Saturday, October 21, 2017

Backpacking Kuala Lumpur & Singapura #1: Pertama Kali Naik LRT dan... Nyasar!


Dulu saat belum tau backpacking, saya selalu mengira kalau traveling ke luar negeri itu bakal habis belasan hingga puluhan juta rupiah. Bisa saja memang kalau traveling ke eropa atau USA yang berbiaya hidup tinggi. Dan travelingnya pun sebulan. Haha. Tapi serius, dulu saya berpikir bakal menghabiskan banyak duit meski itu traveling ke negara tetangga.

Tapi itu dulu, kini setelah saya kenalan sama yang namanya backpacking. Jalan-jalan ke luar negeri itu murah kok, apalagi ke negara-negara tetangga sesama ASEAN. Maret 2017 lalu, saya baru saja dari Malaysia – Singapore selama 4 hari dan hanya habis sekitar 1 jutaan. Membengkak menjadi IDR 1500K akibat beli oleh-oleh dan kejadian tak terduga yang nanti bakal saya ceritakan. Also, belum termasuk tiket pesawat Surabaya – Kuala Lumpur PP sekitar IDR 400K. Tapi itu belinya 1 tahun sebelum keberangkatan, alias beli pada Maret 2016. Maklum tiket promo belinya harus jauh-jauh hari. Hehehe.

Di postingan ini saya hanya akan bercerita tentang perjalanan selama di Kuala Lumpur dan Singapura. Untuk itinerary dan rincian pengeluaran serta masalah teknis lainnya selama disana akan saya buat terpisah. So.. cekidot!!!

Minggu, 5 Maret 2017
Saya traveling ke KL & SG ini tidak sendirian. Bersama teman kampus, Yogi, yang sebelumnya juga sering traveling bareng. Bahkan mendaki ke Argopuro hanya berdua saja. Itu pun hanya sampai ke Telaga Taman Hidup. Hahaha.

Kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya hari Senin pagi dengan tujuan Kuala Lumpur. Yap. Itulah alasan kenapa saya bisa dapat tiket murah! Beli setahun sebelum keberangkatan + weekdays. Inget-inget, Itu tipsnya. Nah kami sendiri memilih berangkat minggu malamnya dari Malang. Berkat pengalaman ngemper di Bandara Soehat Jakarta beberapa waktu lalu, saya jadi berpikir hal yang sama di Juanda. Toh, ngemper di stasiun, terminal bahkan alun-alun saja saya pernah. Apalagi di bandara, pasti bisa lah.

Waktunya bobooo

Tidur di bandara memang pilihan terbaik kalau dapat waktu keberangkatan yang super pagi, jam 05.00! Tinggal pasang alarm jam 4 => bangun => cuci muka => check in => naik pesawat => lalu tidur lagi. Enak kan? Meski pada akhirnya kami kebangun jam 3 karena bandara jadi sangat ramai ketika kedatangan jamaah yang akan berangkat umroh satu pesawat dengan kami.

Berangkaaaat

Senin, 6 Maret 2017
Ini penerbangan pertama saya ke luar negeri. Bedanya dengan penerbangan domestik adalah pemeriksaan imigrasi. Disini akan dicek identitas penumpang berupa passport. Bukan ktp, sim atau kartu mahasiswa ya! Karena itu semua nggak berlaku kalau dibawa ke luar negeri. Hehehe. Belum punya passport? Baca tulisan saya untuk membuat passport dengan cepat secara online.

Siapin paspor pas pemeriksaan imigrasi

Setelah melakukan check in, kami tidak langsung ke gate. Melainkan menuju imigrasi untuk di-cap halaman pada passportnya. Kemudian baru ke gate keberangkatan dan naik pesawat. Begitu duduk di kursi pesawat. Saya langsung memilih tidur. Semalaman tidur dikursi bandara sama sekali tidak nyaman. Keras bosque. Kasihan tulang belakang. Tapi ya namanya backpacking, semua kenyamanan perlu disingkirkan demi budget seminimal mungkin. Iya gak? Hehehe!

FYI, waktu di Kuala Lumpur itu lebih cepat 1 jam dari zona WIB Indonesia. Atau sama seperti zona WITA. Saya sendiri baru mengetahui itu ketika tiba disana. Pada tiket tertera berangkat dari Bandara Juanda jam 5.40 dan tiba di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) jam 8.50. Tetapi saat melihat jam yang terpampang di area bandara menunjukkan jam 10.00. Begitu pula jam di smartphone yang ikut berubah ketika tersambung ke WiFi bandara. Saya nggak begitu mengerti soal kebijakan zona waktu disana. Padahal kalau dilihat letak geografisnya dan ditarik garis lurus, Kuala Lumpur sejajar dengan Pekanbaru di Indonesia yang masuk zona WIB. Entah bagaimana kebijakan pemerintah Malaysia dalam menentukkan zona waktunya.

Ini salah satu yang dicari backpacker, air minum gratis!

Setibanya di bandara, kami berdua langsung mengabari orang tua masing-masing. Maklum lagi di negeri orang, jauh dari rumah. Setiap kali ketemu WiFi kami selalu internetan sekedar mengabari keluarga dan update instastory. Hehehe. Namanya juga backpacking. Kalau bisa gratisan, ngapain harus beli kartu sim lokal kan? Lagi pula nggak ada budget untuk beli juga. Wkwkwks.

Keluar dari KLIA2, kami memesan tiket bus menuju pusat kota Kuala Lumpur. Asyiknya bus disana sudah terintegrasi dengan bandara. Jadi kami membelinya pada loket resmi yang ada di dalam bandara. Jadi nggak ada calo-calo rese yang suka maksa gitu. Harganya pun beragam berdasarkan armada dan kelas busnya. Tentu kami cari yang paling murah dong! Saat itu kami naik bus Starshuffle dengan harga MYR 12/orang.FYI, 1 ringgit sekitar 3000 rupiah kalau dibulatkan.

Tujuan kami yang pertama adalah Batu Caves. Dari KLIA2, kami transit dulu di KL sentral untuk ganti kendaraan. Di pusat Kuala Lumpur, transportasi yang diminati dan paling efektif adalah LRT (Light Rail Transit) dan Monorail. Untuk ke daerah yang agak jauh dari pusat kota, termasuk Batu Caves, dapat menggunakan KTM (Kereta Tanah Melayu). Dan semuanya sudah terintegrasi dengan baik, sehingga sangat memudahkan para penggunanya.

Map LRT – Monorail - KTM

Benar, sistem transportasi disana sangat memudahkan. Tapi… harus ngerti rute dari tiap-tiap LRTnya itu sendiri. Jangan sampai kejadian seperti kami. Yap. Akibat nggak begitu paham bagaimana rutenya, yang ada kami malah nyasar! Salah naik LRT. Itu terjadi saat pergi ke Batu Caves menggunakan KTM. Jadi di KL Sentral terdapat 1 jalur rel KTM yang menuju ke arah Batu Caves dan Tanjung Malim yang digunakan bersama. Nah akibat ketidaktahuan, begitu ada KTM yang datang kami langsung naik. Padahal KTM yang baru datang tersebut menuju ke Tanjung Malim.

Kami baru menyadari selepas stasiun Putra. KTM yang seharusnya melaju lurus (berdasarkan peta LRT), kenapa jadi ada tikungan? Lalu yang bikin tambah yakin kalau kami nyasar adalah pemberhentian setelah stasiun Putra seharusnya stasiun Sentul. Tapi… KTM malah berhenti di stasiun Segambut. Fix kami nyasar! Menyadari hal itu kami langsung turun dan putar balik ke stasiun Putra. Kemudian naik KTM lagi dengan tujuan Batu Caves. Kali ini benar, karena kami plototin tuh lampu led yang berisi informasi tujuan KTM yang baru datang. Hadeuh belum apa-apa udah nyasar. Yang harusnya naik KTM cukup sekali, ini malah jadi 3 kali! Edyan.

Baca peta biar gak nyasar lagi

Begitu tiba di kawasan Batu Caves, first impression saya adalah rame banget dan puuanasss! Yang pertama kali menarik perhatian adalah landmark dari Batu Caves, yaitu patung Dewa Murugan tertinggi di dunia (42.7 meter). Dibelakangnya adalah Batu Caves itu sendiri yang merupakan sebuah bukit kapur dengan serangkaian gua yang berfungsi sebagai kuil umat Hindu.

Difotoin sama si Jahid

Sebelum memasuki Batu Caves harus menaiki 272 anak tangga! Mampus! Sebenarnya biasa aja sih. Tapi yang jadi masalah adalah matahari lagi panas-panasnya. Apalagi masing-masing kami bawa backpack ukuran 25L yang terisi penuh oleh perlengkapan traveling. Kombinasi panas dan beban di punggung benar-benar mimpi buruk. Namun, apalah arti petualangan kalau kita tidak meng-explore. Ngapain jauh-jauh ke Batu Caves dari Malang kalau cuma foto-foto di depan patung Dewa Murugan. Dengan tekad yang kami miliki, perlahan tapi pasti kami mulai menapaki satu per satu anak tangga yang berjumlah 272 tersebut. Sedikit saran, lebih baik ke Batu Caves pada pagi atau sore hari. Karena kalau siang bolong saat matahari menggantung tepat di atas kepala.. beuh! Menyiksa!

Yakin mau naik siang hari?

Terdapat tiga gua utama dan beberapa gua kecil pada bukit kapur ini. Kami hanya mendatangi Main Cave yang digunakan sebagai kuil umat Hindu. Terdapat ukiran-ukiran pada batu, gambar-gambar tradisional hindu hingga patung Dewa Murugan yang berukuran kecil. Cahaya matahari menerobos dinding gua melalui celah-celah kecil yang ada di atasnya. Main cave ini memiliki kedalaman yang luas. Oleh karena itu, area ini digunakan sebagai tempat utama berlangsungnya upacara umat Hindu.

Cahaya dari celah-celah gua

Kuil di dalam gua

Sebelum turun, kami singgah ke depan pintu masuk Dark Cave. Yap, hanya mampir doang. Lihat-lihat. Karena untuk masuk kesana perlu biaya lagi. Dan kami tidak ada budget untuk itu. Heuheu. Padahal sepertinya asyik. Dark Caves menawarkan tur rasa-rasa adventure ke dalam gua yang diseratai edukasi sains. Gua ini juga merupakan habitat salah satu laba-laba langka di dunia, Trapdoor Spider. Hati-hati jangan sampai kena gigit. Nanti jadi sapiderman!

Map Dark Cave

Yang menambah suasana semakin menarik dikawasan Batu Caves adalah keberadaan Kera ekor panjang. Haduh emang ya jenis monyet satu ini dimana-mana ada. Di gunung ada, di pantai, di Plangon banyak, kali ini jauh-jauh ke Batu Caves ketemu juga. Dan satu kemiripan dari semua kera ini dimanapun, bandel! Yep. Mungkin kebiasaan diberi makan oleh orang, monyet-monyet ini jadi aggressive pada wisatawan. Hati-hati aja dengan barang bawaan, karena mereka dengan senang hati akan mencurinya jika anda lengah. Hahaha!

Gak asing kan sama tenyom ini?

Setelah puas berkeliling dan capek serta panas yang utamanya sih, kami cabut dari Batu Caves. Tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Jamek dan Kuala Lumpur City Gallery! Eh, Petronas Twin Tower juga deng. Hehehe!
Okehh 2 be continued yaa..


Patung Hanoman

Panorama dari Batu Caves

Apa tuh?

Tuesday, October 10, 2017

Mendaki Gunung Agung Bersama Para Legenda

gunung agung bali


Assalamu'alaikum wr. wb. semuanyaaaaa!!

Sebelumnya saya mohon maaf karena nggak pernah update lagi. Tahun 2017 blog ini benar-benar kek kuburan. Sampai bulan April saja saya cuma posting 4 tulisan. Eh setelah itu lebih parah lagi. Sejak April sampai Oktober ini saya nggak pernah posting apapun. 5 bulan berarti yah? Parah banget! Sampai-sampai ada komentar disalah satu tulisan yang bertanya sesuatu, saya baru jawab beberapa bulan setelahnya :( InshaAllah mulai saat ini saya tidak akan membiarkan blog ini terbengkalai lagi. Huhuhu.

Oke langsung saja saya mau bercerita pengalaman naik gunung lagi..

Berawal dari ajakan seorang teman, Hana, untuk ikut pendakian gunung bersama Kang Bongkeng yang diselenggarakan oleh Eiger. Mendengar ajakan itu saya langsung menyerbu teman saya dengan pertanyaan. Kapan eventnya? Mendaki di gunung mana? Biaya registrasinya berapa? Saya sangat antusias. Bagaimana tidak? Kang Bongkeng adalah seorang legenda hidup yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia pendakian gunung. Beliau merupakan anggota WANADRI dan sekarang berada dalam team EAST EIGER. Kesempatan untuk mendaki bersama beliau adalah hal yang langka, maka saat mendengar kabar tersebut seketika saya jungkir balik.

Kabar yang diperoleh teman saya ini ternyata dari adminnya EIGER, mbak Didy, namun baru sekedar bilang “eventnya nanti pertengahan bulan Mei di Gunung Agung”. Pas banget! Saya belum pernah ke Gunung Agung. Untuk tanggalnya menunggu publikasi resmi di social media EIGER. Selang seminggu teman saya kembali memberi kabar bahwa poster event mendaki Bersama kang bongkeng sudah muncul. Seketika saya langsung mencari informasinya di OA Instagram EIGER.

Gak pake lama, saya langsung registrasi. Eventnya sendiri pada tanggal 19 – 21 Mei 2017 lalu, hari Jum’at sampai Minggu. Saya dan Hana janjian berangkat bareng di hari kamisnya naik kereta ke Banyuwangi, terus estafet nyebrang ke Bali naik kapal pelni dan lanjut ngebus ke Denpasar. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Saya terancam batal ikut event akibat ada urusan kampus yang belum terselesaikan. Nggak mau rugi karena udah bayar biaya regist, saya tanya mbak Didy perihal ini. Dan untungnya mendaki Gunung Agung dilakukan di Sabtu pagi dan Jum’atnya itu camp di Embung Besakih dengan diisi materi tentang pendakian gunung. Hana tetap berangkat hari kamis sore dan dapat barengan dari Bangil, Om Juned. Sedangkan saya Jum’at sore baru berangkat dari Malang.

gunung agung bali
Eiger Sunset Road – Embung Besakih. Saya ditinggal :(

Singkat cerita dengan melewati segala rintangan, akhirnya saya sampai di Embung Besakih Sabtu jam 9 pagi. Saat itu masih dalam materi navigasi darat. Telat 1 jam saja saya bakal ketinggalan rombongan, karena jam 10 mulai berangkat mendaki Gunung Agung. Jujur saat itu saya masih capek. Setelah perjalanan panjang Malang – Besakih selama 18 jam non-stop, tubuh rasanya seolah mengajak istirahat untuk beberapa jam. Tapi saya harus mengikuti rangkaian acara yang telah terjadwal. Jeda 1 jam tersisa pun saya gunakan untuk packing ulang. Pupus sudah harapan untuk gogoleran sejenak. Heuheu. Saya hanya bisa berdoa semoga tubuh ini mampu untuk mendaki.

Ternyata bukan hanya Wa Bongkeng legenda pergunungan yang hadir disana. Hadir juga Kang Galih, Paimo, Kang Mamay dan Kang Kwecheng yang merupakan bagian dari team EAST EIGER. Yang tak diduga ternyata ada Ramon Y. Tungka! Luar biasa! Tema eventnya memang “mendaki bareng Kang Bongkeng”, tapi tak disangka banyak legenda lainnya. Bener-bener nggak rugi deh ikut event ini. Tapi yang bikin lebih kaget lagi adalah ketemu teman SMP yang semenjak lulus tak pernah berjumpa! Si Dik-dik urang Cikijing. Kenapa juga bisa ketemu di eventnya Eiger, di Bali pula. Ngakak! Haha!

gunung agung bali
Noh Bang Ramon

Sebelum mendaki, kami mendapat briefing dari panitia. Dari sekian banyaknya peserta (sekitar 50 orang), dibagi beberapa regu saat mendaki. Tiap regu berisi 8 – 12 orang, plus 1 orang guide. Jalur Embung Besakih ini jalur alternatif dari 2 jalur lainnya yaitu Pura Besakih dan Pura Pasar Agung. Menurut penuturan Bli Komang, guide kami, jalur Embung Besakih ini lebih singkat waktu perjalanannya. Saya pun terlarut dalam kata-katanya, lebih singkat waktu perjalanan = cepat sampai lalu tidur :D

gunung agung bali
Regu 3!
(dari kiri: Sherly, pacarnya sherly, Hana, Angie, Anin, Aing :D, Oma, Kang Galih & Bli Komang

Namun waktu perjalanan yang singkat pun ada konsekuensinya, jalurnya nanjak terus tanpa ampun! MasyaAllah! Mana badan belum sempat diistirahatkan. Langsung dibawa mendaki rasanya lebih baik turun lagi dan mending ngecamp di pantai. Heuheu. Awalnya sih semangat. Pake nyanyi-nyanyi lah. Nyemangatin teman satu regu yang diawal perjalanan sering minta break. Padahal mah saya juga butuh disemangatin. Hikz.

Regu saya berangkat ke – 3, selang 10 – 15 menit tiap regu. Pada 1 – 2 jam awal kami masih bareng terus. Tapi lama-kelamaan udah mulai kepencar-pencar. Yang jalannya cepet udah di depan nggak kelihatan. Saya paling belakang sendiri, nimbrung sama regu lain. Malah disalip sama Wa Bongkeng yang berangkatnya belakangan. Meski umur udah nggak muda lagi, jiwa dan semangatnya masih muda. Luar biasa uwa! Saya jadi isin euy. Pada suatu ketika, tahu-tahu saya sudah berada di rombongan terakhir bareng beberapa panitia yang jadi sweeper. Hahaha. Menyedihkan T_T

gunung agung bali
Break! Saya curi-curi kesempatan buat tidur :p

Medan yang dilalui dari Embung Besakih ini diawal vegetasinya cukup rapat. Jadi nggak langsung terpapar sinar matahari. Meski sebenarnya cuaca juga nggak panas-panas banget. Bahkan sesekali turun kabut. Adem. Bikin Ngantuk. Bawaannya pengen tidur :O

gunung agung bali
Hutan yang diselimuti kabut

Kecepatan mendaki saya benar-benar berada pada tempo yang sangat lambat. Nafas nggak beraturan. Irama langkah kaki ngaco. Banyak break. Banyak ngeluh pula. Parah pokoknya kala itu. Ketika yang lain sudah sampai area camp sekitar jam 3 – 5 sore. Sementara saya menikmati sunset di perjalanan bersama beberapa peserta lain yang jalannya kek keong juga. Untungnya medan sudah mulai terbuka, sehingga saya dapat menyaksikan sunset yang cantik.

gunung agung bali
Matahari mulai terbenam

Jam 18.30 saat hari sudah gelap, saya baru sampai di area camp. Ekspektasi memang kadang tak sesuai dengan realita. Awalnya saya berharap langsung geletak tiduran begitu sampai camp area. Tapi ternyata saya masih harus mencari lapak untuk mendirikan tenda. Hana dan beberapa teman satu regu yang lain sudah jaketan kedinginan menunggu saya karena tenda ada di carier saya. Hehehe. Maapkeun.

gunung agung bali
Semburat jingga penanda waktu senja

Setelah puter-puter cari lapak, ternyata tanah datar untuk mendirikan tenda sudah tak tersisa. Walhasil saya ingin turun lagi aja dan ngecamp di pantai! Heuheu! Daripada terlantar nggak jelas. Lalu kami memutuskan untuk berpencar dan nimbrung di tenda peserta lain. Dan alhamdulillah saya bersyukur banget salah satu peserta, Tony, mempersilahkan kami tidur di tendanya. Sedangkan dia sendiri join dengan teman 1 regunya. Aktivitas dilanjut makan bareng temen regu. Nikmatnya saya tinggal sedia piring saja, karena ada Oma, Hana, Sherly dan Anin yang punya kendali urusan dapur. Enaknya kalau naik gunung bareng cewek itu ada yang masakin. Seringnya saya naik gunung batangan semua, boro-boro ada yang masakin. Ujung-ujungnya masak sendiri, mana nggak ada bisa masak. Tapi kalau di gunung mah makanan kek gimana pun terasa enak kok. Betul betul? Setelah berjam-jam tertunda, akhirnya saya bisa meluruskan seluruh badan. Waktunya molooooor!

Keesokan paginya saya terbangun oleh teriakan Paimo, yang memang dari hari sebelumnya juga begitu katanya. Tukang bangunin peserta. Yang bikin ngakak, dia bangunin sambal teriak “TARAHU TARAHU TARAHUUU!”. Udah kek mamang-mamang yang lagi jualan tahu. Ngakak lah pokoknya kalau inget moment ini.

30 menit setelah dibangunin Paimo, tepatnya jam 4.30 kami sudah siap untuk melakukan summit attack! Nggak seperti saat awal keberangkatan yang loyo banget, kala itu saya lumayan fresh karena sudah melampiaskan rasa lelah dengan molor beberapa jam. Ditengah gelap dan dinginnya malam, kami seluruh peserta dan panitia mendaki menuju Puncak Gunung Agung. Bismillahirrohmanirrohim!

Perjalanan menuju puncak cukup singkat namun sangat menguras tenaga karena medannya yang nanjak terus! Ya sama seperti gunung lainnya, kalau udah deket puncak nanjaknya kek gimana. 1,5 jam yang saya butuhkan untuk sampai di puncak dan disambut oleh golden sunrise yang sungguh-sungguh EPIC! Warna kuning kemerah-merahan serta paparan hangat sinarnya selalu saya rindukan tiap kali mendaki gunung.

gunung agung bali
EPIC!

Puncak sudah dipenuhi oleh antrian peserta yang ingin foto bareng Wa Bongkeng, sang legenda pergunungan Indonesia. Ini kesekian kalinya saya bertemu Wa Bongkeng, tapi untuk pertama kalinya dapat mendaki bersama beliau. Saya sungguh kagum pada beliau. Di umur yang sudah tidak muda lagi, dia tetap menggeluti hobinya dikegiatan outdoor. Meski tidak berkata secara langsung, beliau membuktikan dan seolah berujar bahwa kalau ada kemauan, umur bukanlah batasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Apalagi hobi. Asal semangat tetap terjaga, mimpi itu dapat diraih. Tentu dengan disertai usaha dan do’a. Push your limit!

gunung agung bali
Di puncak bareng Wa Bongkeng

Wa Bongkeng memang luar biasa. Sehat selalu uwa, tetap menginspirasi!

Dokumentasi lainnya:

gunung agung bali
Memandang Gunung Batur

gunung agung bali
Banyak banget kan yang ikut

gunung agung bali
Kalau ini pas lagi turun

gunung agung bali
Indonesia si Negeri Dongeng :D


gunung agung bali
Makbar penutup acara

Dokumentasi dari Bang Wildan, Jurnalis Metro TV yang ikut event