Tuesday, October 10, 2017

Mendaki Gunung Agung Bersama Para Legenda

gunung agung bali


Assalamu'alaikum wr. wb. semuanyaaaaa!!

Sebelumnya saya mohon maaf karena nggak pernah update lagi. Tahun 2017 blog ini benar-benar kek kuburan. Sampai bulan April saja saya cuma posting 4 tulisan. Eh setelah itu lebih parah lagi. Sejak April sampai Oktober ini saya nggak pernah posting apapun. 5 bulan berarti yah? Parah banget! Sampai-sampai ada komentar disalah satu tulisan yang bertanya sesuatu, saya baru jawab beberapa bulan setelahnya :( InshaAllah mulai saat ini saya tidak akan membiarkan blog ini terbengkalai lagi. Huhuhu.

Oke langsung saja saya mau bercerita pengalaman naik gunung lagi..

Berawal dari ajakan seorang teman, Hana, untuk ikut pendakian gunung bersama Kang Bongkeng yang diselenggarakan oleh Eiger. Mendengar ajakan itu saya langsung menyerbu teman saya dengan pertanyaan. Kapan eventnya? Mendaki di gunung mana? Biaya registrasinya berapa? Saya sangat antusias. Bagaimana tidak? Kang Bongkeng adalah seorang legenda hidup yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia pendakian gunung. Beliau merupakan anggota WANADRI dan sekarang berada dalam team EAST EIGER. Kesempatan untuk mendaki bersama beliau adalah hal yang langka, maka saat mendengar kabar tersebut seketika saya jungkir balik.

Kabar yang diperoleh teman saya ini ternyata dari adminnya EIGER, mbak Didy, namun baru sekedar bilang “eventnya nanti pertengahan bulan Mei di Gunung Agung”. Pas banget! Saya belum pernah ke Gunung Agung. Untuk tanggalnya menunggu publikasi resmi di social media EIGER. Selang seminggu teman saya kembali memberi kabar bahwa poster event mendaki Bersama kang bongkeng sudah muncul. Seketika saya langsung mencari informasinya di OA Instagram EIGER.

Gak pake lama, saya langsung registrasi. Eventnya sendiri pada tanggal 19 – 21 Mei 2017 lalu, hari Jum’at sampai Minggu. Saya dan Hana janjian berangkat bareng di hari kamisnya naik kereta ke Banyuwangi, terus estafet nyebrang ke Bali naik kapal pelni dan lanjut ngebus ke Denpasar. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Saya terancam batal ikut event akibat ada urusan kampus yang belum terselesaikan. Nggak mau rugi karena udah bayar biaya regist, saya tanya mbak Didy perihal ini. Dan untungnya mendaki Gunung Agung dilakukan di Sabtu pagi dan Jum’atnya itu camp di Embung Besakih dengan diisi materi tentang pendakian gunung. Hana tetap berangkat hari kamis sore dan dapat barengan dari Bangil, Om Juned. Sedangkan saya Jum’at sore baru berangkat dari Malang.

gunung agung bali
Eiger Sunset Road – Embung Besakih. Saya ditinggal :(

Singkat cerita dengan melewati segala rintangan, akhirnya saya sampai di Embung Besakih Sabtu jam 9 pagi. Saat itu masih dalam materi navigasi darat. Telat 1 jam saja saya bakal ketinggalan rombongan, karena jam 10 mulai berangkat mendaki Gunung Agung. Jujur saat itu saya masih capek. Setelah perjalanan panjang Malang – Besakih selama 18 jam non-stop, tubuh rasanya seolah mengajak istirahat untuk beberapa jam. Tapi saya harus mengikuti rangkaian acara yang telah terjadwal. Jeda 1 jam tersisa pun saya gunakan untuk packing ulang. Pupus sudah harapan untuk gogoleran sejenak. Heuheu. Saya hanya bisa berdoa semoga tubuh ini mampu untuk mendaki.

Ternyata bukan hanya Wa Bongkeng legenda pergunungan yang hadir disana. Hadir juga Kang Galih, Paimo, Kang Mamay dan Kang Kwecheng yang merupakan bagian dari team EAST EIGER. Yang tak diduga ternyata ada Ramon Y. Tungka! Luar biasa! Tema eventnya memang “mendaki bareng Kang Bongkeng”, tapi tak disangka banyak legenda lainnya. Bener-bener nggak rugi deh ikut event ini. Tapi yang bikin lebih kaget lagi adalah ketemu teman SMP yang semenjak lulus tak pernah berjumpa! Si Dik-dik urang Cikijing. Kenapa juga bisa ketemu di eventnya Eiger, di Bali pula. Ngakak! Haha!

gunung agung bali
Noh Bang Ramon

Sebelum mendaki, kami mendapat briefing dari panitia. Dari sekian banyaknya peserta (sekitar 50 orang), dibagi beberapa regu saat mendaki. Tiap regu berisi 8 – 12 orang, plus 1 orang guide. Jalur Embung Besakih ini jalur alternatif dari 2 jalur lainnya yaitu Pura Besakih dan Pura Pasar Agung. Menurut penuturan Bli Komang, guide kami, jalur Embung Besakih ini lebih singkat waktu perjalanannya. Saya pun terlarut dalam kata-katanya, lebih singkat waktu perjalanan = cepat sampai lalu tidur :D

gunung agung bali
Regu 3!
(dari kiri: Sherly, pacarnya sherly, Hana, Angie, Anin, Aing :D, Oma, Kang Galih & Bli Komang

Namun waktu perjalanan yang singkat pun ada konsekuensinya, jalurnya nanjak terus tanpa ampun! MasyaAllah! Mana badan belum sempat diistirahatkan. Langsung dibawa mendaki rasanya lebih baik turun lagi dan mending ngecamp di pantai. Heuheu. Awalnya sih semangat. Pake nyanyi-nyanyi lah. Nyemangatin teman satu regu yang diawal perjalanan sering minta break. Padahal mah saya juga butuh disemangatin. Hikz.

Regu saya berangkat ke – 3, selang 10 – 15 menit tiap regu. Pada 1 – 2 jam awal kami masih bareng terus. Tapi lama-kelamaan udah mulai kepencar-pencar. Yang jalannya cepet udah di depan nggak kelihatan. Saya paling belakang sendiri, nimbrung sama regu lain. Malah disalip sama Wa Bongkeng yang berangkatnya belakangan. Meski umur udah nggak muda lagi, jiwa dan semangatnya masih muda. Luar biasa uwa! Saya jadi isin euy. Pada suatu ketika, tahu-tahu saya sudah berada di rombongan terakhir bareng beberapa panitia yang jadi sweeper. Hahaha. Menyedihkan T_T

gunung agung bali
Break! Saya curi-curi kesempatan buat tidur :p

Medan yang dilalui dari Embung Besakih ini diawal vegetasinya cukup rapat. Jadi nggak langsung terpapar sinar matahari. Meski sebenarnya cuaca juga nggak panas-panas banget. Bahkan sesekali turun kabut. Adem. Bikin Ngantuk. Bawaannya pengen tidur :O

gunung agung bali
Hutan yang diselimuti kabut

Kecepatan mendaki saya benar-benar berada pada tempo yang sangat lambat. Nafas nggak beraturan. Irama langkah kaki ngaco. Banyak break. Banyak ngeluh pula. Parah pokoknya kala itu. Ketika yang lain sudah sampai area camp sekitar jam 3 – 5 sore. Sementara saya menikmati sunset di perjalanan bersama beberapa peserta lain yang jalannya kek keong juga. Untungnya medan sudah mulai terbuka, sehingga saya dapat menyaksikan sunset yang cantik.

gunung agung bali
Matahari mulai terbenam

Jam 18.30 saat hari sudah gelap, saya baru sampai di area camp. Ekspektasi memang kadang tak sesuai dengan realita. Awalnya saya berharap langsung geletak tiduran begitu sampai camp area. Tapi ternyata saya masih harus mencari lapak untuk mendirikan tenda. Hana dan beberapa teman satu regu yang lain sudah jaketan kedinginan menunggu saya karena tenda ada di carier saya. Hehehe. Maapkeun.

gunung agung bali
Semburat jingga penanda waktu senja

Setelah puter-puter cari lapak, ternyata tanah datar untuk mendirikan tenda sudah tak tersisa. Walhasil saya ingin turun lagi aja dan ngecamp di pantai! Heuheu! Daripada terlantar nggak jelas. Lalu kami memutuskan untuk berpencar dan nimbrung di tenda peserta lain. Dan alhamdulillah saya bersyukur banget salah satu peserta, Tony, mempersilahkan kami tidur di tendanya. Sedangkan dia sendiri join dengan teman 1 regunya. Aktivitas dilanjut makan bareng temen regu. Nikmatnya saya tinggal sedia piring saja, karena ada Oma, Hana, Sherly dan Anin yang punya kendali urusan dapur. Enaknya kalau naik gunung bareng cewek itu ada yang masakin. Seringnya saya naik gunung batangan semua, boro-boro ada yang masakin. Ujung-ujungnya masak sendiri, mana nggak ada bisa masak. Tapi kalau di gunung mah makanan kek gimana pun terasa enak kok. Betul betul? Setelah berjam-jam tertunda, akhirnya saya bisa meluruskan seluruh badan. Waktunya molooooor!

Keesokan paginya saya terbangun oleh teriakan Paimo, yang memang dari hari sebelumnya juga begitu katanya. Tukang bangunin peserta. Yang bikin ngakak, dia bangunin sambal teriak “TARAHU TARAHU TARAHUUU!”. Udah kek mamang-mamang yang lagi jualan tahu. Ngakak lah pokoknya kalau inget moment ini.

30 menit setelah dibangunin Paimo, tepatnya jam 4.30 kami sudah siap untuk melakukan summit attack! Nggak seperti saat awal keberangkatan yang loyo banget, kala itu saya lumayan fresh karena sudah melampiaskan rasa lelah dengan molor beberapa jam. Ditengah gelap dan dinginnya malam, kami seluruh peserta dan panitia mendaki menuju Puncak Gunung Agung. Bismillahirrohmanirrohim!

Perjalanan menuju puncak cukup singkat namun sangat menguras tenaga karena medannya yang nanjak terus! Ya sama seperti gunung lainnya, kalau udah deket puncak nanjaknya kek gimana. 1,5 jam yang saya butuhkan untuk sampai di puncak dan disambut oleh golden sunrise yang sungguh-sungguh EPIC! Warna kuning kemerah-merahan serta paparan hangat sinarnya selalu saya rindukan tiap kali mendaki gunung.

gunung agung bali
EPIC!

Puncak sudah dipenuhi oleh antrian peserta yang ingin foto bareng Wa Bongkeng, sang legenda pergunungan Indonesia. Ini kesekian kalinya saya bertemu Wa Bongkeng, tapi untuk pertama kalinya dapat mendaki bersama beliau. Saya sungguh kagum pada beliau. Di umur yang sudah tidak muda lagi, dia tetap menggeluti hobinya dikegiatan outdoor. Meski tidak berkata secara langsung, beliau membuktikan dan seolah berujar bahwa kalau ada kemauan, umur bukanlah batasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Apalagi hobi. Asal semangat tetap terjaga, mimpi itu dapat diraih. Tentu dengan disertai usaha dan do’a. Push your limit!

gunung agung bali
Di puncak bareng Wa Bongkeng

Wa Bongkeng memang luar biasa. Sehat selalu uwa, tetap menginspirasi!

Dokumentasi lainnya:

gunung agung bali
Memandang Gunung Batur

gunung agung bali
Banyak banget kan yang ikut

gunung agung bali
Kalau ini pas lagi turun

gunung agung bali
Indonesia si Negeri Dongeng :D


gunung agung bali
Makbar penutup acara

Dokumentasi dari Bang Wildan, Jurnalis Metro TV yang ikut event