin (bukan angin gelebug), suara burung yang saling bersautan hingga suara sejenis kera yang terdengar dari kejauhan. Tak ada pendaki lain yang kami temui.

Perjalanan semakin berat ketika medan terus menanjak dan persediaan air kami mulai menipis. Sungguh, medan yang berat ditambah cuaca yang cukup panas membuat saya begitu dehidrasi. Ingin sekali rasanya meminum habis 1 botol minum pada satu tegukan. Namun saya harus berhemat air, karena perjalanan masih panjang.

savanna buthak
Mulai lelah

Bu Risma alias Mbak Rara memanjatkan do’a ketika kami sedang berada di kondisi haus dan lapar namun serba salah kalau mau makan atau pun minum. Mau minum tapi lagi berhemat. Mau makan nantinya malah seret dan ujung-ujungnya harus minum juga. Tak lama setelah Bu Risma berdo’a, kami menemukan harta karun! Dan ini bukan harta karun sembarangan, karena ini mempengaruhi keberlangsungan pendakian kami.

Setelah berjalan cukup lama, kami menemukan ciplukan. Itu lah yang menjadi harta karun bagi kami. Kami menemukan pengganti makan dan minum dalam satu paket. Namanya juga buah, kan berair tuh. Sehingga rasa lapar dan haus sekaligus bisa terkendali. Mulai dari situ hingga sepanjang perjalanan ke savanna, kami menemukan banyak pohon ciplukan meskipun kebanyakan buahnya belum matang. Tapi yang masih mentah pun tetap saya lahap saking ketagihannya. Meski rasanya asem-asem seger gimana gitu. Hahaha! Kalau yang matang rasanya manis kok.

savanna buthak
Penampakan ciplukan, buahnya ada di dalam

Sesaat sebelum mendaki tanjakan terakhir, kami akhirnya bertemu sekelompok pendaki yang turun. Mereka memberitahu kami bahwa savanna sudah dekat. Hanya tinggal melewati satu tanjakan terakhir, dan disitulah savanna Buthak berada. Btw, ternyata mereka mendaki di hari yang sama dengan kami. Mereka berkata melewati camp kami saat malam hari. Tapi saya, Bu Risma maupun Bang Gethuk tak menyadarinya. Yah, mungkin mereka lewat saat kami sudah tidur. Mungkin.

Tak lama setelah mendaki tanjakan pamungkas, kami melewati jalan setepak yang kanan kirinya adalah pohon edelweiss. Namun pohon edelweiss tersebut tidak berbunga, mungkin karena belum musimnya. Dan ketika keluar dari kawasan edelweiss, sampailah kami di savanna! Saya senang bukan kepalang! Selain karena itu adalah target kami yang gagal di hari sebelumnya, pemandangannya sungguh mengagumkan. Sebuah savanna di dekat puncak yang dikelilingi oleh hutan. What a wonderful savanna!

savanna buthak
That’s so awesome, huh?

Namun dibandingkan target yang tercapai atau panorama savanna, yang paling saya syukuri adalah keberadaan sumber air! Sumber air yang melimpah menjadi berkah tersendiri bagi kami yang sepanjang perjalanan dilanda penyakit lapar dan haus. Begitu sumber air su dekat, saya langsung mengisi botol dan minum air sampai kembung. Huahahaaa… balas dendam.

savanna buthak
Airnya melimpah, katanya sih nggak bakal habis

Rencana awal kami mendaki 2 hari 1 malam bertambah menjadi 3 hari 2 malam akibat di hari sebelumnya kami bermalam di tengah perjalanan. Untungnya logistik yang kami bawa cukup banyak. Malah kami inginnya nambah lagi menjadi 4 hari 3 malam kalau logistiknya memenuhi. Selain itu suasana yang sepi pendaki menjadikan savanna itu sungguh nyaman.

savanna buthak
Ipok dulu sam!

Kami mendirikan tenda di dekat sumber air. Selagi saya dan Bang Gethuk membangun camp serta Bu Risma bagian memasak, saya baru menyadari kalau bukan hanya ada kami bertiga di sana saat itu. Rupanya di dekat situ ada penghuninya yang sudah lama tinggal! Sungguh saya nggak berbohong! Saya tidak menduga bakal bertemu dengan penunggu Savanna Buthak. Mereka ada banyak, mungkin sebuah keluarga. Rumah mereka berada di dekat sumber air, tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Mereka berlarian dengan sangat cepat. Pandangan saya bahkan tak bisa mengikutinya. Perawakan mereka kecil. Memiliki ekor dan tubuhnya berbulu. Ya iya atuh, da mereka teh keluarga tikus euy! Hehehe…

Hari itu kami habiskan dengan bersantai di savanna. Istirahat satu malam untuk esoknya melakukan summit attack ke puncak Buthak yang hanya butuh sekitar 30 menit perjalanan saja dari savanna. Malamnya ketika kami hendak beristirahat, kami kedatangan 2 pendaki lain yang berasal dari Kediri. Akhirnya kami tidak hanya ditemani oleh keluarga tikus :))

savanna buthak
Sisa makanan jadi jatah keluarga tikus

Besoknya, sekitar jam 5 pagi kami mulai mendaki ke puncak Buthak. Hanya kami bertiga yang naik. Sedangkan 2 orang pendaki dari Kediri memilih menunggu cuaca cerah. Ya, pagi itu meski matahari sudah mulai muncul. Namun sinarnya terhalang oleh awan. Cuaca pagi itu berkabut. Namun kami tetap memutuskan untuk muncak, siapa tahu kalau sudah sampai puncak cuaca aka membaik.

puncak buthak
Hutan sebelum puncak

Perjalanan ke puncak cukup cepat. Seperti yang dikatakan orang-orang. Setelah 30 menit mendaki, kami sampai di Puncak Buthak! Di puncak kami hanya bisa melihat layar putih berukuran raksasa di sekeliling kami. Ya, kabut! Meski begitu kami tetap bersyukur karena berhasil sampai ke salah satu puncak dari Pegunungan Putri Tidur ini. Berfoto dititik triangulasi dengan papan yang bertuliskan G. Buthak 2868 mdpl merupakan selebrasi kecil yang dapat kami lakukan sebagai hasil perjuangan kami sampai ke puncak.

puncak buthak
Puncak Buthak!!!!!

puncak buthak
#supportaksa7

puncak buthak
Big white screen

Berharap cuaca membaik, kami memutuskan menunggu di puncak sambil ngopi dan berkeliling di sekitar puncak. Namun setelah 2 jam menunggu, kabut tetap menyelimuti Buthak. Ditambah air yang jatuh dari kabut tersebut membasahi pakaian kami, lama-kelamaan hawanya menjadi dingin. Karena cuaca yang tak kunjung cerah, kami memutuskan untuk turun kembali ke camp.

Sekitar 2 – 3 rombongan pendaki berdatangan tak lama setelah kami turun dari puncak. Niat hati mau camp semalam lagi, kami urungkan karena suasana pastinya bakal semakin ramai. Sesuai dugaan saya, mau Panderman mau Buthak, saat weekend tiba keduanya sama-sama akan ramai dikunjungi pendaki. Apalagi ketika kami melakukan perjalanan turun, kami bertemu buuaaanyak banget rombongan pendaki yang naik menuju Buthak.

Yah, meski begitu semoga saja para pendaki tersebut sadar akan keberadaanya di gunung. Bahwa gunung bukanlah sekedar tempat bagi mereka untuk menikmati keindahan alamnya saja, lebih dari itu mereka harus menjaga dan melestarikannya juga.

savanna buthak
Banyak sarang spiderman pas ke puncak

savanna buthak
Hayo dari semak-semak abis ritual ya

savanna buthak
Buthak suante sayang


savanna buthak
Kabut tipis turun pelan-pelan

Thursday, February 2, 2017

Mendaki Gunung Buthak #1: Terhindar dari Hujan dan Angin Gelebug

Hai good people!! Selamat tahun 2017!
Sebulan lebih euy saya nggak posting tulisan. Maklum, belakangan ini saya lagi agak sibuk. Sibuk jalan-jalan maksudnya. Hehehe! Biasa nih penyakit malas nulis menghampiri. Jadi cuma jalan-jalannya doang tapi nulis kagak. Yang gini emang yang bahaya. Membahayakan keberlangsungan blog saya. Heuheuheu..

gunung buthak malang

Belakangan ini sebenarnya saya cukup sering jalan. Tapi ya itu tadi, penyakit malas nulis itu yang bikin blog ini belum update tulisan lagi sejak terakhir pertengahan Desember lalu. Nah, kali ini saya mau share cerita pengalaman saya sewaktu naik gunung sebagai pembuka di tahun 2017!

Awal Desember tahun lalu, tepatnya tanggal 8 – 10 Desember, saya mendaki salah satu gunung dari Pegunungan Putri Tidur, yakni Gunung Buthak. Bagi sebagian orang, mungkin gunung ini tidak terlalu dikenal. Tapi bagi yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, gunung ini sedang menjadi primadona.

Ketika gunung lain yang lebih populer di Jawa Timur seperti Semeru, Arjuna – Welirang atau Argopuro sedang ramai-ramainya, Gunung Buthak menjadi pelarian para pendaki yang mencari suasana yang relatif sepi. Meski pada akhirnya Gunung Buthak pun kini mulai banyak dikunjungi.

gunung buthak malang
berangkat!

Pendakian ini sebenarnya rada dadakan dan sebelumnya juga nggak pernah kepikiran untuk mendaki ke Gunung Buthak. Kesempatan itu tiba-tiba saja muncul saat salah satu warriors aksa 7 (buat yang belum tau aksa 7 itu apa bisa lihat tulisan saya sebelumnya atau kepoin ig-nya @aksa7) yang berasal dari Banyuwangi datang ke Malang. Sebut saja dia Mas Gethuk. Dan satu orang lagi juga warriors aksa 7 dari Banyuwangi, yakni Mbak Rara atau biasa dipanggil Bu Risma karena kemiripannya dengan walikota Surabaya tersebut. Baik dari wajah maupun body-nya. Hahaha!

Kami memilih jalur dari Batu yang sekaligus jalur pendakian Gunung Panderman. Selain dari Batu, untuk ke Buthak ada juga jalur Sirah Kencong (Blitar), Desa Wonosari (Kepanjen) dan Desa Gading Kulon (Dau). Kala itu kami mendaki pada hari kerja, yakni hari kamis sehingga tak banyak orang yang mendaki. Hal itu saya simpulkan berdasarkan sepeda motor yang terparkir dapat dihitung oleh jari. Karena kalau saat weekend, biasanya parkiran akan penuh oleh para pendaki. Membludak sampai tumpah-tumpah. Huft.

gunung buthak malang
ipes sam!

Terdapat banyak perubahan dari pos perizinan Panderman saat saya ke sana. Terakhir kali saya mendaki Panderman di bulan Maret 2016, pos perizinan berada di rumah paling ujung dari desa, tepat sebelum jalan paving. Namun sekarang dipindah agak ke atas lagi. Begitu juga dengan parkirannya. Selain itu terdapat beberapa warung berdiri dan Rumah Kayu sebagai pos perizinan.

gunung buthak malang
ada beginian

gunung buthak malang
rumah kayu

gunung buthak malang
check point cenah

Kalau menurut saya medan ke Buthak mirip-mirip seperti ke Panderman. Vegetasinya cukup rapat dan terkadang agak terbuka. Selain itu tanjakannya juga maknyus. Mirip lah pokoknya sama Panderman, wong masih satu pegunungan. Bedanya, kalau ke Panderman bisa ditempuh sekitar 2 jam. Kalau ke Buthak mah empat kali lipatnya. Iya 4 kalinya Panderman alias 8 jam! Heuheuheu…

Rencana awalnya kami akan mendaki hingga savanna dan mendirikan tenda di sana. Namun saat di lapangan realita tak sesuai dengan ekspektasi. Setelah 5 jam perjalanan, kondisi fisik mulai menurun dan hari pun sudah gelap. Kami memutuskan untuk bermalam di area datar yang cukup luas. Saya berpikir kalau itu pos, tapi nggak ada yang menunjukkan bahwa di situ adalah pos. Katanya sih di Buthak ada 5 pos sepanjang perjalanan sampai ke savanna. Namun saya nggak menemukan 1 pun. Sebenarnya ada beberapa tempat yang cukup luas dan saya beranggapan bahwa itu merupakan pos meski nggak melihat ada tandanya.

gunung buthak malang
Tuh tanjakannya

gunung buthak malang
nanjak lagi

gunung buthak malang
jauh euy

Keputusan kami untuk bermalam ketika itu merupakan keputusan terbaik yang kami pilih. Karena sesaat setelah kami mendirikan tenda, air mulai berjatuhan dari langit. Ya, hujan! Setelah seharian cuaca begitu mestakung (semesta mendukung), awan yang melayang di langit bocor dan menumpahkan isinya ke bumi.

Rasa syukur saya panjatkan karena kami telah berada di dalam tenda ketika hujan yang udah mah deras kemudian disusul oleh angin yang berhembus cukup kuat. Untungnya lagi kami sudah keluar dari hutan yang rapat dengan pohon-pohonnya yang tinggi. Bukannya apa-apa, dari dalam tenda saya mendengar suara angin begitu menderu, saya khawatir dengan kencangnya angin mungkin saja mampu merobohkan pohon.

gunung buthak malang
bisi rubuh gini, paur euy

Manusia memang hanya dapat merencanakan, namun Allah lah yang menentukan. Ketika kami berencana untuk mendaki sampai savanna, Allah menunjukkan yang terbaik bagi kami. Dengan kondisi tubuh yang menurun, hari yang sudah gelap hingga hujan badai yang terjadi menjadi pertimbangan kalau mendirikan camp saat itu adalah pilihan terbaik. Entah apa yang terjadi jika kami memutuskan untuk lanjut mendaki. Selain basah, kami juga mungkin akan kedinginan.


Pada pendakian ini posisi juru masak diberikan kepada ibu walikota, Bu Risma. Doi yang menyiapkan setiap kali waktunya makan. Saya sama Mas Gethuk mah modal perut lapar dan tinggal makan saja pokoknya mah. Hehehe! Sementara di luar angin hujan begitu ngagelebug, kami memutuskan tidur lebih cepat. Selain mata yang sudah tunduh banget, kami perlu mengembalikan kondisi tubuh untuk melanjutkan pendakian esok harinya.

gunung buthak malang
ngambil napas dulu

Bersambung...