Thursday, February 2, 2017

Mendaki Gunung Buthak #1: Terhindar dari Hujan dan Angin Gelebug

Hai good people!! Selamat tahun 2017!
Sebulan lebih euy saya nggak posting tulisan. Maklum, belakangan ini saya lagi agak sibuk. Sibuk jalan-jalan maksudnya. Hehehe! Biasa nih penyakit malas nulis menghampiri. Jadi cuma jalan-jalannya doang tapi nulis kagak. Yang gini emang yang bahaya. Membahayakan keberlangsungan blog saya. Heuheuheu..

gunung buthak malang

Belakangan ini sebenarnya saya cukup sering jalan. Tapi ya itu tadi, penyakit malas nulis itu yang bikin blog ini belum update tulisan lagi sejak terakhir pertengahan Desember lalu. Nah, kali ini saya mau share cerita pengalaman saya sewaktu naik gunung sebagai pembuka di tahun 2017!

Awal Desember tahun lalu, tepatnya tanggal 8 – 10 Desember, saya mendaki salah satu gunung dari Pegunungan Putri Tidur, yakni Gunung Buthak. Bagi sebagian orang, mungkin gunung ini tidak terlalu dikenal. Tapi bagi yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, gunung ini sedang menjadi primadona.

Ketika gunung lain yang lebih populer di Jawa Timur seperti Semeru, Arjuna – Welirang atau Argopuro sedang ramai-ramainya, Gunung Buthak menjadi pelarian para pendaki yang mencari suasana yang relatif sepi. Meski pada akhirnya Gunung Buthak pun kini mulai banyak dikunjungi.

gunung buthak malang
berangkat!

Pendakian ini sebenarnya rada dadakan dan sebelumnya juga nggak pernah kepikiran untuk mendaki ke Gunung Buthak. Kesempatan itu tiba-tiba saja muncul saat salah satu warriors aksa 7 (buat yang belum tau aksa 7 itu apa bisa lihat tulisan saya sebelumnya atau kepoin ig-nya @aksa7) yang berasal dari Banyuwangi datang ke Malang. Sebut saja dia Mas Gethuk. Dan satu orang lagi juga warriors aksa 7 dari Banyuwangi, yakni Mbak Rara atau biasa dipanggil Bu Risma karena kemiripannya dengan walikota Surabaya tersebut. Baik dari wajah maupun body-nya. Hahaha!

Kami memilih jalur dari Batu yang sekaligus jalur pendakian Gunung Panderman. Selain dari Batu, untuk ke Buthak ada juga jalur Sirah Kencong (Blitar), Desa Wonosari (Kepanjen) dan Desa Gading Kulon (Dau). Kala itu kami mendaki pada hari kerja, yakni hari kamis sehingga tak banyak orang yang mendaki. Hal itu saya simpulkan berdasarkan sepeda motor yang terparkir dapat dihitung oleh jari. Karena kalau saat weekend, biasanya parkiran akan penuh oleh para pendaki. Membludak sampai tumpah-tumpah. Huft.

gunung buthak malang
ipes sam!

Terdapat banyak perubahan dari pos perizinan Panderman saat saya ke sana. Terakhir kali saya mendaki Panderman di bulan Maret 2016, pos perizinan berada di rumah paling ujung dari desa, tepat sebelum jalan paving. Namun sekarang dipindah agak ke atas lagi. Begitu juga dengan parkirannya. Selain itu terdapat beberapa warung berdiri dan Rumah Kayu sebagai pos perizinan.

gunung buthak malang
ada beginian

gunung buthak malang
rumah kayu

gunung buthak malang
check point cenah

Kalau menurut saya medan ke Buthak mirip-mirip seperti ke Panderman. Vegetasinya cukup rapat dan terkadang agak terbuka. Selain itu tanjakannya juga maknyus. Mirip lah pokoknya sama Panderman, wong masih satu pegunungan. Bedanya, kalau ke Panderman bisa ditempuh sekitar 2 jam. Kalau ke Buthak mah empat kali lipatnya. Iya 4 kalinya Panderman alias 8 jam! Heuheuheu…

Rencana awalnya kami akan mendaki hingga savanna dan mendirikan tenda di sana. Namun saat di lapangan realita tak sesuai dengan ekspektasi. Setelah 5 jam perjalanan, kondisi fisik mulai menurun dan hari pun sudah gelap. Kami memutuskan untuk bermalam di area datar yang cukup luas. Saya berpikir kalau itu pos, tapi nggak ada yang menunjukkan bahwa di situ adalah pos. Katanya sih di Buthak ada 5 pos sepanjang perjalanan sampai ke savanna. Namun saya nggak menemukan 1 pun. Sebenarnya ada beberapa tempat yang cukup luas dan saya beranggapan bahwa itu merupakan pos meski nggak melihat ada tandanya.

gunung buthak malang
Tuh tanjakannya

gunung buthak malang
nanjak lagi

gunung buthak malang
jauh euy

Keputusan kami untuk bermalam ketika itu merupakan keputusan terbaik yang kami pilih. Karena sesaat setelah kami mendirikan tenda, air mulai berjatuhan dari langit. Ya, hujan! Setelah seharian cuaca begitu mestakung (semesta mendukung), awan yang melayang di langit bocor dan menumpahkan isinya ke bumi.

Rasa syukur saya panjatkan karena kami telah berada di dalam tenda ketika hujan yang udah mah deras kemudian disusul oleh angin yang berhembus cukup kuat. Untungnya lagi kami sudah keluar dari hutan yang rapat dengan pohon-pohonnya yang tinggi. Bukannya apa-apa, dari dalam tenda saya mendengar suara angin begitu menderu, saya khawatir dengan kencangnya angin mungkin saja mampu merobohkan pohon.

gunung buthak malang
bisi rubuh gini, paur euy

Manusia memang hanya dapat merencanakan, namun Allah lah yang menentukan. Ketika kami berencana untuk mendaki sampai savanna, Allah menunjukkan yang terbaik bagi kami. Dengan kondisi tubuh yang menurun, hari yang sudah gelap hingga hujan badai yang terjadi menjadi pertimbangan kalau mendirikan camp saat itu adalah pilihan terbaik. Entah apa yang terjadi jika kami memutuskan untuk lanjut mendaki. Selain basah, kami juga mungkin akan kedinginan.


Pada pendakian ini posisi juru masak diberikan kepada ibu walikota, Bu Risma. Doi yang menyiapkan setiap kali waktunya makan. Saya sama Mas Gethuk mah modal perut lapar dan tinggal makan saja pokoknya mah. Hehehe! Sementara di luar angin hujan begitu ngagelebug, kami memutuskan tidur lebih cepat. Selain mata yang sudah tunduh banget, kami perlu mengembalikan kondisi tubuh untuk melanjutkan pendakian esok harinya.

gunung buthak malang
ngambil napas dulu

Bersambung...

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment